Hypersensitive pada Anak

Hypersensitive pada Anak

Blog

Bagaimana menilai anak dengan hypersensitive itu mengalami kelainan fungsi sensorinya

Anak yang hypersensitive seringkali mengalami reaksi yang berlebihan terhadap suara, rasa dan perasaan, serta kejadian-kejadian yang lain yang membuat mereka tidak nyaman. Banyak orangtua menjadi khawatir kalau anak mereka yang hypersensitive mengalami kelainan disfungsi sensori dan membutuhkan penanganan dari para ahli.

Di bawah ini ada pembahasan yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering kali meresahkan orangtua, apakah anak yang hypersensitive sudah tentu mengalami kelainan fungsi sensori?

Anak yang hypersensitive terhadap kelainan fungsi sensori

Mempunyai anak yang hypersensitive belum tentu anak itu mengalami kelainan fungsi sensori, yang juga dikenal sebagai disfungsi integrase sensori. Banyak anak-anak yang mengalami hypersensitive terhadap kejadian atau rangsangan tertentu seperti terhadap suara, cahaya, sentuhan fisik, bertemu teman baru, berada di tempat yang baru, bahkan terhadap emosi orang lain. Bahkan anak yang hypersensitive cenderung menghindari keramaian, takut pada sentuhan-sentuhan  yang tidak terduga atau dia tidak menyukai permainan.

Mempunyai beberapa dari tanda-tanda hypersensitifitas tadi bisa saja mengarahkan bahwa anak tersebut mempunyai kelainan fungsi sensori, tapi ini juga bisa berarti bahwa anak tersebut hanya sebagai kebiasaan dari perilakunya saja.

Ketika kebiasaan perilaku menjadi kelainan

Kebiasaan perilaku dan sensitifitas tersebut tidak akan menjadi tanda-tanda atau gejala kelainan fungsi sensori sampai mereka mengalami konsekuensi yang serius di dalam kehidupan normalnya.

Contohnya adalah ketika anak mendengar alarm mobil yang berbunyi tiba-tiba, untuk anak-anak sensitive dia akan berlari mencari perlindungan atau suasan yang menurut dia aman dan nyaman, semua itu bentuk kewajaran dan normal pada anak-anak yang hanya hypersensitive. Kecuali jika anak itu ada reaksi yang lebih dramatis dari hanya sekedar berlari, seperti menutup telinga kuat-kuat, menjatuhkan benda yang suaranya mungkin lebih keras dari suara alarm mobil tersebut, perilaku tersebut baru bisa dikatakan kelainan fungsi sensori.

Memisahkan antara sensitifitas dan kelainan fungsi sensori

Sangatlah tidak mudah memisahkan antara sensitifitas pada anak  dengan kelainan fungsi sensori yang sesungguhnya, tapi dengan mengetahui bagaimana cara mengenali beberapa gejala akan membantu melihat perbedaan. Anak yang hypersensitive sering bereaksi pada rangsangan-rangsangan tertentu seperti :

  • Informasi, suara-suara.

  • Penciuman, aroma.

  • Sentuhan.

  • Emosi.

  • Penglihatan.

Menghadapi pemicu-pemicu sensitifitasnya akan membuat mereka tidak nyaman, mereka bahkan akan bereaksi secara tidak sehat dan itu membuat hypersensitifitasnya akan terlihat sama dengan beberapa kelainan-kelainan yang lain.

Anak yang hanya mengalami hypersensitive saja, ketika tidak ada pemicu dia akan bersikap biasa-biasa j normal pada umumnya. Tapi anak yang hypersensitive dengan kelainan biasanya akan menunjukan gejala-gejala itu secara konsisten, bahkan mereka sering kali membatasi kehidupannya sehingga kehidupan normalnya menjadi sulit. Proses transisi pada anak akan memicu hypersensitifitas dan itu tidak membahayakan bisa dikatakan wajar.

Kita juga bisa memisahkan antara hypersensitive dan kelainan fungsi sensori dengan melihat bagaimana anak bereaksi terhadap perilaku orang lain pada dirinya. Anak-anak hypersensitive bisa mengatur kondisinya seperti :

  • Memilih situasi yang tidak memicu sensitifitasnya.

  • Bisa menarik dirinya ketika berada dalam situasi yang menekan.

  • Bisa menggunakan headphone nya untuk mengatasi suara-suara yang mengganggu sensitifitasnya.

  • Mengenali batasan dirinya, contohnya adalah dia akan melakukan atau mendapatkan istirahat yang cukup.ketika akan mendapatkan situasi atau rangsangan yang memicu sensitifitasnya di waktu berikutnya.

Jika teknik-teknik berikut di atas berhasil di lalui oleh anak, maka bisa dipastikan bahwa anak hanya mengalami hypersensitifitas. Tapi apabila teknik itu tidak bisa berhasil dilalui oleh anak, maka anak itu bisa dinyatakan kelainan fungsi sensori terutama jika ada masalah dengan keseimbangan, control motoric, dan kesadaran pada bagian tubuhnya.