Bullying pada anak mempunyai efek yang panjang pada kesehatan mental

Bullying pada anak mempunyai efek yang panjang pada kesehatan mental

Bullying dapat memiliki efek yang berkelanjutan pada kesehatan mental seseorang. Sebuah studi baru menemukan bahwa anak-anak yang sering diganggu ketika mereka berusia 8 tahun lebih memungkinkan mendapat gangguan kejiwaan yang membutuhkan perawatan sebagai orang dewasa, dibandingkan dengan anak-anak yang tidak diganggu. Para ilmuwan juga menemukan bukti kuat bahwa anak anak yang sering diganggu akan menempatkan anak-anak pada resiko tinggi untuk depresi sebagai dewasa muda, menurut penelitian psikater menemukan bahwa menjadi korban intimidasi pada anak usia dini meningkatkan resiko gangguan depresi yang perlu perawatan psikiatris di kemudian hari. Studi sebelumnya telah menemukan hubungan antara bullying dan resiko yang lebih tinggi bagi masalah kesehatan mental selama masa kanak-kanak, seperti rendah diri, prestasi sekolah yang buruk, depresi dan peningkatan resiko untuk bunuh diri. Tetapi sedikit yang mengetahui tentang kesehatan psikologis jangka panjang orang dewasa yang memiliki pengalaman sebagai anak-anak pelaku bullying dan korban bullying. Sebuah studi memaparkan bahwa ketika masa kanak-kanak yang terintimidasi dalam jangka panjang  dari tahun awal sekolah sampai dewasa muda akan mengalami efek berkelanjutan pada kesehatan mentalnya pada usia dewasa yaitu pada renatng usia 8 sampai usia 29.

Dalam studi tersebut menganalisis data dimana anak ketika mencapai usia 8 terbagi menjadi 4 kelompok

  1. Anak-anak yang tidak terlibat dlam bullying (mereka bukan pengganggu atau diganggu)
  2. Anak-anak korban bullying namun tidak menggertak orang lain
  3. Anak-anak pelaku bullying tetapi bukan juga sebagai korban bullying
  4. Anak-anak pelaku bullying dan juga korban bullying

Konsekuensi kesehatan mental

Kemudian, para peneliti melihat hasil kesehatan mental anak-anak usia 16 – 29 dengan memeriksa data dari rumah sakit yang mencakup semua kunjungan kesehatan mental rawat inap dan rawat jalan, menemukan bahwa sebagian besar dari anak-anak atau 90% dari mereka yang terlibat bullying, dan diantara kelompok ini sekitar 12% telah didiagnosis dengan gangguan jiwa sebelum usia 30.

Tapi sekitar 20% dari mereka pelaku bullying sebagai anak-anak memiliki masalah kesehatan mental yang membutuhkan perawatan medis sebagai remaja atau dewasa muda dan 23% dari anak-anak yang menjadi korban bullying telah meminta bantuan untuk masalah kejiwaan sebelum usia 30.

Kelompok yanag bernasib terburuk dalam hal kesehatan mental dewasa adalah usia 8 tahun yang sering menjadi pelaku dan korban bullying dan disinilah efek yang paling buruk karena akan berkelanjutan sampai anak mencapai usia dewasa muda atau bisa lebih buruk lagi sampai usia dewasa. Maka dari itu anak-anak ini memerlukan pengobatan sejak dini karena anak-anaka ini beresiko tinggi untuk menderita depresi, gangguan kecemasan, skizoprenia, dan penyalahgunaan zat terlarang.

Ketika seorang anak merupakan pelaku dan korban bullying oleh teman-temannya sendiri, ini adalah peringatan keras. Hal ini dapat menunjukan bahwa anak itu dalam masalah kejiwaan serius dan anak-anak ini akan berada pada resiko tinggi menderita gangguan berbagai kesehatan mental nanti dimasa dewasa.

Sering ditindas oleh anak-anak lain adalah pengalaman traumatis, dan kita perlu mendapatkan pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana pentingnya menjalin pertemanan yang sehat dan pendidikan prasekolah yang baik sebagai bekal pengalaman bagi perkembangan mereka. Ketika anak-anak sering menjadi sasaran bullying hal itu mempengaruhi perkembangan sosial, emosional, dan psikologis mereka.

Pelaku dan korban bullying harus ditanggapi dengan serius oleh guru, orang tua dan teman-teman mereka karena intervensi awal dalam bullying masa kecil dapat membantu mencegah kesehatan mental jangka panjang.

Blog

Leave a Reply

Leave a Reply