Tahap Perkembangan Anak : 6 Ciri Anak Hiperaktif

Tahap Perkembangan Anak : 6 Ciri Anak Hiperaktif

Berbicara soal hiperaktif pada anak, kekhawatiran orang tua pastilah sangat tinggi, bahkan orang tua cenderung panik ketika anaknya dinyatakan hiperaktif. Pada dasarnya anak memang cenderung aktif bahkan hiperaktif. Keaktifan anak didukung oleh pertumbuhan fisik yang semakin besar dan perkembangan pemahaman yang semakin meningkat. Pertumbuhan dan perkembangan itulah yang mendorong rasa penasaran anak semakin meningkat, rasa ingin mencoba pada hal-hal baru yang ditemuinya yang mendukung anak untuk hiperaktif.

Namun, dengan penjabaran di atas tidak berarti orangtua harus terlena akan pertumbuhan dan perkembangan anak, ada juga yang harus diperhatikan dalam hal hiperaktif pada anak. Yang menjadi perhatian serius dalam hiperaktif pada anak apabila hiperaktif anak itu sudah di luar batas-batas kewajaran anak dan harus ditangani lebih khusus.

Di bawah ini ada beberapa ciri-ciri anak hiperaktif yang harus diperhatikan lebih serius oleh orang tua.

  1. Tidak Fokus

Misalnya, anak Anda hiperaktif. Maka, kebanyakan dari kegiatan yang sedang dia lakukan tidak bisa bertahan lama. Saat dia bermain bola, kemudian ada anak lain yang melintas di depan sambil membawa balon, dia akan membuang bolanya dan ikut bermain balon bersama anak lain. Begitu ada anak lain yang berbeda, dia bisa mengalihkan perhatiannya untuk mengikuti anak tersebut. Anak hiperaktif tidak bisa bertahan diam lebih dari 5 menit. Anak ini juga suka berteriak-teriak tidak jelas, berbicara semaunya, juga memiliki sikap-sikap yang tidak mudah dipahami oleh anak lainnya.

2. Sifat Menentang

Anak hiperaktif lebih sulit dinasehati dari pada anak non-hiperaktif. Misal, ia sedang bermain naik turun tangga dan kita memintanya untuk berhenti, ia akan diam saja atau justru malah marah dengan tetap melanjutkan bermain.

3. Destruktif

Sebagai perusak ulung, anak hiperaktif  harus dijauhkan dari ruangan yang banyak benda-benda berharga atau barang pecah belah dan sejenisnya. Sikap yang suka melempar – lempar, menghancurkan dan memecahkan barang inilah yang disebut destruktif.

4. Tidak Mengenal Lelah

Tidak akan tampak kelelahan saat ia bermain maupun setelah ia bermain. Setiap hari berlari, berjalan dan melakukan kegiatan tanpa tujuan jelas, dan bergerak terus adanya.

5. Tanpa Tujuan Jelas

Anak aktif membuka buku untuk dibaca, anak hiperaktif membuka buku untuk disobek, dilipat-lipat, atau dibolak-balik saja tanpa membaca, tanpa tujuan yang jelas.

6. Bukan Penyabar yang Baik Dan Usil

Sering saat bermain, ia dengan tidak sabar mengambil mainan dengan paksa. Tidak suka jika menunggu giliran bermain. Suka mendorong, mencubit, atau memukul tanpa alasan.

Anak hiperaktif memiliki kelebihan disamping kekurangannya itu. Tentunya orang tua sangat diharapkan lebih menaruh perhatian khusus kepada anak hiperaktif. Bukan berarti melebihkan dari anak lainnya, tetapi harus mendidik dengan cara yang berbeda dengan biasanya.

Dengan ciri-ciri anak hiperaktif di atas itu pula orangtua bisa lebih memahami dan membedakan mana anak hiperaktif dan mana anak autis, karena di masyarakat umum anak hiperaktif cenderung disebut juga anak autis.

Dibawah ini saya akan sedikit kupas perbedaan anak autis dengan anak hyperaktif. Anak autisme cenderung kurang mampu berkonsentrasi dan sangat sukar diarahkan untuk melakukan tugas-tugas tertentu. Aktivitas yang dilakukan lebih berdasar karena dorongan kemauan dari dalam dirinya. Aktivitas bermainnya biasanya cenderung monoton dan bersifat pasif, tidak mampu bermain interaktif dan imaginatif dengan teman bermainnya, seperti main dagang-dagangan, perang-perangan, pura-pura jadi guru, dokter dsb. Mereka juga sangat sukar berganti mainan, cenderung memainkan mainan dan permainan yang sama sendirian, diulang-ulang, rutin dan bersifat stereotipik. Sementara anak hiperaktif konsentrasinya memang terbatas juga dan sangat mudah sekali teralih perhatiannya pada aktivitas lain yang lebih baru, namun lebih mudah untuk diarahkan melakukan suatu tugas sederhana meskipun sering tidak selesai. Aktivitasnya yang seperti didorong mesin memang menjadi ciri paling khas dari hiperaktif, seperti tidak mengenal rasa lelah, cenderung tidak dipikir dan sering impulsif seperti tidak sabaran segalanya mau serba cepat, tidak mau menunggu giliran dan semua keinginannya harus diikuti. Mereka justru sangat mudah bosan dan selalu ingin berganti-ganti mainan, serta masih mampu bermain interaktif dan imaginatif.

Dalam segi aspek sosial dan emosi anak dengan gejala autisme, minat sosialisasinya sangat rendah. Mereka lebih asyik untuk bermain sendiri dan tidak peduli dengan lingkungan sosialnya. Biasanya mereka justru terganggu apabila ada intervensi dari lingkungannya dan cenderung menghindari kontak mata, merasa tidak nyaman apabila disentuh dan dipeluk. Respons emosinya sering tidak terduga, kadang kadang cuek tetapi bisa suatu saat respons emosinya terlalu berlebihan. Biasanya kalau sudah marah sangat sukar untuk diredakan. Bahkan ada beberapa anak autis yang tahan menangis berjam-jam.
Sementara minat untuk bersosialisasi yang ditunjukkan anak yang hiperaktif masih normal, tetapi karena impulsivitas dan agresivitasnya mereka sering jadi ‘troublemaker’ sehingga sering dihindari dan dijauhi teman-teman bermainnya. Kontak mata kadang-kadang masih dilakukan, masih mau disentuh, masih menyukai pelukan. Emosinya cenderung meledak-ledak, tetapi masih lebih mudah untuk diredakan dengan bujuk rayuan.

Blog

Leave a Reply

Leave a Reply