Cara Merawat Anak Down Syndrome

Cara Merawat Anak Down Syndrome

Blog

Merawat anak dengan down syndrome memang tidaklah mudah. Namun sebagai orang tua, merawat anak adalah suatu kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan termasuk merawat anak dengan down syndrome. Memiliki banyak pengetahuan tentang down syndrome akan sangat membantu Anda tentang bagaimana cara merawat anak dengan down syndrome secara benar sehingga anak bisa tumbuh dengan sehat dan produktif.

Anak merupakan Anugerah dari Tuhan. Bagiamana pun kondisi anak sudah seharusnya orang tua mampu menerimanya dengan ikhlas, termasuk menerima anak dengan down syndrome. Meskipun memang bukan hal mudah, namun orang tua tetap harus berusaha ikhlas menerima kondisi yang dialami anak serta berusaha merawat anak dengan down syndrome sebaik-baiknya.

Meskipun memiliki kekurangan dengan keterbelakangan mental dan fisik, bukan berarti anak dengan down syndrome tidak bisa berprestasi. Telah banyak yang membuktikan bahwa dengan merawat serta membesarkan anak dengan down syndrome dengan penuh kasih sayang, anak bisa berprestasi bahkan sampai tingkat internasional.

Merawat anak dengan down syndrome memang bukan perkara mudah. Untuk itu beberapa cara merawat anak dengan down syndrome di bawah ini dapat Anda gunakan untuk membantu Anda merawat anak dengan down syndrome. Beberapa cara merawat anak dengan down syndrome yang bisa Anda lakukan antara lain.

Cara merawat anak dengan down syndrome:

  1. Mencari tahu tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan down syndrome

Cara merawat anak dengan down syndrome yang pertama adalah dengan mencari tahu segala sesuatu yang berhubungan dengan down syndrome. Mencari tahu tentang segala sesuatu atau infomasi yang berhubungan dengan down syndrome akan membuat Anda mendapatkan lebih banyak pengetahuan tentang down syndrome sehingga lebih mudah pula bagi Anda untuk mengetahui kebutuhan anak.

  1. Selalu memberikan kasih sayang pada anak

Cara merawat anak dengan down syndrome yang kedua adalah dengan selalu memberikan kasih sayang pada anak. Kasih sayang keluarga terutama orang tua sangat diperlukan untuk perkembangan anak. Down syndrome merupakan kondisi yang akan dialami seumur hidup, namun dengan adanya kasih sayang dari keluarga terutama orang tua dapat membuat anak dengan down syndrome hidup lebih lama, sehat dan bahagia.

  1. Mengenali bakat anak dan fokuskan anak untuk mengembangkan bakat yang dimiliki

Cara merawat anak dengan down syndrome selanjutnya adalah dengan mengenali bakat anak dan memfokuskan anak untuk mengembangkan bakat yang dimiliki. Walaupun memiliki keterbelakangan mental dan fisik, namun jika dirawat dengan benar serta dengan penuh kasih sayang, anak dengan down syndrome juga bisa berprestasi. Hal ini dibuktikan banyaknya anak dengan down syndrome yang mampu berprestasi hingga kancah internasional.

  1. Mengunjungi dokter secara rutin

Cara merawat anak dengan down syndrome berikutnya adalah dengan mengunjungi dokter secara rutin. Sebagian besar anak dengan down syndrome juga memiliki masalah dengan kesehatan. Beberapa anak memiliki penyakit jantung bawaan, kelainan otot, memiliki masalah dengan pendengaran, pengihatan maupuan menderita kanker sel darah putih (leukimia). Mengunjungi dokter secara rutin dapat membantu mengatasi penyakit yang diderita anak.

  1. Mencarikan sekolah yang cocok bagi anak

Cara merawat anak dengan down syndrome selanjutnya adalah dengan mencarikan sekolah yang cocok bagi anak. Walaupun memiliki keterbelakangan mental dan fisik, bukan berarti anak dengan down syndrome tidak boleh berpendidikan. Anak dengan down syndrome juga memiliki hak yang sama dengan anak-anak normal untuk bisa mengenyam pendidikan. Sekolah luar biasa menjadi salah satu sekolah yang cocok bagi anak dengan down syndrome yang bisa memberikan pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi anak.

  1. Bergabung dengan komunitas orang tua penyandang down syndrome

Cara merawat anak dengan down syndrome yang terakhir adalah dengan bergabung dengan komunitas orang tua penyandang down syndrome. Bergabung dengan komunitas orang tua penyandang down syndrom memiliki banyak manfaat bagi Anda, selain bisa saling berbagi serta bertukar informasi tentang bagaimana cara merawat anak dengan down syndrome, bergabung dengan komunitas juga bisa sangat membantu menghilangkan stres, melepaskan kepenatan yang ada dll.

Merawat anak dengan down syndrome memang tidaklah mudah, namun sebagai orang tua sudah menjadi kewajiban Anda untuk merawat anak Anda dengan sebaik-baiknya serta penuh kasih sayang agar anak bisa tumbuh sehat dan berprestasi.

Siapakah yang Beresiko memiliki anak dengan down syndrome?

Siapakah yang Beresiko memiliki anak dengan down syndrome?

Blog

Setiap pasangan yang telah menikah pasti menginginkan hadirnya seorang anak dalam rumah tangga mereka. Namun banyaknya angka kelahiran dengan down syndrome menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para orang tua hingga mereka bertanya-tanya, sebenarnya siapakah yang beresiko memiliki anak dengan down syndrome? Jika Anda juga memiliki pertanyaan yang sama mungkin artikel tentang “siapakah yang beresiko memiliki anak dengan down syndrome?” ini akan sangat bermanfaat bagi Anda.

Down syndrome merupakan kelainan genetik yang paling umum terjadi. Sekitar 1 dari 1000 kelahiran di dunia diperkirakan menderita down syndrome dengan angka kematian mencapai 17.000 jiwa. Down syndrome sendiri merupakan suatu kelainan yang disebabkan adanya tambahan kromosom 21. Tambahan kromosom 21 ini menyebabkan keterbelakangan fisik dan mental.

Sampai saat ini belum ditemukan apa yang menjadi penyebab down syndrome. Namun kegagalan yang terjadi pada saat proses pembelahan kromosom diyakini menjadi penyebab munculnya down syndrome ini. Selain itu, kehamilan diatas usia 35 tahun juga diyakini memperbesar resiko melahirkan anak dengan down syndrome. Lalu siapa sajakah yang beresiko memiliki anak dengan down syndrome selain kehamilan yang terjadi pada usia di atas 35 tahun?

Sebenarnya ada beberapa faktor yang memperbesar resiko memiliki anak dengan down syndrome. Beberapa faktor yang bisa memperbesar resiko memiliki anak dengan down syndrome antara lain:

  1. Usia ibu

Berdasarkan penelitian para ahli, ditemukan bahwa usia ibu yang terlalu tua saat hamil lebih beresiko melahirkan anak dengan down syndrome. Ini terkait dengan adanya perubahan hormonal yang bisa menyebabkan non-disjunction atau kegagalan pembelahan pada kromosom 21. Semakin tinggi usia ibu saat hamil semakin beresiko memiliki anak dengan down syndrome. Seorang ibu dengan usia 35 tahun memiliki resiko melahirkan anak dengan down syndrome antara 1 dari 350 kehamilan. Resiko ini akan meningkat menjadi 1 dari 100 kehamilan pada ibu yang hamil pada usia 40 tahun. Sedangkan pada ibu yang hamil saat usia 45 tahun resikonya bertambah menjadi 1 dari 30 kehamilan.

Namun pada beberapa kasus, down syndrome juga terjadi pada wanita yang hamil pada usia lebih muda, di bawah 35 tahun. Ini berarti bahwa wanita dengan usia kehamilan lebih muda juga tidak menutup kemungkinan melahirkan anak dengan down syndrome. Walaupun demikian, kehamilan pada usia di atas 35 tahun tetap harus diwaspadai karena lebih beresiko memiliki anak dengan down syndrome.

  1. Memiliki anak dengan down syndrome pada kehamilan sebelumnya.

Orang yang beresiko memiliki anak dengan down syndrome selanjutnya adalah orang yang pernah memiliki anak dengan down syndrome pada kehamilan sebelumnya. Jika Anda telah memiliki anak dengan down syndrome pada kehamilan sebelumnya, Anda juga lebih beresiko memiliki anak dengan down syndrome pada kehamilan berikutnya.

  1. Riwayat medis

Orang yang beresiko memiliki anak dengan down syndrome selanjutnya adalah orang yang memiliki riwayat medis dengan kelainan kromosom. Jika Anda maupun pasangan Anda memiliki riwayat medis dengan kelainan kromosom, maka Anda juga lebih beresiko memiliki anak dengan down syndrome. Selain itu, berdasarkan penelitian medis, jika salah satu orang tua maupun kedua orang tua memiliki down syndrome, resiko memiliki anak dengan down syndrome sebesar 35% sampai 50%.

Selain beberapa faktor yang memperbesar resiko memiliki anak dengan down syndrome di atas, pada banyak kasus down syndrome terjadi secara acak, tanpa memandang usia, gen, status sosial, bangsa maupun agama. Hingga boleh dikatakan bahwa semua orang beresiko memiliki anak dengan down syndrome.

Terapi Keledai Bantu Gadis Bisu Bisa Bicara Lagi

Terapi Keledai Bantu Gadis Bisu Bisa Bicara Lagi

Blog

Melalui masa sulit dalam hidup terkadang berat jika dilakukan sendiri. Ada kalanya yang dibutuhkan hanyalah satu pendamping untuk membuatnya menjadi lebih baik.

Amber Austwick yang lahir sebelum waktunya, membuat ia mesti menjalani hidup dengan cara tak biasa. Karena tak bisa bernapas saat berada di rahim, dokter harus melakukan trakeostomi darurat saat ia lahir.

Untuk membiarkan udara masuk ke tenggorokannya, mereka memasang pipa yang pada akhirnya memotong aliran udara pada pita suara. Hal ini membuat gadis tersebut tak bisa bicara.

Untunglah, di saat-saat sulit dalam hidupnya yang demikian, Amber bertemu dengan keledai yang mendampinginya. Seorang teman ibu Amber menceritakan bahwa keledai bisa digunakan sebagai terapi untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Seekor keledai bernama Shock dibawa oleh ibu Amber ke rumah. Seperti Amber, Shock juga memiliki kisah hidup yang pahit. Ia diselamatkan dari sebuah peternakan di Irlandia saat dibiarkan menunggu mati.

Shock ditemukan dilecehkan dan diikat dengan pemutih yang dituang di seluruh lukanya. Ia ditemukan penyelamat dari The Donkey Sanctuary di Birmingham, Inggris, dan dipertemukan dengan Amber.

“Aku sudah bisa melihat ikatan batin di antara mereka berdua. Mereka berdua sangat lembut pada satu sama lain,” kata ayah Amber, Julian Austwick.

Selain tak bisa berbicara, Amber didiagnosis menderita cerebral palsy, kondisi yang memengaruhi otot, gerakan, dan keterampilan motorik. Keledai tersebut, memotivasi Amber untuk menjadi lebih aktif, untuk menjadi lebih kuat.

Melansir dari Lifebuzz, keledai yang sejatinya masih merasa takut pada manusia itu bahkan membiarkan Amber menunggangi dirinya. Amber dan Shock menjadi duo yang tak terpisahkan.

Suatu kali, saat mengunjungi Shock seperti biasa, Amber mengeluarkan kalimat pertamanya. Gadis kecil itu berbisik pada sahabatnya tersebut. “Aku cinta kamu, Shock.”

Orangtua Amber yang tak sengaja mendengar kalimat lirik itu merasa kaget sekaligus gembira. Mereka merasa bangga dengan perkembangan Amber yang begitu pesat.

Makin hari, Amber makin berani mengeksplor kata-kata. Meski kemudian Amber dimasukkan ke sekolah berkebutuhan khusus agar dirinya semakin berkembang, ikatan antara gadis kecil itu tetap dengan si keledai tetap terjalin erat. Setiap Amber datang, ia akan mengunjungi sahabatnya tersebut lalu berkeliling bersama.

Ikatan antara Amber dan Shock yang saling menguatkan satu sama lain, menginspirasi orang tua Amber untuk menuliskan kisah tersebut. Buku berjudul Amber’s Donkey langsung ludes terjual 45 menit setelah dirilis di Amazon dan permintaan masih terus berdatangan.

Mengenal Bahasa Isyarat di Indonesia

Mengenal Bahasa Isyarat di Indonesia

Blog

Bahasa Isyarat Indonesia – Manusia berkomunikasi melalui media bernama bahasa, oleh karena itu bahasa merupakan sesuatu yang penting bagi kehidupan kita. Melalui bahasa, manusia satu bisa paham maksud yang diutarakan manusia lainnya.

Bahasa juga merupakan kunci ilmu pengetahuan, karena dengannya kita bisa mengetahui dan menguasai banyak hal lewat  proses pertukaran informasi.

Seperti fungsi bahasa pada umumnya, bahasa isyarat untuk para penyandang tuna rungu juga tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-harinya. Mengapa? Karena mereka juga butuh berkomunikasi, selain itu juga dapat membantu perkembangan interaksi, kematangan sosial, dan kognitif penyandang tuna rungu.

Kognitif secara garis besar adalah sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan pemerolehan pengetahuan.

SIBI dan BISINDO

 

Di Indonesia terdapat dua bahasa isyarat yang digunakan, yakni Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI) yang diciptakan oleh Alm. Anton WIdyatmoko seorang mantan kepala sekolah SLB/B (sekolah luar biasa khusus penyandang tuna rungu) di Jakarta dan Surabaya dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO).

Tetapi amat disayangkan, SIBI yang kini resmi diakui pemerintah mempunyai sejarah yang kurang baik. Kemunculan SIBI ini ternyata tidak melewati persetujuan Gerakan Kesejahteraan Tuna rungu Indonesia (GERKATIN) bahkan dilibatkan untuk musyawarah pun tidak.

Ini artinya, SIBI tidak sesuai dengan aspirasi dan nurani para penyandang tuna rungu. Apalagi SIBI dibuat untuk

SIBI

Kamus Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (kamus SIBI) diterbitkan oleh pemerintah dan disebarluaskan melalui sekolah-sekolah. Khususnya ke SLB/B sejak tahun 2001.

SIBI hanya bisa digunakan sebagai bahasa isyarat di sekolah saja, tidak digunakan sebagai media komunikasi sehari-hari. Ini karena kosakata dalam SIBI dibuat hanya dengan mengubah Bahasa Indonesia lisan menjadi bahasa isyarat.

 

Artinya terlalu baku dengan tata bahasa kalimat Bahasa Indonesia yang membuat penyandang tuna rungu kesulitan untuk berkomunikasi. Tidak hanya itu, kosakata bahasa isyarat yang dipakai banyak mengambil dari Bahasa Isyarat Amerika.

Kata-kata berhomonim (kata yang memiliki makna berbeda tetapi lafal atau ejaannya sama – Wikipedia) dalam SIBI, diisyaratkan dalam satu gerakan yang sama. Kata-kata berimbuhan pun diterjemahkan lengkap dengan imbuhan-imbuhannya. Tentu ini menyulitkan para penyandang tuna rungu.

Misalnya saja kata pengangguran diisyaratkan dengan tiga gerakan.

Gerakan ke-1: pe

Gerakan ke-2: anggur

Gerakan ke-3: an

Padahal buah anggur tidak ada kaitannya sama sekali dengan pengangguran. Anggur itu buah, sementara pengangguran berarti orang yang tidak punya pekerjaan.

Atau perasaan, menggunakan isyarat untuk imbuhan ‘pe’, kemudian isyarat untuk ‘rasa’, dan terakhir isyarat untuk imbuhan ‘an’.

Isyarat yang terlalu ribet itu membuat penyandang tuna rungu tidak pernah istiqomah memakainya dalam percakapan sehari-hari. Seperti halnya dalam kata perjalanan. Iya, bila satu kata ‘perjalanan’ saja diubah ke dalam bahasa isyarat menghasilkan 3 gerakan seperti yang dicontohkan di atas …

… tetapi ketika dihubungkan dalam satu kalimat, misalnya, “Mobil itu sedang dalam perjalanan ke sini.” Kata perjalanan tidak diisyaratkan dengan tiga gerakan per-jalan-nan, tetapi memakai dua jari yang mengisyaratkan manusia sedang berjalan.

Ini tentu menjadi kebingungan tersendiri bagi beberapa penyandang tuna rungu. Banyak dari mereka yang kemudian mengartikan bahasa isyarat tersebut dengan tafsiran yang salah; yang mereka tangkap adalah mobil berjalan seperti orang berjalan, bukan dengan menggunakan roda.

Guru SLB/B di Indonesia sampai saat ini masih banyak yang mengajar dengan menggunakan SIBI dan bahasa bibir atau oral kepada siswanya. Dampak penggunaan SIBI bagi siswa penyandang tuna rungu adalah tidak maksimalnya mereka menangkap informasi, bahkan tidak jarang menjadi salah paham dengan informasi yang disampaikan.

Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan, bagaimana dengan anak tuna rungu yang belum pernah mengenal Bahasa Indonesia?

Proses menghubungkan SIBI dengan Bahasa Indonesia tidak berjalan lancar karena anak-anak belum mengetahui tata Bahasa Indonesia. Di sinilah SIBI gagal sebagai media komunikasi untuk penyandang tuna rungu.

Tetapi sebagai bangsa yang beradab, kita tetap patut untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Alm. Bapak Anton WIdyatmoko yang telah berusaha memfasilitasi kebutuhan penyandang tuna rungu.

Hal ini tentu sesuai dengan Pasal 24 ayat 3 Konvensi Hak Penyandang Disabilitas Perserikatan Bangsa Bangsa bahwa Negara-negara harus mengambil langkah-langkah yang layak, termasuk memfasilitasi pembelajaran bahasa isyarat dan pemajuan identitas linguistik masyarakat tuli.

Gerakan Kesejahteraan Tuna rungu Indonesia (GERKATIN) kemudian memperjuangkan bahasa isyarat yang alami serta sesuai dengan nurani para penyandang tuna rungu di Indonesia. Yang terpenting adalah BISINDO dapat digunakan dalam pergaulan sehari-hari tanpa ribet.

Penyandang tuna rungu lebih nyaman menggunakan BISINDO karena tadi, kepraktisan dan kecepatannya membuat mereka lebih cepat memahami maksud dari isyarat yang dilontarkan orang lain meskipun dalam hal tata bahasa, tidak mengikuti aturan Bahasa Indonesia seperti SIBI.

BISINDO

 

Tetapi kehadiran BISINDO mendatangkan problem baru. Dualisme bahasa isyarat yang dianut penyandang tuna rungu di Indonesia menyulitkan mereka untuk berkomunikasi secara ‘pas’. Maksudnya, mereka bingung menggunakan bahasa isyarat yang akan dipakai untuk berkomunikasi.

Melihat tidak sedikit penyandang tuna rungu yang kesulitan menggunakan SIBI, secara alami mereka akan menggunakan BISINDO sebagai alat komunikasi sehari-hari.

Namun harus kita ketahui, keberadaan BISINDO, dinukil dari selasar, belum diakui pemerintah sebagai bahasa isyarat yang ‘memasyarakat’ di kalangan penyandang tuna rungu. Kurang lebih selama 33 tahun sejak BISINDO diperkenalkan.

Entah apa yang menjadi pertimbangan pemerintah dalam hal ini. Padahal sudah jelas, dalam beberapa faktor, SIBI tidak didukung oleh kaum yang memakainya. Seperti tadi disebutkan di atas, lahirnya SIBI tidak melibatkan penyandang tuna rungu sama sekali.

Selain itu, faktor kepraktisan menjadi alasan kedua.

Sekarang, tidak perlu menggugat sejarah yang terjadi. Secara sadar, mari kita kembali bela hak-hak penyandang tuna rungu di negeri ini. Sebab mereka sama-sama Warga Negara Indonesia yang harus mendapatkan perhatian dari pemerintah.

SIBI tidak perlu disalah-salahkan, sebab di sekolah-sekolah …, khususnya SLB/B, masih digunakan sebagai bahasa komunikasi dalam pendidikan.

Fokus kita adalah bagaimana Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dapat digunakan oleh penyandang tuna rungu dengan tanpa paksaan untuk melakukan komunikasi sehari-hari di lingkungan sosialnya masing-masing.

Meskipun, mungkin, di antara pembaca sekalian bukan tuna rungu, kita bisa mempelajari BISINDO karena lebih praktis dipelajari daripada SIBI.

Kita juga patut untuk terus mendukung GERKATIN dalam menyosialisasikan BISINDO di Indonesia, agar masyarakat umum tahu bahasa isyarat yang cocok digunakan untuk berkomunikasi dengan kaum tuna rungu.

Harapannya memang, semakin banyak orang yang tahu dan bisa menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia, sehingga BISINDO, yang kemudian menjadi bahasa isyarat alami Indonesia tidak menghilang eksistensinya.

Mari untuk terus berdo’a agar pemerintah mengakui keberadaan BISINDO.

 

ANAK GIFTED DAN ANAK CERDAS APAKAH SAMA?

ANAK GIFTED DAN ANAK CERDAS APAKAH SAMA?

Blog

Mengambil mata kuliah Pendidikan Anak Luar Biasa merupakan minat saya terhadap anak-anak yang memerlukan kebutuhan khusus. Sejauh ini sebelum saya mengikuti mata kuliah ini, anak-anak yang memerlukan “bantuan khusus” adalah anak-anak yang mengalami gangguan mental dan fisik saja. Namun setelah saya mengikuti kelas ini seiring berjalannya waktu saya mendapat pengetahuan mengenai anak gifted. Saya mengira bahwa anak gifted selain memiliki intelektual yang berada jauh diatas rata-rata mereka tidak akan mengalami hambatan apapun dan justru akan membuat orang tua mereka sangat bangga akan kemampuan mereka. Namun ternyata pikiran saya itu salah setelah saya membaca mengenai anak gifted dari berbagai sumber. Saya juga baru mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh anak-anak gifted bahkan lebih rumit dari yang saya pikirkan. Okee.. mari kita intip mengenai kehidupan anak gifted

ANAK GIFTED DAN ANAK CERDAS APAKAH SAMA?

Kalau kita tidak memiliki panduan bacaan atau referensi mengenai anak gifted, pasti kita akan menganggap bahwa anak Gifted dan anak cerdas itu sama. Namun, lagi-lagi hal tersebut salah. Anak gifted dan anak cerdas memiliki perbedaan antara lain :

  • Dari segi karakteristik, anak gifted kawaspadaan yang tinggi sehingga apabila kita mengambil sisi positifnya anak gifted akan cepat mengetahui masalah apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Namun hal negatifnya adalah anak gifted akan cenderung senang untuk mengoreksi orang lain. Selain itu ternyata anak gifted juga memiliki selera humor yang mana dari sisi positifnya mereka akan menertawakan diri mereka sendiri dan sisi negatifnya adalah mereka akan membuat lelucon yang justru mengorbankan orang lain..
  • Selanjutnya kalau anak cerdas pasti akan menjawab pertanyaan yang benar dan berminat akan sesuatu sedangkan anak gifted akan mempersoalkan suatu pertanyaan dan memiliki rasa penasaran akan sesuatu
  • Kemudian kalau anak cerdas memiliki gagasan yang bagus dan populer sementara anak gifted memiliki gagasan yang terkesan konyol, aneh, dan di luar keumuman.
  • Sebenarnya anak gifted bukan anak yang rajin belajar seperti anak cerdas tetapi anak gifted selalu mendapatkan nilai yang bagus. Bedanya adalah kalau anak cerdas biasanya menjawab soal sesuai yang ditanyakan sedangkan anak gifted lebih memperluas konteks jawaban.
  • Perbedaan lainnya, anak cerdas menyukai linearitas sementara anak gifted menyukai kompleksitas. Anak cerdas adalah pemerhati yang baik sedangkan anak gifted adalah pengamat yang kritis.
  • Ada perbedaan pula dalam hal penguasaan materi, kalau anak cerdas membutuhkan 6-8 kali pengulangan sementara  anak gifted hanya butuh 1-2 kali pengulangan.
  • Anak cerdas dapat memahami gagasan orang lain dengan baik sementara gifted membentuk gagasannya sendiri.
  • Saat anak cerdas menyelesaikan tugas yang diberikan, gifted lebih senang memulai proyeknya sendiri.
  • Senang bergaul dengan orang dewasa dibanding anak sebaya merupakan kesenangan anak gifted. Adapun kemampuan anak gifted 4 kali anak biasa.Mereka memiliki kecerdasan intelektual very superior atau skor IQ di atas 130.
  • Tingkat kreativitas dan komitmen kerja anak gifted pun luar biasa. Dengan perkembangan motorik yang melebihi anak biasa, gifted memiliki daya serap yang tinggi juga daya lontar yang tinggi.

 

SEBENARNYA ANAK GIFTED ITU APA SIH?

Di tataran publik istilah gifted pertama kali diperkenalkan oleh Sir Francis Galton pada tahun 1869. Gifted dalam pengertian yang diperkenalkan oleh Galton pada masa itu merujuk pada suatu bakat istimewa yang tidak lazim dimiliki oleh manusia biasa yang ditunjukkan oleh seorang individu dewasa. Menurut Galton keberbakatan istimewa ini adalah sesuatu yang sifatnya diwariskan. Artinya keberbakatan istimewa adalah sesuatu potensi yang menurun (genetically herediter). Anak-anak yang menunjukkan suatu bentuk bakat yang istimewa ini kemudian lazim disebut sebagai gifted children.

Hollingworth mendefinisikan keberbakatan sebagai potensi anak yang harus digali sehingga saat dewasa akan lebih berkembang. Linda Silverman menambahkan bahwa pada anak berbakat didapatkan perkembangan yang tidak sinkron. Jadi tidak hanya IQ dan kemampuan, tapi juga emosi dan hipersensitifitas.

Perkembangan yang tidak sinkron dimaksud adalah perkembangan intelektual, fisik dan emosi tidak berjalan dengan kecepatan yang sama. Kemampuan intelektual selalu berkembang lebih cepat. Dengan adanya perkembangan yang tidak sinkron ini diperlukan modifikasi dalam hal pengasuhan baik oleh orangtua, guru maupun konselor agar anak dapat berkembang optimal.

pemahaman mengenai bakat yang istimewa ternyata beragam. Nah untuk mempermudah pemahaman kita saya akan mencantumkan ciri-ciri anak gifted dari sudut pandang par ahli yang telah melakukan studi dan penelitian tentang anak gifted.

CIRI-CIRI ANAK GIFTED

Anak-anak ini memiliki komitmen terhadap tugas yang sangat tinggi, mereka memiliki orientasi dan tanggung jawab yang jelas terhadap tugas yang diberikan. Cara lain yang dapat digunakan orang tua dalam mengidentifikasi anak gifted, yakni saat berusia antara 4 sampai 8 tahun. Selain itu juga terdapat beberapa karakteristik tertentu yang dapat diamati saat anak berada di rumah (Smutny, 1999):

  1. Menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap banyak hal
  2. Memiliki perbendaharaan kata yang banyak dan menggunakan kalimat lengkap saat berkomunikasi
  3. Memiliki sense of humor dan berpikir dengan cerdas
  4. Menyelesaikan masalah dengan cara yang unik atau tidak biasa
  5. Memiliki ingatan yang bagus
  6. Menunjukkan bakat yang menonjol dalam seni, musik atau drama
  7. Menunjukkan imajinasi yang orisinil
  8. Bekerja secara mandiri dan berinisiatif
  9. Memiliki minat dalam membaca
  10. Memiliki perhatian yang menetap atau keinginan yang menetap dalam tugas yang dikerjakan
  11. Merupakan anak yang dapat belajar dengan cepat.

 

Sedangkan dari hasil-hasil penelitian yang dilakukannya, Renzulli dkk menarik kesimpulan bahwa yang menentukan keberbakatan seseorang pada hakikatnya adalah tiga kelompok ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Kemampuan di atas rata-rata
  2. Kreativitas tinggi
  3. Pengikatan diri atau tanggung jawab terhadap tugas (task commitment)

 

Keberbakatan itu sendiri sangatlah kompleks, bukan hanya ditentukan oleh Nilai IQ-nya saja, akan tetapi merupakan faktor multidimensi dan dinamis (van Tiel). Carpenter (2001) & Lyth (2003), Membagi anak berbakat atas:

(I). Ringan (mild) IQ = 115-129;

(II). Sedang (moderate) IQ = 130-144;

(III). Tinggi (high) IQ = 145-159;

(IV). Kekecualian (exceptional ) IQ = 160-179;

(V). Amat sangat (Profound) IQ = 180 +.

 

IQ normal berkisar antara 85-115, dengan normal absolute 100. Makin besar jaraknya dari nilai normal, makin membutuhkan modifikasi sarana pendidikan

Umumnya pada anak berbakat, prestasi belajarnya juga tinggi. Tapi dapat pula ditemukan anak berbakat yang prestasinyanya tidak optimal bahkan sering kali bermasalah. Prestasi yang kurang ini sering dianggap karena faktor motivasi dan psikologis. Anak sering dianggap malas dan tidak bersungguh sungguh, dan sering kali orangtua disalahkan karena tidak menerapkan disiplin. Banyak penelitian menyebutkan, diantara anak berbakat tidak berprestasi karena mengalami kesulitan yang terselubung (Silverman 2002).

Cara Mengendalikan Emosi

APA SIH MASALAH YANG DIHADAPI ANAK GIFTED?

Kondisi atau keadaan yang dialami oleh anak gifted ini merupakan suatu keadaan yang membanggakan dan diidamkan bagi para orang tua. Namun hanya sebagian kecil orang tua yang mampu memahi potensi tersebut. Dalam banyak kasus justru muncul kendala yang dihadapi oleh anak gifted, yakni berupa permasalahan:

  1. Anak gifted biasanya memiliki problem dalam membina hubungan dengan teman. Karena kecerdasannya yang tinggi dan kemampuan berpikir yang bagus, sehingga tidak jarang teman sebayanya mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan mengimbangi pembicaraan dengan anak ini
  2. Kurang dapat menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya, karena mereka cenderung mandiri dan sulit untuk merasa nyaman dengan keadaan yang ada
  3. Mereka memiliki standart yang tinggi terhadap suatu pekerjaan, sehingga terkadang tidak disukai teman-temannya.

Anak berbakat dapat pula mengalami gangguan belajar. Kelompok ini dibagi atas 3 subgroups yaitu:

  1. Anak telah teridentifikasi sebagai berbakat tapi kesulitan disekolah. Anak ini pencapaiannya dibawah kemampuannya, kadang adanya kesulitan belajar tidak terdiagnosa, sampai sekolah memberikan tambahan stimulus, sehingga kesulitan dibidang akademik terlihat dia berada dibawah kemampuan seusianya;
  2. Anak dengan kesulitan belajar yang berat, sehingga adanya kemampuan bakat tidak pernah dikenali. Baum 1985 menemukan 33% anak dengan kesulitan belajar mempunyai kemampuan intelektual yang superior. Anak2 ini tidak pernah mendapatkan program untuk anak berbakat;
  3. Anak dengan kemampuan dan kesulitan belajar yang saling menutupi secara tumpang tindih. Anak ini berada dikelas regular, dan kemampuannya pada tingkat rata-rata (Brody 1997).

Dari permasalahan sosial yang telah dijelaskan, secara tidak langsung pasti akan berpengaruh terhadap  perkembangan emosinya. Anak akan merasa ditolak oleh lingkungannya, sulit bergaul dan kemudian menarik diri, bahkan frustasi dengan keadaan yang mereka alami. Karena ada perbedaan yang cukup jauh antara keadaan di sekeliling dengan kemampuannya yang jauh lebih tinggi dibanding anak lain seusianya.Sementara itu memperjuangkan pendidikan anak-anak dengan kecerdasan istimewa (gifted children) bukanlah hal mudah. Hal ini karena:

  1. Berbagai komponen baik masyarakat, orang tua, dan pihak sekolah masih tidak memahami apa yang disebut anak cerdas istimewa (gifted children).
  2. Pendidikan anak cerdas istimewa (gifted children) saat ini yang dikenal di Indonesia hanyalah kelas akselerasi, padahal sementara itu pendidikan model ini secara ilmiah sudah tidak disarankan lagi, karena terbukti justru tidak memperhatikan faktor kreativitas berpikir serta perkembangan sosial emosional seorang anak cerdas istimewa.
  3. Karakteristik personalitas dan pola tumbuh kembang alamiah seorang anak cerdas istimewa masih tidak dipahami secara luas, sehingga berbagai kesulitan perkembangan seorang anak gifted tidak pernah dikenal oleh pihak-pihak yang seharusnya menyantuninya, terutama pihak sekolah. Sehingga anak-anak cerdas istimewa justru tidak diterima oleh institusi pendidikan karena dianggap sebagai anak bermasalah. Sekalipun itu adalah kelas akselerasi.
  4. Dengan begitu kelas akselerasi pada akhirnya sebagai kelas anak cerdas istimewa tanpa murid cerdas istimewa, umumnya berisi anak cerdas normal yang mempunyai gaya belajar yang cocok dengan program yang ditekankan, yaitu pemampatan materi. Sementara itu anak-anak cerdas istimewa adalah seorang anak yang sangat mandiri, didaktif, kreatif berpikir analisis, tidak dapat ditekan apalagi dilakukan drilling harus cepat-cepet selesai.
  5. Tidak pernah disadari bahwa semakin tinggi kecerdasan seorang anak ia akan mempunyai cara berpikir (cognitive style) yang berbeda dengan anak-anak normal sehingga ia membutuhkan ruang gerak leluasa untuk mengembangkan apa yang menjadi minatnya. Ia membutuhkan pendidikan bersama teman-teman sebayanya dalam kelas-kelas sekolah normal, dengan perhatian ektra ke dua arah yaitu kecerdasannya yang istimewa dan juga berbagai kesulitan tumbuh kembangnya. Bentuk kelas seperti ini yang kemudian disebut sebagai kelas-kelas inklusi.
  6. Semakin tinggi inteligensia seorang anak, minatnya menjadi semakin sempit pada bidang-bidang khusus.

Maka, Identifikasi lebih awal terhadap anak gifted sangat disarankan karena anak-anak ini memerlukan penanganan atau intervensi sedini mungkin, agar tidak menghambat perkembangannya terutama dalam aspek sosial dan emosi. Orangtua diharapkan mengkomunikasikan hal ini dengan guru sekolahnya, atau dapat berkonsultasi langsung dengan para pakar pendidikan atau Psikolog. Orang tua dituntut dalam rangka pengasuhannya di rumah dan membantu pendidikannya di sekolah, guru dituntut memberikan metoda pengajaran yang cocok.

 

Lebih Memahami anak berkebutuhan Khusus/Istimewa

Lebih Memahami anak berkebutuhan Khusus/Istimewa

Blog

Benar bahwa setiap anak yang terlahir ke dunia memiliki keunikan dan membawa beragam potensi sebagai anugerah dari Sang Penciptanya. Berbagai keunikan dan potensi inilah yang kemudian membedakannya dengan anak-anak lain. Tak ada satu anakpun yang memiliki kesamaan dalam segala aspeknya dengan anak lainnya. Namun jika dikatakan bahwa setiap anak adalah anak Gifted (anak yang memiliki bakat istimewa) maka hal itu adalah suatu klaim yang jauh dari kebenaran dan realitas sesungguhnya. Gifted atau keberbakatan istimewa adalah suatu istilah yang merujuk pada adanya satu atau beberapa potensi yang dimiliki oleh seorang anak/individu yang sifatnya diluar keumuman (extra ordinary), perkecualian (exceptional), dan di luar norma (beyond the norm) dalam hal kemampuan atau potensi bawaan.

Batasan tentang istilah keberbakatan istimewa (Giftedness)

Sampai saat ini tidak ada batasan tunggal yang merepresentasikan arti istilah gifted. Halmana karena memang tidaklah mudah untuk memberi batasan atas suatu fenomena yang kompleks seperti giftedness ini. Orang tua, guru, masyarakat, ahli, dan praktisi (khususnya di bidang psikologi dan pendidikan) pun juga memiliki beragam pemahaman atas apa yang dimaksud dengan keberbakatan istimewa (giftedness). Guna mempermudah pemahaman tentang makna istilah keberbakatan istimewa, berikut diuraikan secara singkat sejarah dan sudut pandang para ahli yang secara khusus melakukan studi dan penelitian tentang keberbakatan istimewa.

Asal muasal istilah Gifted

Di tataran publik istilah gifted pertama kali diperkenalkan oleh Sir Francis Galton (saudara sepupu pencetus teori evolusi Charles Darwin) pada tahun 1869. Gifted dalam pengertian yang diperkenalkan oleh Galton pada masa itu lebih mengacu pada suatu bakat istimewa yang tidak lazim dimiliki oleh manusia biasa yang ditunjukkan oleh seorang individu dewasa. Titik tekan konsepsi keberbakatan istimewa menurut Galton ada pada berbagai bidang. Ia memberi contoh seperti ahli kimia Madame Curie sebagai gifted chemist (ahli kimia dengan bakat luar biasa atau istimewa). Menurut Galton keberbakatan istimewa ini adalah sesuatu yang sifatnya diwariskan. Artinya keberbakatan istimewa adalah sesuatu potensi yang menurun (genetically herediter). Anak-anak yang menunjukkan suatu bentuk bakat yang istimewa ini kemudian lazim disebut sebagai gifted children.
Dalam perkembangannya, Lewis B.Terman, seorang ahli psikologi dan psikometri dari Universitas Standford di Amerika Serikat memperluas pandangan Galton tentang keberbakatan istimewa menjadi termasuk juga di dalamnya individu-individu dengan kapasitas kognitif atau intelektual yang sangat tinggi. Sebagai perumus dan originator tes intelegensi Stanford Binet, Lewis Terman benar-benar terobsesi dengan fenomena anak-anak gifted ini. Di awal tahun 1900-an ia bersama koleganya di Universitas Stanford mulai melakukan penelitian panjang tentang anak-anak gifted. Dari hasil studinya ini Terman kemudian merumuskan konsepsinya tentang arti keberbakatan istimewa atau giftedness. Ia memberikan batasan bahwa anak-anak Gifted adalah anak-anak yang memiliki kapasitas kognitif sebagaimana terukur dengan tes intelegensi Stanford Binet, berada pada kisaran skor IQ di atas 140.

Berdasarkan penelitiannya Terman juga meyakini bahwa meski anak-anak gifted ini di kemudian hari pada umumnya sukses sebagai orang-orang dewasa di berbagai bidang profesi, tetapi kesuksesan mereka tersebut tak semata disebabkan oleh karena kapasitas kognitif mereka yang sangat tinggi tetapi juga disumbangkan oleh faktor-faktor non kognitif yang mereka miliki seperti semangat, motivasi, komitmen, ketekunan, dan keberanian mengambil risiko.

Pada tahun 1926 Leta Hollingworth, seorang ahli psikologi pendidikan Amerika Serikat, merilis bukunya yang dikemudian hari menjadi salah satu buku legendaris dalam khazanah literatur tentang keberbakatan istimewa yang bertajuk âGifted Children : Their Nature and Nurture❠. Dalam buku ini ia mengemukakan pendapatnya bahwa meski potensi keberbakatan istimewa adalah sesuatu yang sifatnya menurun tetapi tanpa adanya pola pengasuhan dan ketersediaan lingkungan yang mendukung maka potensi keberbakatan istimewa tersebut hanya akan tinggal potensi, tak akan pernah teraktualisasi. Oleh karena itu pada periode 1930-an ia tampil menjadi penganjur utama tentang perlunya bagi orang tua memberikan pola asuh dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi anak-anak dengan bakat istimewa agar dapat mengaktualisasikan potensinya. Karena masifnya kampanye yang dilakukan oleh Leta Hollingworth inilah maka sejak saat itu istilah gifted selalu dipergunakan orang untuk merujuk pada potensi yang sangat tinggi yang dimiliki oleh seorang anak atau individu.

Pada dekade 1970-an, Jozeph Renzulli dari Universitas Connecticut mengajukan konsepsinya tentang keberbakatan isitmewa dalam teorinya yang terkenal kemudian sebagai The Three Rings of Giftedness. Pokok konsepsi dari teori Renzulli ini adalah keberbakatan istimewa baru akan dapat muncul dan teraktualisasikan jika terdapat 3 traits (sifat) utama yang terdapat atau muncul pada diri seorang individu. Ke-3 traits itersebut adalah :

  1. Potensi kognitif atau kapasitas intelektual yang berada pada kisaran di atas rata-rata (High Potential Ability).
  2. Dorongan atau motivasi yang kuat untuk meraih tujuan (task commitment).
  3. Kreatifitas (creativity).

Menurut Renzulli selama ketiga traits tersebut tidak dapat ditunjukkan (dimiliki) oleh seorang anak atau individu maka maka belumlah dapat disebut sebagai anak atau individu dengan bakat istimewa (gifted child). Renzulli memberi contoh bahwa Albert Einstein adalah prototipe yang sangat tepat bagi individu dengan bakat istimewa (gifted). Selain memiliki kapasitas intelektual yang sangat tinggi, Einstein juga dikenal sebagai individu yang sangat memiliki motivasi tinggi untuk meraih apa yang dia inginkan. Selain itu sifat kreatifnya juga sangat kental tatkala ia merumuskan teori relatifitasnya yang sangat terkenal (dimana pada saat itu tak banyak orang yang menyetujuinya). Di sini nampak jelas Einstein sebagai seorang jenius yang punya imajinasi dan kreatifitas diluar keumuman.

Ahli psikologi perkembangan dan psikometri kontemporer dari Amerika Serikat Linda K. Silverman juga mengajukan konsepsi tentang keberbakatan istimewa. Konsepsi yang diajukannya agak berbeda dengan ahli-ahli sebelumnya. Dalam konsepsinya yang terkenal dengan teori Asynchronous Development (perkembangan yang tidak serasi), ia menyebutkan bahwa dimensi terpenting dari adanya keberbakatan istimewa adalah adanya fenomena tumbuh kembang yang tidak serasi dalam diri seorang anak atau individu. Perbedaan utama konsepsi yang diajukan oleh Linda Silverman dengan ahli-ahli sebelumnya adalah jika ahli-ahli sebelumnya hanya melihat keberbakatan istimewa dari sudut pandang bakat atau potensi yang sangat tinggi (istimewa) yang ditunjukkan atau dimiliki oleh seorang anak atau individu, maka Linda Silverman menambahkan satu aspek lain yang sangat penting yaitu aspek emosi. Jadi selain dilihat dari sudut pandang potensi yang sangat tinggi (istimewa) yang dimiliki oleh seorang anak atau individu maka pola perkembangan anak atau individu dari aspek intelegensi, emosi, dan fisik juga sangat perlu mendapat perhatian khusus. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya ia menyebutkan bahwa ternyata pola perkembangan anak atau individu yang memiliki bakat istimewa (gifted) jauh berbeda dengan pola perkembangan anak-anak normal, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Lebih jauh konsepsi Linda Silverman ini kemudian dikembangkan oleh sekelompok orang tua, peneliti, ahli psikologi, dan pendidik yang tergabung dalam kelompok yang menamakan dirinya sebagai the Columbus Group. Menurut mereka batasan atau definisi keberbakatan istimewa adalah :

â Giftedness atau keberbakatan istimewa adalah suatu pola perkembangan yang tidak sinkron (tidak serasi; asynchronous development ) pada individu-individu tertentu, dimana didalamnya terkombinasi suatu tingkat kemampuan kognitif yang sangat maju yang disertai dengan intensitas emosi (kedalaman perasaan; emotional intensity) yang sangat kuat, yang pada akhirnya menciptakan suatu pola pengalaman dan kesadaran dalam diri individu-individu tersebut yang secara kualitatif sangat berbeda dengan anak-anak lain yang seusianya. Ketidakserasian ini akan semakin meningkat dengan semakin tingginya kapasitas intelektual yang mereka miliki. Keunikan seperti inilah yang pada akhirnya mempersyaratkan adanya suatu pola pengasuhan, pengajaran, dan pembimbingan yang khusus agar proses tumbuh kembang mereka dapat berjalan dengan optimal ❠(The Columbus Group, 1991)

Selain batasan sebagaimana diuraikan di atas juga terdapat batasan yang merujuk pada tampilan (performance) akademik yang ditunjukkan oleh seorang anak selama di sekolah. Menurut definisi ini anak-anak berbakat istimewa (gifted) adalah anak-anak yang berada pada kisaran 5%-10% teratas dilihat dari prestasi akademik yang mereka tunjukkan di sekolah. Mengacu pada definisi ini maka anak-anak yang tergolong berbakat istimewa perlu mendapatkan materi belajar dan model pembelajaran yang lebih menantang yang berbeda dengan teman-temannya. Definisi ini meski mudah dalam aplikasinya (khususnya dari aspek identifikasi) tetapi sangat kurang mendapatkan dukungan dari para ahli psikologi, khususnya karena terlalu menekankan pada aspek prestasi namun kurang mempertimbangkan aspek kepribadian dan tumbuh kembang dari anak-anak berbakat istimewa. Selain itu dalam aplikasinya standar kriteria 5%-10% teratas dalam ranah prestasi akademis juga masih diperdebatkan, khususnya dalam hal instrumen apa yang dipergunakan untuk mengukurnya.

Definisi paling mutakhir yang kini menjadi arus utama (mainstream) dan banyak disepakati oleh para ahli, baik dalam ranah psikologi maupun pendidikan adalah teori Gagne yang (terakhir) diperbaharui pada tahun 2008. Teori Gagne ini pada dasarnya menitikberatkan konsepsi keberbakatan istimewa sebagai sesuatu yang merupakan hasil interaksi antara faktor keturunan (genetic) dan faktor tumbuh kembang (developmental) yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan.

Di samping itu salah satu pokok konsepsi keberbakatan istimewa dalam teori Gagne ini adalah keberbakatan istimewa pada prinsipnya bersifat multi domain. Konsepsi inilah yang membedakan secara eksplisit antara teori Gagne dengan teori lain yang cenderung bertumpu pada konsepsi keberbakatan istimewa sebagai semata keberbakatan dalam domain intelektual. Di samping itu teori Gagne juga mendapatkan basis ilmiah yang kuat karena sejalan dengan teori intelegensi paling mutakhir yaitu teori Cattel-Horn-Carrol (2003) yang menyebutkan bahwa kecerdasan sebagai konstelasi kemampuan manusia yang bersifat hirarkis dan multi facet.

Francoys Gagné adalah ahli psikologi pendidikan (kini Professor Emeritus) dari Universitas Quebec di Montreal, Kanada. Menurutnya istilah gifted dan talents adalah dua hal yang berbeda. Dalam konsepsi Gagne, istilah Gifted lebih merujuk pada kepemilikan Potensi Istimewa di dalam satu atau lebih domain kemampuan. Sedangkan Talents adalah Prestasi Istimewa yang dalam hal ini merupakan bentuk tampilan langsung dari potensi istimewa tersebut yang merupakan hasil dari proses belajar, baik yang bersifat formal maupun informal.(Sumiharso;Center for Giftedness and Intellegence Studies).Disadur dari : https://goo.gl/xXimDY

Cara Mendidik Anak Untuk Percaya Diri

Cara Mendidik Anak Untuk Percaya Diri

Blog

Ada seorang anak yang begitu berani tampil depan umum, menari, bernyanyi dan bahkan melakukan aksinya di depan kamera. Anak tersebut terlihat percaya diri dan antusias. Tidak ada ketakutan sedikitpun di dalam raut wajah.

Namun di lain tempat, ada juga seorang anak yang penuh rasa malu. Begitu disuruh maju oleh orang tuanya, anak tersebut menolak, tidak mau maju, dan justru memegang celana orang tuanya dengan lebih kencang. Anak tersebut penuh dengan ketidakpercayaan diri, penuh dengan ketakutan.

Apakah Anda sebagai orang tua mempunyai anak seperti dua contoh di atas ? Manakah yang Anda inginkan terjadi pada anak Anda ? Sudah sangat pasti Anda menginginkan anak Anda menjadi anak seperti pada contoh pertama.

Setiap orang tua pasti  menginginkan anaknya percaya diri. Namun satu hal penting yang perlu diingat, kepercayaan diri anak berasal dari benar atau tidaknya didikan dari orang tua. Tindakan dan karakter anak benar-benar ditentukan dari proses belajar di rumah oleh orang tuanya. Jadi tentu saja, Anda sebagai orang tua perlu mengetahui cara-cara yang efektif mendidik anak untuk percaya diri :

Berikut ini cara mendidik anak untuk percaya diri :

  1. Mengajarkan Perilaku Untuk Mandiri

Mandiri bagi seorang anak mempunyai arti mampu melakukan sendiri tugas atau tanggung jawab yang dimiliki. Namun perlu diperhatikan juga tugas dan  tanggung jawab anak harus sesuai dengan usianya, bukan sesuai dengan keinginan orang tua.

Pribadi yang mandiri perlu diajarkan sejak dini pada seorang anak. Anak mulai dapat diberitahukan tugas dan tanggung jawab secara ringan dan sederhana. Misalkan, seorang anak usia empat tahun sudah mampu diajarkan cara memakai sepatunya sendiri. Pada awalnya orang tua dapat membantu, dan menunjukan cara memakai sepatu, namun setelah dicontohkan beberapa kali, anak perlu mencobanya sendiri.

Pada awalnya, biasanya seorang anak akan melakukan kesalahan, seperti tertukar memakai sepatu, ataupun tidak mampu mengikat sepatu, namun kesalahan ini membuat mereka belajar bagaimana dampak dari tindakan yang mereka lakukan. Anda sebagai orang tua dapat memberikan hukuman sesuai dengan kesalahan anak. Namun hukuman yang dilakukan harus relevan dengan usia dan pemahaman anak, juga harus dengan cara yang bijak dan tepat.

Jika anda sebagai orang tua mengajarkan hal ini dengan baik, ketika anak dewasa, anak akan menjadi mandiri dan lebih percaya diri.

 

  1. Memperbolehkan Anak untuk Mengembangkan Kreativitas

Anak sebenarnya sangat kreatif karena saat masih kecil seorang anak lebih banyak menggunakan otak kanannya dibandingkan otak kirinya. Otak kanan dominan emosi dan kreativitas pada diri seseorang. Jadi setiap anak biasanya kreatif.

Untuk membuat anak percaya diri, orang tua perlu memahami bahwa kreativitas anak perlu dikembangkan. Jangan menghalangi anak untuk mengeksplorasi hal yang ia sukai. Misalkan, seorang anak yang mempunyai kreativitas menggambar biasanya suka mencoret-coret di dinding rumah. Seringkali respon dari orang tua begitu ada kejadian ini, orang tua langsung melarang dan memarahi anak.

Jika Anda menginginkan anak Anda percaya diri, STOP marah Anda, dan bebaskan anak Anda untuk berkreativitas. Yang perlu Anda lakukan cuma mengarahkannya supaya kreativitas tetap tersalurkan namun tidak membahayakan diri dan orang lain. Berhentilah untuk mencekik dan membuang bakat anak.

 

  1. Ajari Rasa Tanggung Jawab

Tanggung jawab merupakan karakter yang sangat penting bagi perkembangan mental seorang anak. Dengan tanggung jawab, anak mampu menyelesaikan kewajibannya dan berani mengakui kesalahan apabila melakukan salah.  Dengan mengajarkan tanggung jawab, seorang anak akan menjadi seorang anak yang kuat, pemberani dan inisiatif.

Banyak contoh yang bdapat dilakukan orang tua untuk mengajari anaknya rasa tanggung jawab. Salah satu contoh yang bisa dilakukan orang tua, misalnya,  ketika anak tidak sengaja memecahkan salah satu barang pecah belah, orang tua tidak langsung spontan memarahi anak. Namun ajarkanlah anak untuk mengakui bahwa perbuatannya salah. Dan setelah anak berani mengaku salah, berikan toleransi dan pengertian bahwa lebih penting adalah kejujuran dan mau bertanggung jawab dibanding hukuman. Dengan melatih seperti ini, pastinya anak Anda akan bertanggung jawab di kemudian harinya.

 

  1. Membangun Kepercayaan dengan Orang

Anak tidak selamanya perlu perlindungan dari Anda karena suatu saat akan ada waktu-waktu dia akan harus menghadapi hidupnya sendiri. Salah satu contoh momen terdekat yang perlu dihadapinya sendiri adalah saat dia sedang berada di sekolah dan belajar di kelas. Anak Anda perlu berani untuk ditinggal bersama guru dan teman-temannya di kelas.

Oleh karena itu yang diperlukan oleh anak bukanlah perlindungan dari orang tua setiap saat. Namun yang diperlukan anak adalah rasa percaya bahwa dia mampu melakukan tugas yang sesuai dengan usianya. Rasa percaya ini akan muncul saat orang tua berani membiarkan anak untuk mencoba sebuah tugas atau tindakan yang anak sebenarnya mampu melakukannya.

Misalkan, pada saat anak berusia 5-6 tahun ( saat tingkat TK besar  atau SD) anak sudah diperbolehkan untuk mencoba menggunakan alat-alat tajam, seperti pisau kecil, atau gunting. Anak sudah mulai diperbolehkan latihan memotong kertas atau sayur-sayuran sederhana namun tetap dalam pengawasan orang tua. Tindakan ini dapat melatih hubungan kepercayaan antara anak dan orang tua sekaligus meningkatkan kepercayaan diri anak. Sikap terlalu protektof pada anak bukanlah solusi terbaik untuk menghindari bahaya, namun sebenarnya cara yang terbaik adalah mengajarkan anak untuk mencari cara mengatasi masalha dengan benar dan percaya anak mampu melakukannya.

 

  1. Berani menantang kesulitan

Anak pun perlu tantangan didalam kehidupan kecilnya. Tantangan dan hambatan yang ada justru akan melatih mereka untuk mencari solusi mengatasi tantangan dan hambatan tersebut. Saat tantangan dan hambatan anak Anda sudah terlewati, yakinlah bahwa anak Anda semakin hebat.

Mungkin saat menghadapi tantangan, anak Anda akan mengalami kesulitan. Respon yang biasa dirasakan adalah takut dan bersembunyi. Namun di saat inilah orang tua mempunyai peran yang sangat penting, yaitu doronglah anak Anda untuk berani menyelesaikan masalahnya.

Misalkan saat Anda sedang memakai sepatu, namun kesulitan memasukan kakinya, Anda dapat menyorakinya dengan semangat “ Ayo Dek, sedikit lagi kakinya masuk” bukan membantunya langsung memasukan kaki ke dalam sepatu. Tindakan mendukung anak untuk menyelesaikan kesulitannya sangat membantu pembentukan kepercayaan diri anak. Anak yang selalu menghindari proses kesulitan, ke depannya akan sulit menghindari kesulitan hidupnya.

 

  1. Ajarkan Proses Lebih Penting daripada Hasil

Proses lebih penting daripada hasil. Mau mengerjakan proses dengan baik dan tuntas merupakan karakter positif bagi anak yang mendukung kepercayaan dirinya. Dengan mementingkan proses dibanding hasil, anak  belajar untuk fokus dan berusaha semaksimal mungkin. Dan anak belajar bahwa hasil adalah bonus dari usaha yang dilakukan.

Untuk lebih mengutamakan proses, anak perlu mendapatkan dorongan positif dengan cara motivasi dan kasih sayang.  Motivasi dari orang tua sangat berperan penting dalam pelaksaanaan proses yang dilakukan anak. Bahkan jikapun anak gagal, ia memerlukan kasih sayang dan dorongan dari orang tuanya. Contoh sederha yang bisa dilakukan orang tua seperti saat anak memperlihatkan hasil ujiannya, Anda perlu mengatakan , “ Kamu hebat Nak, tingkatkan usaha kamu dan tetap semangat!!” dibandingkan  kalimat “Kapan kamu juara satu di kelas ?”

 

  1. Biarkan Anak Memiliki Kebebasan yang Cukup

Kebebasan membuat seseorang mampu berekspresi. Dengan adanya kebebasan seseorang belajar untuk bisa mengatur tindakan, tempat, dan suasana yang diinginkannya. Begitu juga yang dapat dirasakan oleh anak Anda.

Anak Anda memerlukan juga sebuah kebebasannya sebagai anak. Karena dengan adanya kebebasan, anak mampu berekspresi dan melatih kepercayaan dirinya. Cara yang paling mudah untuk memberikan kebebasan pada anak, yaitu memberikan anak Anda satu tempat dimana ia memiliki kebebasan sepenuhnya. Berikan juga padanya kesempatan untuk bermain dan mengenal diri sendiri. Biarkan mereka mengatur dunia kecil mereka sesuka hati, entah anak Anda ingin mengatur dekorasi, penyusunan mainan, ataupun foto yang ingin ditaruh ditempat bermain mereka.

 

  1. Ajari untuk optimis

Sikap optimis adalah kepercayaan diri yang tinggi dan tidak ternilai. Anak Anda membutuhkan hal ini dalam kehidupannya. Dengan adanya sikap optimis, seorang anak berani mencoba, berani maju, dan berani bangkit lagi.

Sebagai orang tua perlu mengajari anak untuk optimis, misal saat anak Anda akan mengikuti lomba lari, dan dia melihat saingannya berbadan lebih tinggi atau besar, tetap ajarkan anak Anda untuk berusaha semaksimal mungkin, yakin bahwa dia bisa. Sering gunakan kata-kata “ Kamu Bisa !!” dibandingkan “yah coba aja”   

 

  1. Berikan Dukungan Dibanding Hukuman

Hukuman dan dukungan seringkali menjadi kebingungan dari orang tua. Namun kedua hal ini tetap perlu dilakukan olah orang tua dengan porsi yang seimbang dan relevan sesuai umur anak. Namun dalam hal mendidik anak untuk percaya diri, dukungan lebih berguna daripada hukuman.

Anda sebagai orang tua akan lebih bisa memperbaiki  kesalahan anak dengan mendukung mereka. Saat Anda menapresiasi  anak dan memberi pahala kecil atas perilaku baik anak, hal tersebut akan memberikan dampak yang besar terhadap kepercayaan diri anak.

Sebaliknya, ketika orangtua selalu mengoceh pada anak untuk menyuruh membereskan mainannya, justru yang terjadi anak akan merasa lelah dan malas mengerjakan yang diperintahkan, dan bahkan lebih parah lagi anak bisa memberontak. Jika orangtua memberi pujian, mereka malah ingin melakukan dan merasa membereskan mainan adalah sesuatu yang mereka suka. Oleh karena itu, sebagai orang tua lebih seringlah memuji anak apabila anak menunjukan perilaku yang baik.

 

Jika anak Anda mengalami gangguan dalam kepercayaan diri, silakan konsultasikan pada kami