Lebih Memahami anak berkebutuhan Khusus/Istimewa

Lebih Memahami anak berkebutuhan Khusus/Istimewa

Blog

Benar bahwa setiap anak yang terlahir ke dunia memiliki keunikan dan membawa beragam potensi sebagai anugerah dari Sang Penciptanya. Berbagai keunikan dan potensi inilah yang kemudian membedakannya dengan anak-anak lain. Tak ada satu anakpun yang memiliki kesamaan dalam segala aspeknya dengan anak lainnya. Namun jika dikatakan bahwa setiap anak adalah anak Gifted (anak yang memiliki bakat istimewa) maka hal itu adalah suatu klaim yang jauh dari kebenaran dan realitas sesungguhnya. Gifted atau keberbakatan istimewa adalah suatu istilah yang merujuk pada adanya satu atau beberapa potensi yang dimiliki oleh seorang anak/individu yang sifatnya diluar keumuman (extra ordinary), perkecualian (exceptional), dan di luar norma (beyond the norm) dalam hal kemampuan atau potensi bawaan.

Batasan tentang istilah keberbakatan istimewa (Giftedness)

Sampai saat ini tidak ada batasan tunggal yang merepresentasikan arti istilah gifted. Halmana karena memang tidaklah mudah untuk memberi batasan atas suatu fenomena yang kompleks seperti giftedness ini. Orang tua, guru, masyarakat, ahli, dan praktisi (khususnya di bidang psikologi dan pendidikan) pun juga memiliki beragam pemahaman atas apa yang dimaksud dengan keberbakatan istimewa (giftedness). Guna mempermudah pemahaman tentang makna istilah keberbakatan istimewa, berikut diuraikan secara singkat sejarah dan sudut pandang para ahli yang secara khusus melakukan studi dan penelitian tentang keberbakatan istimewa.

Asal muasal istilah Gifted

Di tataran publik istilah gifted pertama kali diperkenalkan oleh Sir Francis Galton (saudara sepupu pencetus teori evolusi Charles Darwin) pada tahun 1869. Gifted dalam pengertian yang diperkenalkan oleh Galton pada masa itu lebih mengacu pada suatu bakat istimewa yang tidak lazim dimiliki oleh manusia biasa yang ditunjukkan oleh seorang individu dewasa. Titik tekan konsepsi keberbakatan istimewa menurut Galton ada pada berbagai bidang. Ia memberi contoh seperti ahli kimia Madame Curie sebagai gifted chemist (ahli kimia dengan bakat luar biasa atau istimewa). Menurut Galton keberbakatan istimewa ini adalah sesuatu yang sifatnya diwariskan. Artinya keberbakatan istimewa adalah sesuatu potensi yang menurun (genetically herediter). Anak-anak yang menunjukkan suatu bentuk bakat yang istimewa ini kemudian lazim disebut sebagai gifted children.
Dalam perkembangannya, Lewis B.Terman, seorang ahli psikologi dan psikometri dari Universitas Standford di Amerika Serikat memperluas pandangan Galton tentang keberbakatan istimewa menjadi termasuk juga di dalamnya individu-individu dengan kapasitas kognitif atau intelektual yang sangat tinggi. Sebagai perumus dan originator tes intelegensi Stanford Binet, Lewis Terman benar-benar terobsesi dengan fenomena anak-anak gifted ini. Di awal tahun 1900-an ia bersama koleganya di Universitas Stanford mulai melakukan penelitian panjang tentang anak-anak gifted. Dari hasil studinya ini Terman kemudian merumuskan konsepsinya tentang arti keberbakatan istimewa atau giftedness. Ia memberikan batasan bahwa anak-anak Gifted adalah anak-anak yang memiliki kapasitas kognitif sebagaimana terukur dengan tes intelegensi Stanford Binet, berada pada kisaran skor IQ di atas 140.

Berdasarkan penelitiannya Terman juga meyakini bahwa meski anak-anak gifted ini di kemudian hari pada umumnya sukses sebagai orang-orang dewasa di berbagai bidang profesi, tetapi kesuksesan mereka tersebut tak semata disebabkan oleh karena kapasitas kognitif mereka yang sangat tinggi tetapi juga disumbangkan oleh faktor-faktor non kognitif yang mereka miliki seperti semangat, motivasi, komitmen, ketekunan, dan keberanian mengambil risiko.

Pada tahun 1926 Leta Hollingworth, seorang ahli psikologi pendidikan Amerika Serikat, merilis bukunya yang dikemudian hari menjadi salah satu buku legendaris dalam khazanah literatur tentang keberbakatan istimewa yang bertajuk âGifted Children : Their Nature and Nurture❠. Dalam buku ini ia mengemukakan pendapatnya bahwa meski potensi keberbakatan istimewa adalah sesuatu yang sifatnya menurun tetapi tanpa adanya pola pengasuhan dan ketersediaan lingkungan yang mendukung maka potensi keberbakatan istimewa tersebut hanya akan tinggal potensi, tak akan pernah teraktualisasi. Oleh karena itu pada periode 1930-an ia tampil menjadi penganjur utama tentang perlunya bagi orang tua memberikan pola asuh dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi anak-anak dengan bakat istimewa agar dapat mengaktualisasikan potensinya. Karena masifnya kampanye yang dilakukan oleh Leta Hollingworth inilah maka sejak saat itu istilah gifted selalu dipergunakan orang untuk merujuk pada potensi yang sangat tinggi yang dimiliki oleh seorang anak atau individu.

Pada dekade 1970-an, Jozeph Renzulli dari Universitas Connecticut mengajukan konsepsinya tentang keberbakatan isitmewa dalam teorinya yang terkenal kemudian sebagai The Three Rings of Giftedness. Pokok konsepsi dari teori Renzulli ini adalah keberbakatan istimewa baru akan dapat muncul dan teraktualisasikan jika terdapat 3 traits (sifat) utama yang terdapat atau muncul pada diri seorang individu. Ke-3 traits itersebut adalah :

  1. Potensi kognitif atau kapasitas intelektual yang berada pada kisaran di atas rata-rata (High Potential Ability).
  2. Dorongan atau motivasi yang kuat untuk meraih tujuan (task commitment).
  3. Kreatifitas (creativity).

Menurut Renzulli selama ketiga traits tersebut tidak dapat ditunjukkan (dimiliki) oleh seorang anak atau individu maka maka belumlah dapat disebut sebagai anak atau individu dengan bakat istimewa (gifted child). Renzulli memberi contoh bahwa Albert Einstein adalah prototipe yang sangat tepat bagi individu dengan bakat istimewa (gifted). Selain memiliki kapasitas intelektual yang sangat tinggi, Einstein juga dikenal sebagai individu yang sangat memiliki motivasi tinggi untuk meraih apa yang dia inginkan. Selain itu sifat kreatifnya juga sangat kental tatkala ia merumuskan teori relatifitasnya yang sangat terkenal (dimana pada saat itu tak banyak orang yang menyetujuinya). Di sini nampak jelas Einstein sebagai seorang jenius yang punya imajinasi dan kreatifitas diluar keumuman.

Ahli psikologi perkembangan dan psikometri kontemporer dari Amerika Serikat Linda K. Silverman juga mengajukan konsepsi tentang keberbakatan istimewa. Konsepsi yang diajukannya agak berbeda dengan ahli-ahli sebelumnya. Dalam konsepsinya yang terkenal dengan teori Asynchronous Development (perkembangan yang tidak serasi), ia menyebutkan bahwa dimensi terpenting dari adanya keberbakatan istimewa adalah adanya fenomena tumbuh kembang yang tidak serasi dalam diri seorang anak atau individu. Perbedaan utama konsepsi yang diajukan oleh Linda Silverman dengan ahli-ahli sebelumnya adalah jika ahli-ahli sebelumnya hanya melihat keberbakatan istimewa dari sudut pandang bakat atau potensi yang sangat tinggi (istimewa) yang ditunjukkan atau dimiliki oleh seorang anak atau individu, maka Linda Silverman menambahkan satu aspek lain yang sangat penting yaitu aspek emosi. Jadi selain dilihat dari sudut pandang potensi yang sangat tinggi (istimewa) yang dimiliki oleh seorang anak atau individu maka pola perkembangan anak atau individu dari aspek intelegensi, emosi, dan fisik juga sangat perlu mendapat perhatian khusus. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya ia menyebutkan bahwa ternyata pola perkembangan anak atau individu yang memiliki bakat istimewa (gifted) jauh berbeda dengan pola perkembangan anak-anak normal, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Lebih jauh konsepsi Linda Silverman ini kemudian dikembangkan oleh sekelompok orang tua, peneliti, ahli psikologi, dan pendidik yang tergabung dalam kelompok yang menamakan dirinya sebagai the Columbus Group. Menurut mereka batasan atau definisi keberbakatan istimewa adalah :

â Giftedness atau keberbakatan istimewa adalah suatu pola perkembangan yang tidak sinkron (tidak serasi; asynchronous development ) pada individu-individu tertentu, dimana didalamnya terkombinasi suatu tingkat kemampuan kognitif yang sangat maju yang disertai dengan intensitas emosi (kedalaman perasaan; emotional intensity) yang sangat kuat, yang pada akhirnya menciptakan suatu pola pengalaman dan kesadaran dalam diri individu-individu tersebut yang secara kualitatif sangat berbeda dengan anak-anak lain yang seusianya. Ketidakserasian ini akan semakin meningkat dengan semakin tingginya kapasitas intelektual yang mereka miliki. Keunikan seperti inilah yang pada akhirnya mempersyaratkan adanya suatu pola pengasuhan, pengajaran, dan pembimbingan yang khusus agar proses tumbuh kembang mereka dapat berjalan dengan optimal ❠(The Columbus Group, 1991)

Selain batasan sebagaimana diuraikan di atas juga terdapat batasan yang merujuk pada tampilan (performance) akademik yang ditunjukkan oleh seorang anak selama di sekolah. Menurut definisi ini anak-anak berbakat istimewa (gifted) adalah anak-anak yang berada pada kisaran 5%-10% teratas dilihat dari prestasi akademik yang mereka tunjukkan di sekolah. Mengacu pada definisi ini maka anak-anak yang tergolong berbakat istimewa perlu mendapatkan materi belajar dan model pembelajaran yang lebih menantang yang berbeda dengan teman-temannya. Definisi ini meski mudah dalam aplikasinya (khususnya dari aspek identifikasi) tetapi sangat kurang mendapatkan dukungan dari para ahli psikologi, khususnya karena terlalu menekankan pada aspek prestasi namun kurang mempertimbangkan aspek kepribadian dan tumbuh kembang dari anak-anak berbakat istimewa. Selain itu dalam aplikasinya standar kriteria 5%-10% teratas dalam ranah prestasi akademis juga masih diperdebatkan, khususnya dalam hal instrumen apa yang dipergunakan untuk mengukurnya.

Definisi paling mutakhir yang kini menjadi arus utama (mainstream) dan banyak disepakati oleh para ahli, baik dalam ranah psikologi maupun pendidikan adalah teori Gagne yang (terakhir) diperbaharui pada tahun 2008. Teori Gagne ini pada dasarnya menitikberatkan konsepsi keberbakatan istimewa sebagai sesuatu yang merupakan hasil interaksi antara faktor keturunan (genetic) dan faktor tumbuh kembang (developmental) yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan.

Di samping itu salah satu pokok konsepsi keberbakatan istimewa dalam teori Gagne ini adalah keberbakatan istimewa pada prinsipnya bersifat multi domain. Konsepsi inilah yang membedakan secara eksplisit antara teori Gagne dengan teori lain yang cenderung bertumpu pada konsepsi keberbakatan istimewa sebagai semata keberbakatan dalam domain intelektual. Di samping itu teori Gagne juga mendapatkan basis ilmiah yang kuat karena sejalan dengan teori intelegensi paling mutakhir yaitu teori Cattel-Horn-Carrol (2003) yang menyebutkan bahwa kecerdasan sebagai konstelasi kemampuan manusia yang bersifat hirarkis dan multi facet.

Francoys Gagné adalah ahli psikologi pendidikan (kini Professor Emeritus) dari Universitas Quebec di Montreal, Kanada. Menurutnya istilah gifted dan talents adalah dua hal yang berbeda. Dalam konsepsi Gagne, istilah Gifted lebih merujuk pada kepemilikan Potensi Istimewa di dalam satu atau lebih domain kemampuan. Sedangkan Talents adalah Prestasi Istimewa yang dalam hal ini merupakan bentuk tampilan langsung dari potensi istimewa tersebut yang merupakan hasil dari proses belajar, baik yang bersifat formal maupun informal.(Sumiharso;Center for Giftedness and Intellegence Studies).Disadur dari : https://goo.gl/xXimDY

Cara Mendidik Anak Untuk Percaya Diri

Cara Mendidik Anak Untuk Percaya Diri

Blog

Ada seorang anak yang begitu berani tampil depan umum, menari, bernyanyi dan bahkan melakukan aksinya di depan kamera. Anak tersebut terlihat percaya diri dan antusias. Tidak ada ketakutan sedikitpun di dalam raut wajah.

Namun di lain tempat, ada juga seorang anak yang penuh rasa malu. Begitu disuruh maju oleh orang tuanya, anak tersebut menolak, tidak mau maju, dan justru memegang celana orang tuanya dengan lebih kencang. Anak tersebut penuh dengan ketidakpercayaan diri, penuh dengan ketakutan.

Apakah Anda sebagai orang tua mempunyai anak seperti dua contoh di atas ? Manakah yang Anda inginkan terjadi pada anak Anda ? Sudah sangat pasti Anda menginginkan anak Anda menjadi anak seperti pada contoh pertama.

Setiap orang tua pasti  menginginkan anaknya percaya diri. Namun satu hal penting yang perlu diingat, kepercayaan diri anak berasal dari benar atau tidaknya didikan dari orang tua. Tindakan dan karakter anak benar-benar ditentukan dari proses belajar di rumah oleh orang tuanya. Jadi tentu saja, Anda sebagai orang tua perlu mengetahui cara-cara yang efektif mendidik anak untuk percaya diri :

Berikut ini cara mendidik anak untuk percaya diri :

  1. Mengajarkan Perilaku Untuk Mandiri

Mandiri bagi seorang anak mempunyai arti mampu melakukan sendiri tugas atau tanggung jawab yang dimiliki. Namun perlu diperhatikan juga tugas dan  tanggung jawab anak harus sesuai dengan usianya, bukan sesuai dengan keinginan orang tua.

Pribadi yang mandiri perlu diajarkan sejak dini pada seorang anak. Anak mulai dapat diberitahukan tugas dan tanggung jawab secara ringan dan sederhana. Misalkan, seorang anak usia empat tahun sudah mampu diajarkan cara memakai sepatunya sendiri. Pada awalnya orang tua dapat membantu, dan menunjukan cara memakai sepatu, namun setelah dicontohkan beberapa kali, anak perlu mencobanya sendiri.

Pada awalnya, biasanya seorang anak akan melakukan kesalahan, seperti tertukar memakai sepatu, ataupun tidak mampu mengikat sepatu, namun kesalahan ini membuat mereka belajar bagaimana dampak dari tindakan yang mereka lakukan. Anda sebagai orang tua dapat memberikan hukuman sesuai dengan kesalahan anak. Namun hukuman yang dilakukan harus relevan dengan usia dan pemahaman anak, juga harus dengan cara yang bijak dan tepat.

Jika anda sebagai orang tua mengajarkan hal ini dengan baik, ketika anak dewasa, anak akan menjadi mandiri dan lebih percaya diri.

 

  1. Memperbolehkan Anak untuk Mengembangkan Kreativitas

Anak sebenarnya sangat kreatif karena saat masih kecil seorang anak lebih banyak menggunakan otak kanannya dibandingkan otak kirinya. Otak kanan dominan emosi dan kreativitas pada diri seseorang. Jadi setiap anak biasanya kreatif.

Untuk membuat anak percaya diri, orang tua perlu memahami bahwa kreativitas anak perlu dikembangkan. Jangan menghalangi anak untuk mengeksplorasi hal yang ia sukai. Misalkan, seorang anak yang mempunyai kreativitas menggambar biasanya suka mencoret-coret di dinding rumah. Seringkali respon dari orang tua begitu ada kejadian ini, orang tua langsung melarang dan memarahi anak.

Jika Anda menginginkan anak Anda percaya diri, STOP marah Anda, dan bebaskan anak Anda untuk berkreativitas. Yang perlu Anda lakukan cuma mengarahkannya supaya kreativitas tetap tersalurkan namun tidak membahayakan diri dan orang lain. Berhentilah untuk mencekik dan membuang bakat anak.

 

  1. Ajari Rasa Tanggung Jawab

Tanggung jawab merupakan karakter yang sangat penting bagi perkembangan mental seorang anak. Dengan tanggung jawab, anak mampu menyelesaikan kewajibannya dan berani mengakui kesalahan apabila melakukan salah.  Dengan mengajarkan tanggung jawab, seorang anak akan menjadi seorang anak yang kuat, pemberani dan inisiatif.

Banyak contoh yang bdapat dilakukan orang tua untuk mengajari anaknya rasa tanggung jawab. Salah satu contoh yang bisa dilakukan orang tua, misalnya,  ketika anak tidak sengaja memecahkan salah satu barang pecah belah, orang tua tidak langsung spontan memarahi anak. Namun ajarkanlah anak untuk mengakui bahwa perbuatannya salah. Dan setelah anak berani mengaku salah, berikan toleransi dan pengertian bahwa lebih penting adalah kejujuran dan mau bertanggung jawab dibanding hukuman. Dengan melatih seperti ini, pastinya anak Anda akan bertanggung jawab di kemudian harinya.

 

  1. Membangun Kepercayaan dengan Orang

Anak tidak selamanya perlu perlindungan dari Anda karena suatu saat akan ada waktu-waktu dia akan harus menghadapi hidupnya sendiri. Salah satu contoh momen terdekat yang perlu dihadapinya sendiri adalah saat dia sedang berada di sekolah dan belajar di kelas. Anak Anda perlu berani untuk ditinggal bersama guru dan teman-temannya di kelas.

Oleh karena itu yang diperlukan oleh anak bukanlah perlindungan dari orang tua setiap saat. Namun yang diperlukan anak adalah rasa percaya bahwa dia mampu melakukan tugas yang sesuai dengan usianya. Rasa percaya ini akan muncul saat orang tua berani membiarkan anak untuk mencoba sebuah tugas atau tindakan yang anak sebenarnya mampu melakukannya.

Misalkan, pada saat anak berusia 5-6 tahun ( saat tingkat TK besar  atau SD) anak sudah diperbolehkan untuk mencoba menggunakan alat-alat tajam, seperti pisau kecil, atau gunting. Anak sudah mulai diperbolehkan latihan memotong kertas atau sayur-sayuran sederhana namun tetap dalam pengawasan orang tua. Tindakan ini dapat melatih hubungan kepercayaan antara anak dan orang tua sekaligus meningkatkan kepercayaan diri anak. Sikap terlalu protektof pada anak bukanlah solusi terbaik untuk menghindari bahaya, namun sebenarnya cara yang terbaik adalah mengajarkan anak untuk mencari cara mengatasi masalha dengan benar dan percaya anak mampu melakukannya.

 

  1. Berani menantang kesulitan

Anak pun perlu tantangan didalam kehidupan kecilnya. Tantangan dan hambatan yang ada justru akan melatih mereka untuk mencari solusi mengatasi tantangan dan hambatan tersebut. Saat tantangan dan hambatan anak Anda sudah terlewati, yakinlah bahwa anak Anda semakin hebat.

Mungkin saat menghadapi tantangan, anak Anda akan mengalami kesulitan. Respon yang biasa dirasakan adalah takut dan bersembunyi. Namun di saat inilah orang tua mempunyai peran yang sangat penting, yaitu doronglah anak Anda untuk berani menyelesaikan masalahnya.

Misalkan saat Anda sedang memakai sepatu, namun kesulitan memasukan kakinya, Anda dapat menyorakinya dengan semangat “ Ayo Dek, sedikit lagi kakinya masuk” bukan membantunya langsung memasukan kaki ke dalam sepatu. Tindakan mendukung anak untuk menyelesaikan kesulitannya sangat membantu pembentukan kepercayaan diri anak. Anak yang selalu menghindari proses kesulitan, ke depannya akan sulit menghindari kesulitan hidupnya.

 

  1. Ajarkan Proses Lebih Penting daripada Hasil

Proses lebih penting daripada hasil. Mau mengerjakan proses dengan baik dan tuntas merupakan karakter positif bagi anak yang mendukung kepercayaan dirinya. Dengan mementingkan proses dibanding hasil, anak  belajar untuk fokus dan berusaha semaksimal mungkin. Dan anak belajar bahwa hasil adalah bonus dari usaha yang dilakukan.

Untuk lebih mengutamakan proses, anak perlu mendapatkan dorongan positif dengan cara motivasi dan kasih sayang.  Motivasi dari orang tua sangat berperan penting dalam pelaksaanaan proses yang dilakukan anak. Bahkan jikapun anak gagal, ia memerlukan kasih sayang dan dorongan dari orang tuanya. Contoh sederha yang bisa dilakukan orang tua seperti saat anak memperlihatkan hasil ujiannya, Anda perlu mengatakan , “ Kamu hebat Nak, tingkatkan usaha kamu dan tetap semangat!!” dibandingkan  kalimat “Kapan kamu juara satu di kelas ?”

 

  1. Biarkan Anak Memiliki Kebebasan yang Cukup

Kebebasan membuat seseorang mampu berekspresi. Dengan adanya kebebasan seseorang belajar untuk bisa mengatur tindakan, tempat, dan suasana yang diinginkannya. Begitu juga yang dapat dirasakan oleh anak Anda.

Anak Anda memerlukan juga sebuah kebebasannya sebagai anak. Karena dengan adanya kebebasan, anak mampu berekspresi dan melatih kepercayaan dirinya. Cara yang paling mudah untuk memberikan kebebasan pada anak, yaitu memberikan anak Anda satu tempat dimana ia memiliki kebebasan sepenuhnya. Berikan juga padanya kesempatan untuk bermain dan mengenal diri sendiri. Biarkan mereka mengatur dunia kecil mereka sesuka hati, entah anak Anda ingin mengatur dekorasi, penyusunan mainan, ataupun foto yang ingin ditaruh ditempat bermain mereka.

 

  1. Ajari untuk optimis

Sikap optimis adalah kepercayaan diri yang tinggi dan tidak ternilai. Anak Anda membutuhkan hal ini dalam kehidupannya. Dengan adanya sikap optimis, seorang anak berani mencoba, berani maju, dan berani bangkit lagi.

Sebagai orang tua perlu mengajari anak untuk optimis, misal saat anak Anda akan mengikuti lomba lari, dan dia melihat saingannya berbadan lebih tinggi atau besar, tetap ajarkan anak Anda untuk berusaha semaksimal mungkin, yakin bahwa dia bisa. Sering gunakan kata-kata “ Kamu Bisa !!” dibandingkan “yah coba aja”   

 

  1. Berikan Dukungan Dibanding Hukuman

Hukuman dan dukungan seringkali menjadi kebingungan dari orang tua. Namun kedua hal ini tetap perlu dilakukan olah orang tua dengan porsi yang seimbang dan relevan sesuai umur anak. Namun dalam hal mendidik anak untuk percaya diri, dukungan lebih berguna daripada hukuman.

Anda sebagai orang tua akan lebih bisa memperbaiki  kesalahan anak dengan mendukung mereka. Saat Anda menapresiasi  anak dan memberi pahala kecil atas perilaku baik anak, hal tersebut akan memberikan dampak yang besar terhadap kepercayaan diri anak.

Sebaliknya, ketika orangtua selalu mengoceh pada anak untuk menyuruh membereskan mainannya, justru yang terjadi anak akan merasa lelah dan malas mengerjakan yang diperintahkan, dan bahkan lebih parah lagi anak bisa memberontak. Jika orangtua memberi pujian, mereka malah ingin melakukan dan merasa membereskan mainan adalah sesuatu yang mereka suka. Oleh karena itu, sebagai orang tua lebih seringlah memuji anak apabila anak menunjukan perilaku yang baik.

 

Jika anak Anda mengalami gangguan dalam kepercayaan diri, silakan konsultasikan pada kami

Cara Mengatasi Temper Tantrum pada Anak

Cara Mengatasi Temper Tantrum pada Anak

Blog

Bagi anda yang mempunyai anak prasekolah tiba-tiba anak anda marah dengan ekspresi yang tidak lazim seperti berbaring di lantai, berteriak teriak, menendang benda benda yang ada disekitar anda. Hal itu disebut dengan temper tantrum, kejadian alami pada anak anak usia 15 bulan hingga 4 tahun. Sikap yang ditunjukan berupa rasa tidak senang pada suatu objek atau lingkungannya. Pada umumnya temper tantrum dapat dikategorikan menjadi tiga jenis yaitu usia dibawah 3 tahun yang sering diekspresikan dengan menangis, memukul, menjerit, menendang bahkan dalam kasus yang parah adalah membentur bentur kepalanya ke tembok. kedua pada usia tiga sampai empat tahun dengan ekspresi kemarahan yang diungkapkan dengan membanting, merengek, mengkritik bahkan sampai menghentak-hentakan kaki. Terakhir adalah pada usia 5 tahun ke atas dengan mengkritik diri sendiri, memukul bahkan yang lebih parah merusak benda benda yang ada disekitarnya.

Penyebab terjadinya temper tantrum diantaranya adalah terhalangnya keinginan anak anda dalam mendapatkan sesuatu, ketika tidak berhasil dalam memenuhi keinginannya maka kemungkinan anak anda melakukan beberapa ekspresi-ekspresi kemarahan, selain itu temper tantrum dapat disebabkan oleh ketidakmampuan dalam mengungkapkan keinginan diri anak anda sehingga anak anda menuntut anda untuk memahaminya, sedangkan selanjutnya adalah perasaan tertekan yang dialami oleh anak anda sehingga melepaskan stress yang dialaminya. Salah satu contohnya adalah ketika anak anda diajak dalam suatu perjalanan yang jauh dan melelahkan, tiba tiba menginginkan sesuatu yang tidak dimengerti oleh anda. Terakhir penyebab temper tantrum adalah pola asuh orang tua yang  yang menyebabkan tantrum yaitu anak anda terlalu dimanjakan dan mendapatkan penolakan atas keinginannya. Salah satu yang harus diperhatikan adalah pola asuh orang tua. Pola asuh dapat diartikan perlakuan orang tua yang sangat mendasar. Hal yang harus diperhatikan adalah perilaku yang patut dicontoh yang ditimbulkan oleh orang tua pada anak, sehingga anak anda akan mengikuti kebiasaan anda. Selanjutnya kesadaran diri, berhubungan dengan mendorong perilaku anak dalam kesehariannya pada nilai-nilai moral. Terakhir yang tidak kalah penting adalah komunikasi antara anda dan anak. Orang tua akan menerapkan pola komunikasi yang baik dalam membentuk hubungan bersama anaknya untuk menghindari ekspresi seperti temper tantrum pada anak.

Adapun untuk anda yang kesulitan dalam menghilangkan ekspresi kemarahan anak anda (temper tantrum) maka anda dapat melakukan beberapa cara dibawah ini :

1.    Bagi anda sebagai orang tua sebaiknya bersikap tenang dalam menghadapi anak anda yang mengalami temper tantrum.
2.    Anda dapat menghiraukan anak anda sampai kemarahannya reda, berikan peringatan dengan tegas (tanpa marah) mengenai aturan yang telah disepakati bersama.
3.    Hindari memukul anak anda, lebih baik anda mendekap dengan pelukan sampai anak anda tenang.
4.    Temukan alasan kemarahan anak anda sehingga anda dapat memberikan penjelasan yang sebenarnya.
5.    Sebaiknya anda tidak menyerah ketika anak anda marah, karena anak akan melakukan tindakan yang sama ketika menginginkan sesuatu lagi.
6.    Hentikan memberikan anak anda imbalan ketika akan menghentikan kemarahannya.
7.    Anda dapat mengarahkan kemarahan anak anda pada hal hal yang positif.
8.    Anda dapat menyingkirkan benda benda yang berbahaya dari sekitar anak anda yang sedang marah.
9.    Anda harus membiasakan komunikasi yang terbuka dengan anak dan juga berikanlah pujian apabila kemarahannya telah selesai.

Ciri Menonjol Anak Autis

Ciri Menonjol Anak Autis

Blog

Dalam mendeteksi anak yang menderita autis memang tidak mudah dikarenakan butuh waktu hingga usia dua tahun untuk dapat memastikan anak benar benar mengidap autis. Bahkan beberapa penelitian, salah satunya oleh University of Missouri yang dikutip dari daily mail menunjukkan pendektesian gejala autis terkadang ditemukan pada usia tiga tahun sehingga pada usia ini dianggap terlambat dalam memberikan penanganan untuk penderita autis. Untuk itu sangat penting sekali dalam memberikan pendeteksian awal bagi anak yang mengalami autis yang terlihat pada muka terutama pada bagian mata dan juga bibir. Kasus pada anak autis biasanya berawal dari ketidakmampuan anak anda untuk belajar berjalan dan juga berbicara antara usia dua-tiga tahun, padahal jelas ini sangat terlambat dalam memberikan penanganan. Sehingga penelitian terbaru menemukan ada beberapa ciri fisik yang dapat dilihat dari anak autisme yaitu menemukannya perbedaan wajah yang menyandang autisme memiliki perbedaan terutama pada bagian bibir dan jarak antara kedua matanya.

Masih dalam penelitian yang sama menyimpulkan perkembangan wajah dan otak akan tampak berbeda bagi anak yang menyandang autis, sehingga mempengaruhi keduanya dan tidak diketahui bagaimana mekanisme yang sebenarnya. Sehingga ditemukannya penelitian yang memetakan bentuk wajah ini diharapkan orang tua dapat mendeteksi kelainan dini jika anak anak mengalami gejala autisme. Melalui deteksi dini maka akan mempermudah pendampingan sehingga pertummbuhan mental dan juga kecerdasaannya dapat disesuaikan.

Berikut adalah cara mendeteksi anak yang beresiko mengidap autisme apabila dilihat dari mata dan bibir :

  1. Pada bagian mata anak yang beresiko mengidap autisme terlihat tampak jarak yang lebih besar dari keadaan normal.
  2. Daerah pipi dan hidung seringkali memiliki jarak yang lebih dekat apalagi pada bagian tengah wajah. Ciri ini umum dialami oleh anak yang mengalami autisme yaitu bagian tengah wajah yang sempit.
  3. Selanjutnya pada bibir, pada anak yang mengidap autisme memiliki bagian lebar pada bibir dan philtrum yaitu daerah antara hidung dengan bibir sedikit lebar

Ciri tersebut berdasarkan pengamatan yang dilakukan ilmuan pada anak-anak yang mengidap autisme. Penelitian tersebut melibatkan 62 anak yang berusia 12 tahun yang dibandingkan dengan 41 anak yang tidak memiliki riwayat autisme. Penelitian ini menggunakan kamera yang dapat menghasilkan gambar 3 dimensi. Sehingga dapat disimpulkan adanya 17 titik antara lain yaitu ujung mata, bibir dan philtrum.Dengan demikian penelitian ini sekaligus menguatkan bahwa gangguan kordinasi otak pada penderita autisme memiliki peranan yang sangat besar dan terjadi bermulai pada saat di dalam kandungan bahan penelitian ini membantu untuk mengetahui faktor genetik atau lingkungan yang berpengaruh pada anak yang menderita autisme. Meskipun demikian penelitian ini masih belum dapat menemukan faktor utama yang sangat berpengaruh memicu penyakit autisme pada anak-anak apakah dipengaruhi oleh lingkungan atau genetik.

Cara Mengendalikan Emosi

Cara Mengendalikan Emosi

Blog

Pada artikel sebelumnya sudah dibahas mengenai baik buruknya emosional. Pada artikel ini saya akan membahas mengenai cara mengendalikan emosi yang berlebihan.

Sebelumnya perlu diketahui, bahwa seorang manusia tidak akan pernah terlepas dari yang namanya emosi. Emosi sudah dimiliki saat seorang manusia dilahirkan. Contohnya seorang bayi yang berusia 6 bulan sudah mulai dapat merasakan ketakutan apabila ditinggal oleh orang tua. Atau dia uga dapat merasa takut saat digendong oleh orang lain, dan dia menangis. Emosi-emosi tersebut terbentuk intuisi dan  juga respon terhadap kejadian yang terjadi di di dalam hidup setiap orang. Emosi-emosi yang dirasakan tersebut kemudian disimpan dalam pikiran bawah sadar, dan secara dominan berpengaruh terhadap tindakan seseorang.

Apabila ada pemicu yang dikenal oleh pikiran bawah sadar, maka pikiran bawah sadar mengeluarkan respon emosi yang sama seperti yang dahulu pernah dialami. Contohnya apabila waktu masih kecil seorang anak pernah dimarahi oleh gurunya dan merasa sangat takut, dan begitu dia dewasa dapat terjadi hal yang sama, dia dapat menjadi sangat takut begitu dimarahi oleh atasannya. Atau mungkin dia menjadi trauma untuk bertemu dengan gurunya tersebut.  Atau dalam contoh kasus lainnya, misalnya fobia (ketakutan yang luar biasa), keadan ini dapat terbentuk karena adanya trauma pikiran di masa lampau. Contoh,  seseorang yang mengalami ketakutan terhadap kecoa, kemungkinan besar di masa lampau dia mengalami ketakutan yang sangat kuat yang berhubungan dengan kecoa.

Beberapa contoh di atas menjelaskan bahwa emosi yang tidak dapat dipisahkan dengan manusia. Ini yang perlu dipahami lebih mendalam apabila seseorang ingin tetap bahagia dan damai di dalam hidupnya. Perlu dipahami bahwa emosi itu wajar dialami oleh setiap orang, wajar apabila seseorang bisa mengalami kesedihan, wajar apabila seseorang bisa mengalami rasa gembira, dan wajar pula apabila seseorang mengalami berbagai emosi lainnya. Namun perlu diketahui juga bahwa emosi bisa menjadi  tidak wajar apabila emosi itu sudah dirasakan secara berlebihan. Seorang yang mengalami emosi sangat sedih bisa menjadi tertekan dan depresi, seorang yang mengalami emosi sangat gembira bisa menjadi euforia dan lupa daratan. Emosi berlebihan inilah yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan dan ketidakseimbangan emosi yang berakibat terjadinya ketidakbahagiaan.

Jadi sebenarnya yang penting untuk dipelajari setiap orang adalah cara mengendalikan emosi supaya tetap stabil. Bagaimana caranya ? Ini beberapa tips yang dapat Anda lakukan di rumah untuk mengendalikan emosi Anda :

1.Sadar

Kesadaran merupakan tahap awal yang paling penting yang dibutuhkan orang untuk mengendalikan emosinya. Semua dimulai dari kesadaran. Seseorang yang mengalami emosi yang berlebihan perlu tahu emosi yang sedang dirasakannya. Cotoh, misalkan Anda entah kenapa merasa tidak semangat, lesu, dan selalu ingin menangis. Mungkin Anda perlu menyadari bahwa ada sebuah emosi sedih di dalam diri Anda. Saat Anda  merasakan sebuah emosi yang berlebihan, Anda perlu secara jujur menyadarinya dan mengakuinya. Memang tidak mudah untuk mengakui secara jujur emosi yang kita rasakan. Namun ini tahap yang paling awal yang harus Anda lalui. Dengan berlatih, maka akan menjadi terbiasa.

2.Kalibrasi

Setelah Anda menyadari emosi berlebihan yang Anda rasakan, tahap kedua yang perlu Anda lakukan adalah Kalibrasi. Kalibrasi secara sederhana berarti memberikan nilai pada emosi Anda. Misalkan, apabila Anda merasa biasa saja, netral tanpa emosi bernilai 0, dan perasaaan yang sangat sedih, sampai benar-benar tidak mampu menahan air mata memiliki nilai 10, Anda dapat mengkalibrasi berapa nilai emosi Anda saat ini. Semakin dekat dengan nilai 10 berarti intensitas emosi Anda semakin tinggi / berat, namun semakin dekat dengan 0, maka intensitas emosi Anda rendah / ringan. Kalibrasi penting untuk menentukan seberapa jauh pemulihan emosi Anda. Apabila tingkat emosi Anda awalnya tinggi (mendekati 10) dan seiring dengan perjalanan waktu, tingkat emosi Anda menjadi 2 berarti Anda mengalami kemajuan dalam mengendalikan diri.

3.Melepas emosi

Setelah Anda mengetahui nila emosi Anda dengan kalibrasi, sekaranglah baru masuk pada tahapan mengendalikan emosi, caranya adalah melepas emosi yang berlebihan. Cara untuk melepas emosi yang berlebihan banyak sekali, namun say a berikan dua cara yang menurut saya dapat membantu melepas berbagai emosi.

Cara yang pertama, yaitu melepas emosi dengan menangis. Menangis adalah suatu tindakan pelepasan emosi yang sederhana namun besar efeknya. Mengapa demikian ? Karena menangis adalah suatu tindakan di mana kita belajar jujur terhadap diri sendiri. Menangis punya arti besar, berani mengakui kelemahan, berani mengakui kekurangan, berani mengakui ketidakbisaan. Memang pada dasarnya orang susah untuk mengakui kekurangannya, orang gengsi dan malu, namun justru itulah yang menjadi beban emosinya. Itulah yang membuat emosi tidak dapat dikendalikan, emosi negatif tetap bertahan di dalam diri seseorang. Padahal, sewaktu Anda menangis, Anda menunjukkan bahwa Anda mengakui beban Anda, dan Anda mau melepasnya dengan pasrah dan ikhlas.  Apabila anda memiliki beban, silakan Anda coba, silakan menangis selama yang Anda butuhkan, dan rasakan setelah menangis Anda menjadi lega, dan emosi berlebihan Anda terlepas.

Cara yang kedua, yaitu memaafkan (forgiveness). Mungkin terlihat sederhana, namun memaafkan belum tentu semudah itu dan efeknya pun ternyata sangat besar. Memaafkan sebenarnya memiliki arti melepaskan emosi berlebihan atau emosi buruk yang terjadi di masa lalu. Dengan memaafkan berarti kita berani untuk meninggalkan emosi masa lalu yang buruk dan fokus pada masa depan kita yang penting. Memaafkan membuat seseorang bisa move on dan bergerak maju karena emosi masa lalu yang negatif sudah dilepaskan. Silakan coba untuk memaafkan secara tulus dan ikhlas dan rasakan kelegaan di dala, perasaan Anda.

4.Sugesti positif

Sebagai penutup dari pelepasan emosi, Anda berikan sugesti positif pada diri Anda. sugesti positif ini mempunyai fungsi penting sebagai program baru yang positif di dalam pikiran bawah sadar Anda menggantikan program negatif di masa lalu. Contoh dari sugesti positif seperti : “ Mulai sekarang saya mampu bangkit, saya pantas bahagia, dan saya bisa semakin maju dan sukses”. Sugesti positif ini dapat Anda pakai sehari-hari di dalam hidup Anda, Anda tinggal mengatakannya secara berulang-ulang, dan rasakan perubahannya.

Silakan  coba untuk melakukan cara-cara mengendalikan emosi di atas, dan rasakan perubahannya dalam hidup Anda.Jika Anda ingin berkonsultasi mengenai gangguan emosi yang Anda rasakan, silakan Konsultasikan pada kami

Apakah Ponsel Ditaruh di Celana Berbahaya bagi Pria?

Tanya Terapis

Menyimpan ponsel di saku celana memang sangat praktis. Namun, bagi pria, disarankan menghindari kebiasaan menyimpan ponsel di saku depan celana. Dalam sejumlah studi, paparan radiasi jangka panjang dari ponsel yang diletakkan dekat alat kelamin pria dapat merusak sperma. Salah satunya adalah menurunkan jumlah sperma. Ini tentu perlu dihindari pria yang masih ingin menjadi ayah. Dalam penelitian lainnya, ahkan disebut radiasi ponsel bisa merusak DNA sperma. Setidaknya ada 10 studi yang dikaji dan diteliti 1.492 sperma manusa. Akan tetapi, penelitian itu masih menjadi perdebatan. Sebab, hingga saat ini elum ada yang bisa memuktikan bagaimana paparan radiasi akhirnya dapat merusak kualitas sperma. Bahaya radiasi ponsel bagi kesehatan sudah sejak lama menjadi perdebatan para ahli. Ada sejumlah bukti yang mengungkap bahayanya,walau resikonya sangat kecil.

TUNALARAS : KARAKTERISTIK DAN MASALAH PERKEMBANGAN ANAK

TUNALARAS : KARAKTERISTIK DAN MASALAH PERKEMBANGAN ANAK

Blog

Pengertian Anak Tunalaras

Anak tunalaras adalah anak yang memiliki gangguan atau hambatan emosi, sehingga kurang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sering juga disebut anak tunasosial karena perilakunya cendrung menyusahkan dan menunjukan penentangan terhadap norma-norma sosial masyarakat. Didefinisikan juga oleh Kauffman (1977), anak tunalaras adalah anak yang secara kronis dan mencolok berinteraksi dengan lingkungannya dengan cara yang tidak bisa diterima oleh lingkungan sosial. Tetapi masih bisa diajarkan untuk bersikap social dan untuk dapat memiliki pribadi yang menyenangkan. Batasan usia anak tunalaras ini menurut DepDikNas (1997:13) dari usia 6-17 tahun.Perkembangan yang terjadi pada diri anak tunalaras, tidak jauh berbeda dengan anak-anak yang tidak memiliki ketunalarasan. Hanya saja akibat dari gangguan emosi yang ia miliki, berpengaruh terhadap segi kognitif, kepribadian, dan sosial anak. Dimana pada segi kognitif anak kehilangan minat dan konsentrasi belajar, dan beberapa anak mempunyai ketidakmampuan bersaing dengan teman-temannya. Kepibadian anak tunalaras tidaklah dinamis, secara psikofisis (fisik dan kejiwaan) memiliki cara yang berbeda dengan anak lain dalam menyesuaikan diri. Baik dengan lingkungan maupun dengan dirinya sendiri. Sehingga secara sosial perilakunya kurang bisa diterima karena cendrung menyimpang dari norma-norma yang ada, serta tak jarang merugikan,menyakiti dirinya sendiri atau pun orang lain.

Klasifikasi Anak Tunalaras

Secara garis besar anak tunalaras dapat diklasifikasikan menjadi anak yang mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan anak yang mengalami gangguan emosi. Sehubungan dengan itu, William M.C (1975:567) mengemukakan kedua klasifikasi tersebut antara lain sebagai berikut:

1.Anak yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial:

  • The Semi-socialize child

Anak yang termasuk dalam kelompok ini dapat mengadakan hubungan sosial tetapi terbatas pada lingkungan tertentu. Misalnya: keluarga dan kelompoknya. Keadaan seperti ini datang dari lingkungan yang menganut norma-norma tersendiri, yang mana norma tersebut bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat. Dengan demikian anak selalu merasakan ada suatu masalah dengan lingkungan di luar kelompoknya.

  • Children arrested at a primitive level of socialization

anak pada kelompok ini dalam perkembangan sosialnya, berhenti pada level atau tingkatan yang rendah. Mereka adalah anak yang tidak pernah mendapat bimbingan kearah sikap sosial yang benar dan terlantar dari pendidikan, sehingga ia melakukan apa saja yang dikehendakinya. Hal ini disebabkan karena tidak adanya perhatian dari orang tua yang mengakibatkan perilaku anak di kelompok ini cenderung dikuasai oleh dorongan nafsu saja. Meskipun demikian mereka masih dapat memberikan respon pada perlakuan yang ramah.

  • Children with minimum socialization capacity,

anak kelompok ini tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk belajar sikap-sikap sosial. Ini disebabkan oleh pembawaan/kelainan atau anak tidak pernah mengenal hubungan kasih sayang sehingga anak pada golongan ini banyak bersikap apatis dan egois.

2.Anak yang mengalami gangguan emosi, terdiri dari:

  • Neurotic behavior ( perilaku neurotik )

Anak pada kelompok ini masih bisa bergaul dengan orang lain akan tetapi mereka mempunyai masalah pribadi yang tidak mampu diselesaikannya. Mereka sering dan mudah dihinggapi perasaan sakit hati, perasaan cemasmarah,agresif dan perasaan bersalah. Di samping itu kadang mereka melakukan tindakan lain seperti mencuri dan bermusuhan. Anak seperti ini biasanya dapat dibantu dengan terapi seorang konselor. Keadaan neurotik ini biasanya disebabkan oleh sikap keluarga yang menolak atau sebaliknya, terlalu memanjakan anak serta pengaruh pendidikan yaitu karena kesalahan pengajaran atau juga adanya kesulitan belajar yang berat.

  • Children with psychotic processes

Anak pada kelompok ini mengalami gangguan yang paling berat sehingga memerlukan penanganan yang lebih khusus. Mereka sudah menyimpang dari kehidupan yang nyata, sudah tidak memiliki kesadaran diri serta tidak memiliki identitas diri. Adanya ketidaksadaran ini disebabkan oleh gangguan pada sistem syaraf sebagai akibat dari keracunan, misalnya minuman keras dan obat-obatan.

3.Faktor – faktor Penyebab Ketunalarasan

  • Kondisi / Keadaan Fisik

Hasil penelitian , Gunzburg ( dalam Simanjuntak,1947 ) menyimpulkan bahwa disfungsi kelenjar endokrin merupakan salah satu penyebab timbulnya kejahatan. Kelenjar endokrin ini mengeluarkan hormone yang mempengaruhi tenaga seseorang. Bila secara terus menerus fungsinya mengalami gangguan, maka dapat berakibat terganggunya fisik dan mental seseorang sehingga akan berpengaruh terhadap perkembangan wataknya

  • Masalah Perkembangan

Di dalam menjalani setiap fase perkembangan individu, sulit untuk terhindar dari berbagai konflik. Mengenai hal ini , Erikson ( Dalam Singgih D. Gunarsa, 1985 : 107 ) menjelaskan bahwa setiap memasuki fase perkembangan baru, individu dihadapkan pada berbagai tantangan atau krisis emosi. Anak biasanya dapat mengatasi krisis emosi ini jika pada dirinya tumbuh kemempuan baru yang berasal dari adanya proses kematangan yang menyertai perkembangan. Apabila ego dapat mengatasi krisis ini, maka perkembangan ego yang matang akan terjadi sehingga individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan social atau masyarakatnya, sebaliknya apabila individu tidak berhasil menyelesaikan masalah tersebut maka akan menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku. Konflik emosi ini terutama terjadi pada masa kanak – kanak dan masa pubertas. Jiwa anak yang masih labil pada masa ini banyak mengandung resiko berbahaya, jika kurang mendapat bimbingan dan pengarahan dari orang dewasa maka akan mudah terjerumus pada tingkah laku menyimpang.

  • Lingkungan Kerja

Keluargalah peletak dasar perasaan aman ( emotional security ) pada anak, dalam keluarga pula anak memperoleh pengalaman pertama mengenai perasaan dan sikap sosial.

Berikut ini beberapa aspek yang terdapat dalam lingkungan keluarga yang berkaitan dengan masalah gangguan emosi dan tingkah laku :

  1. Kasih sayang dan perhatian
  2. Keharmonisan keluarga
  3. Kondisi ekonomi

  • Lingkungan Sekolah

Sekolah merupakan tempat pendidikan yang kedua bagi anak setelah keluarga. Tanggungjawab sekolah tidak hanya sekadar membekali anak didik dengan sejumlah ilmu pengetahuan, akan tetapi sekolah juga bertanggungjawab membina kepribadian anak didik sehingga menjadi seorang dewasa yang bertanggungjawab baik terhadap dirinya maupun terhadap lingkungan masyarakat yang luas.

Timbulnya gangguan tingkah laku antara lain berasal dari guru dan fasilitas pendidikan.

  • Lingkungan Masyarakat

Menurut Bandura ( dalam Kirk & Gallagher,1986) salah satu hal yang nampak mempengaruhi pola perilaku anak dalam lingkungan sosial adalah keteladanan, yaitu meniru perilaku orang lain.Di samping pengaruh – pengaruh yang bersifat positif, di dalam lingkungan masyarakat juga terdapat banyak sumber yang merupakan pengaruh negatif yang dapat memicu munculnya perilaku menyimpang.

4.Perkembangan Kognitif Anak Tunalaras

Anak tunalaras memiliki kecerdasan yang tidak berbeda dengan anak – anak pada umumnya. Kegagalan dalam belajar di sekolah seringkali menimbulkan anggapan bahwa mereka memiliki inteligensi yang rendah.

Mengenai hal ini Ny. Singgih Gunarsa ( 1982 ) mengemukan bahwa kecemasan dirinya berbeda dengan kelompoknya menimbulkan kesulitan pada anak dengan  cara penyelesaian yang seringkali tidak sesuai dengan cara penyelesaian yang wajar.

Ketidakmampuan anak untuk bersaing dengan teman – temannya dalam belajar dapat menjadikan anak frustasi dan kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri sehingga anak mencari kompensasi yang sifatnya negatif, misalnya membolos, lari dari rumah, berkelahi dan mengacau dalam kelas.

5.Perkembangan Kepribadian Anak Tunalaras

Kepribadian merupakan suatu struktur yang unik, tidak ada individu yang memiliki kepribadian yang sama. Para ahli mendefinisikan kepribadian sebagai suatu organisasi yang dinamis pada sistem psikofisis individu yang tutut menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Kepribadian akan mewarnai peranan dan kedudukan seseorang dalam berbagai kelompok dan akan mempengaruhi kesadaran sebagai bagian dari kepribadian akan dirinya. Dengan demikian kepribadian dapat menjadi penyebab seseorang berperilaku menyimpang.Tingkah laku yang ditampilkan seseorang ini erat sekali kaitannya dengan upaya memenuhi kebutuhan hidupnya.

Konflik psikis dapat terjadi apabila terjadi benturan antara usaha pemenuhan kebutuhan dengan norma sosial. Kegagalan dalam memenuhi kebutuhan menyelesaikan konflik, dapat menjadikan stabilitas emosi terganggu, selanjutnya mendorong terjadinya perilaku menyimpang dan dapat menimbulkan frustasi pada diri individu.

6.Perkembangan Emosi Anak Tunalaras

Terganggunya perkembangan emosi merupakan penyebab dari kelainan tingkah laku anak tunalaras. Ciri yang menonjol pada mereka adalah kehidupan emosi yang tidak stabil , ketidakmampuan mengekspresikan emosinya secara tepat dan pengendalian diri yang kurang sehingga mereka seringkali menjadi sangat emosional.

Pentingnya peranan emosi ini nampak melalui akibat yang muncul apabila individu kurang mendapatkan kesempatan untuk memperolah pengalaman emosional yang menyenangkan, yang biasa disebut deprivasi emosi.

Kematangan emosional seorang anak ditentukan dari hasil interaksi dengan lingkungannya, dimana anak belajar bagaimana emosi itu hadir dan bagaimana cara untuk mengekspresikan emosi – emosi tersebut. Perkembangan emosi ini berlangsung terus menerus sesuai dengan perkembangan usia, akan banyak pula pengalaman emosional yang diperoleh anak. Ia semakin banyak merasakan berbagai berbagai macam perasaan. Akan tetapi tidak demikian halnya dengan anak tunalaras. Ia tidak mampu belajar dengan baik dalam merasakan dan menghayati berbagai macam emosi yang mungkin dapat dirasakan, kehidupan emosinya kurang bervariasi dan iapun kurang dapat mengerti dan menghayati berbagai macam emosi yang mungkin dapat mengerti dan menghayati bagaiman perasaan orang lain. Ketidakstabilan emosi ini menimbulkan penyimpangan tingkah laku, misal : Mudah marah dan mudah tersinggung, kurang mampu memahami perasaan orang lain, berperilaku agresif, menarik diri, dan sebagainya.

Dalam pengelolaan pendidikan ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk memunculkan motivasi belajar bagi anak tunalaras, yaitu :

  • Pengaturan lingkungan belajar.
  • Mengadakan kerjasama dengan lembaga lain / lembaga pendidikan umumnya.
  • Tempat layanan pendidikan.

7.Perkembangan Sosial Anak Tunalaras

Sebagaimana kita pahami bahwa anak tunalaras mengalami hambatan dalam melakukan interaksi sosial dengan orang lain atau lingkungannya.

Ketidakmampuan anak tunalaras dalam melalui interaksi sosial yang baik dengan lingkungannya disebabkan oleh pengalaman – pengalaman yang tidak / kurang menyenangkan.

Dengan demikian, setiap mencapai tahapan baru, anak menghadapi krisis emosi. Apabila egonya mampu menghadapi krisis ini maka perkembangan egonya akan mengalami kematangan dan anak akan mampu menyesuaikan diri secara baik dengan lingkungan sosial dan masyarakatnya.

Gangguan emosi akan diperlihatkan dalam hubungannya  dengan orang lain dalam bentuk seperti kecemasan, agresif, dan impulsif.Anak tunalaras memiliki penghayatan yang keliru, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungan sosialnya. Mereka menganggap dirinya tidak berguna bagi orang lain dan merasa tidak berperasaan. Oleh karena itu timbullah kesulitan apabila akan menjalin hubungan dengan mereka, ingin mencoba mendekati dan menyayangi mereka, dan apabila berhasil sekalipun  mereka akan menjadi sangat tergantung kepada seseorang yang pada akhirnya dapat menjalin hubungan sosial dengannya.

8. Dampak Ketunalarasan Bagi Individu dan Lingkungan

Kelainan tingkah laku yang dialami anak tunalaras mempunyai dampak negatif baik bagi dirinya sendiri maupun lingkungan sosialnya. Salah satu dampak serius yang mereka alami adalah tekanan batin berkepanjangan sehingga menimbulkan perasaan merusak diri mereka sendiri.

Mengenai tekanan batin yang berkepanjangan ini menurut Schloss ( Kirk & Gallagher, 1986 ) disebabkan oleh hal – hal berikut :

Ketidakberdayaan yang dipelajari ( learned helplessness )

Keterampilan sosial yang minim ( Sosial skill deficiency )

Konsekuensi paksaan ( Coercive consequences )

Menghadapi keadaan di atas, kita hendaknya dapat mempengaruhi lingkungan mereka, mengajar dan menguatkan keterampilan sosial antar pribadi yang lebih efektif , serta menghindarkan mereka dari ketergantungan dan penguatan ketakberdayaan.

Bahwa perilaku menyimpang pada anak tunalaras merugikan lingkungannya kiranya sudah jelas dan seringkali orang tua maupun guru merasa kehabisan akal menghadapi anak dengan gangguan perilaku seperti ini.