Anak Berkebutuhan Khusus Tungrahita

Anak Berkebutuhan Khusus Tungrahita

Banyak terminologi yang digunakan menyebut mereka yang kondisi kecerdasannya dibawah rata-rata. Dalam Bahasa Indonesia, istilah yang pernah digunakan, misalnya lemah otak, lemah ingatan, lemah pikiran, retardasi mental, terbelakang mental, cacat grahita, dan tunagrahita.

Jadi tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan atau kelainan dalam hal kemampuan intelengensi yang berada dibawah rata-rata normal.

  1. Klasifikasi Tunagrahita

Pengklasifikasian anak tunagrahita penting dilakukan untuk mempermudah guru dalam menyusun program dan melaksanakan layanan pendidikan. Penting untuk memahami bahwa pada anak tunagrahita terdapat perbedaan individual yang variasinya sangat besar.

Pengklasifikasian ini pun bermacam-macam sesuai dengan disiplin ilmu maupun perubahan pandangan terhadap keberadaan anak tunagrahita. Klasifikasi anak tunagrahita yang telah lama dikenal adalah debil ( IQ 50-75), imbecile( IQ 25-50), dan idiot (IQ 0-25). Sedangkan klasifikasi yang dilakukan oleh kaum pendidik di Amerika adalah educable mentally retarded (mampu didik), trainable mentally retarded (mampu latih) dan totally/custodial dependent (mampu rawat).

Selain klasifikasi diatas ada pula pengelompokan berdasarkan kelainan jasmani yang disebut tipe klinik. Tipe-tipe klinik yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. a) Down syndrome (Mongoloid)

Anak Tunagrahita jenis ini disebut demikian karena memiliki raut muka menyerupai orang mongol dengan mata sipit dan miring, lidah tebal suka menjulur keluar, telinga kecil, kulit kasar, susunan gigi kurang baik

       2.b) Kretin (Cebol)

Anak ini memperlihatkan ciri-ciri, seperti badan gemuk dan pendek, kaki dan tangan pendek dan bengkok, kulit kering, tebal, dan keriput, rambut kering, lidah dan bibir, kelopak mata, telapak tangan dan kaki tebal, pertumbuhan gigi terlambat

       3.c) Hydroceptal

Anak ini memiliki cirri-ciri kepala besar, raut muka kecil, pandangan dan pendengaran tidak sempurna, mata kadang-kadang juling.

       4.d) Microcepal

Anak ini memiliki ukuran kepala yang kecil

  1. Karakteristik anak tunagrahita

Karakteristik anak tunagrahita dapat dibagi secara umum dan khusus. Secara umum karakteristik anak tunagrahita dapat ditinjau dari segi akademik, sosial emosional, fisik/kesehatan.

1.Akademik

Kapasitas belajar anak tunagrahita sangat terbatas, lebih-lebih kapasitasnya mengenai hal-hal yang abstrak. Mereka lebih banyak belajar dengan membeo (rote learning) dari pada dengan pengertian. Dari hari kehari mereka membuat kesalahan yang sama. Mereka cenderung menghindar dari perbuatan berpikir. Mereka mengalami kesukaran memusatkan perhatian, dan lapangan minatnya sedikit. Mereka juga cenderung cepat lupa, sukar membuat kreasi baru, serta rentang perhatiannya pendek.

2.Sosial/emosional

Dalam pergaulan anak tunagrahita tidak dapat mengurus diri, memelihara dan memimpin diri. Ketika masih muda mereka harus dibantu terus karena mereka mudah terperosok kedalam tingkah laku yang kurang baik. Mereka cenderung bergaul atau bermain bersama dengan anak yang lebih muda darinya.

Kehidupan penghayatanya terbatas. Mereka juga tidak mampu tidak mampu menyatakan rasa bangga dan kagum. Mereka mempunyai kepribadian yang kurang dinamis, mudah goyah, kurang menawan, dan tidak berpandangan luas. Mereka juga mudah disugesti atau dipengaruhi sehingga tidak jarang dari mereka mudah terperosok kehal-hal yang tidak baik, seperti mencuri, merusak, dan pelanggaran seksual.

Namun dibalik itu semua mereka menunjukkan ketekunan dan rasa empati yang baik asalkan mereka mendapatkan layanan atau perlakuan yang kondusif.

3.Fisik/kesehatan

Baik struktur maupun fungsi tubuh pada umumnya anak tunagrahita kurang dari anak normal. Mereka baru dapat berjalan dan berbicara pada usia yang lebih tua dari anak normal. Bagi anak tunagrahita yang berat dan sangat berat kurang merasakan sakit, bau badan tidak enak, badannya tidak segar tenaganya kurang mempunyai daya tahan dan banyak yang meninggal pada usia muda . Mereka mudah terserang penyakit keterbatasan memelihara diri serta tidak memahami cara hidup sehat.

Adapun secara khusus karakteristik anak tunagrahita dapat digolongkan menurut tingkat ketunagrahitaanya.

A.Karakteristik tunagrahita ringan

Tunagrahita ringan disebut juga moron atau debil. Kelompok ini memiliki IQ antara 68-52 menurut skala Binet, sedangakan menurut skala Weschler (WISC) memiliki IQ 69-55. Mereka masih mampu dididik dan dikembangkan dalam hal: membaca, menulis, mengeja, dan berhitung, menyesuaikan diri dan tidak menggantungkan diri kepada orang lain.

Meskipun tidak dapat menyamai anak normal seusia dengannya, mereka masih dapat belajar membaca, menulis dan berhitung sederhana. Pada usia 16 tahun atau lebih mereka dapat mempelajari bahan yang tingkat kesukarannya sama dengan kelas 3 dan kelas 5 SD. Kematangan belajar membaca baru dicapai pada umur 9 tahun dan 12 tahun sesuai dengan kecepatan berat dan ringannya kelainan. Mereka dapat bergaul dan mempelajari pekerjaan yang hanya memerlukan semi skilled. Sesudah dewasa banyak diantara mereka yang mampu berdiri sendiri. Pada usia dewasa kecerdasannya mencapai tingkat usia anak normal 9 dan 12 tahun.

B.Karakteristik anak Tunagrahita sedang

Anak tunagrahita sedang atau (imbesil). Kelompok ini memiliki IQ 51-36 pada skala Binet dan 54-40 menurut skala Weschler (WISC), hampir tidak bisa mempelajari pelajaran-pelajaran akademik. Perkembangan bahasanya lebih terbatas dari pada anak tunagrahita ringan. Mereka dapat berkomunikasi dengan beberapa kata. Mereka dapat membaca dan menulis, seperti namanya sendiri, alamatnya, nama orang tuanya, dan lain-lain. Mereka mengenal angka-angka tanpa pengertian. Namun demikian, mereka masih memiliki potensi untuk mengurus diri sendiri. Mereka dapat dilatih untuk mengerjakan sesuatu secara rutin, dapat dilatih berkawan, mengikuti dan menghargai hak milik orang lain.

C.Karakteristik anak tunagrahita berat dan sangat berat

Anak tunagrahita berat dan sangat berat (idiot) kelompok ini menurut skala Binet memiliki IQ antara 32-20 dan menurut skala weschler (WISC) adalah 39-25, hidupnya akan selalu tergantung pada pertolongan dan bantuan orang lain. Mereka tidak dapat memelihara diri sendiri (makanan, berpakaian, ke WC, dan sebagainya harus dibantu). Mereka tidak dapat membedakan bahaya dan bukan bahaya. Ia juga tidak dapat bicara kalaupun bicara hanya mampu mengucapkan kata-kata atau tanda sederhana saja. Kecerdasannya walaupun mencapai usisa dewasa berkisar seperti anak normal usia paling tinggi 4 tahun. Untuk menjaga kestabilan fisik dan kesehatannya mereka perlu diberikan kegiatan yang bermanfaatnya, seperti mengampelas memindahkan benda, mengisi karung dengan beras sampai penuh.

Disadur dari : http://paudanakcerdas.blogspot.co.id – Suhardi bae

Blog

Leave a Reply

Leave a Reply