STRES DAN DEPRESI

STRES DAN DEPRESI

Fenomena bunuh diri ternyata memang dapat menghampiri siapa saja dari kalangan manapun. Tidak pandang bulu, entah di negara berkembang, maupun di negara maju. Itulah sebabnya, kasus bunuh diri menjadi perhatian serius Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), khususnya WHO.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengungkapkan bahwa angka bunuh diri di Indonesia adalah sebesar 2,9 kasus dari 100.000 populasi pada tahun 2015. Secara umum, angka tersebut masih lebih rendah dari Thailand (16 kasus dari 100.000 populasi). Namun, ada banyak kasus-kasus yang tidak dilaporkan.

Masih hangat dibicarakan  Suryo Utomo, salah satu dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM), Institut Teknologi Bandung (ITB) yang meninggal karena bunuh diri. Manajer group JKT48, Inao Jiro, gantung diri di kamar mandi rumahnya. Oka Mahendra meninggal setelah melakukan bunuh diri karena depresi akibat terlilit utang, sampai yang terakhir kita dengar  vokalis sekaligus frontman Linkin Park, Chester Bennington, mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara gantung diri di rumah pribadinya.

Kita semua tentu pernah mengalami stres. Salah satu contoh dari emosi yang merusak adalah stres. Namun sebetulnya, stres diperlukan agar kita bisa terpacu bekerja gigih untuk meraih cita-cita. Hormon yang bekerja pada saat kondisi stres, antara lain kortisol, seratonin, vasopresin, epinefrina, dan adrenalin. Namun jika stres berkepanjangan dan tidak terkendali maka akan berdampak pada fisik dan jiwa, seperti hasil penelitian berikut.

  1. Penelitian-penelitian dari Harvard University menemukan bahwa 60-90% pasien yang datang ke dokter sebenarnya disebabkan atau disertai dengan stres. Stres selalu berhubungan dengan penyakit-penyakit, seperti serangan jantung, hipertensi, diabetes, asma, sakit kronis, sulit tidur, alergi, sakit kepala, sakit punggung, kelainan kulit, kanker, bunuh diri, depresi, kelemahan sistem kekebalan tubuh, dan penurunan sel darah putih.
  2. Stres dapat mempengaruhi kadar kolesterol lebih besar daripada makanan. Riset yang dilakukan oleh Rosenman dalam Homeostatis (1993) terhadap beberapa mahasiswa kedokteran yang mendekati ujian dan akuntan selama musim pajak menunjukan bahwa terjadi peningkatan kadar kolesterol yang signifikan selama waktu yang menegangkan dibandingkan dengan pengaruh yang kecil dan justru tidak ada pengaruhnya sama sekali jika melalui makanan.
  3. Menurut Chandola dalam British Medical Journal (2006), selama beberapa tahun terjadi kematian akibat serangan jantung dan stroke sehingga terjadi peningkatan pengangguran dan pengurangan karyawan sebesar dua kali lipat daripada kematian akibat serangan jantung dan stroke.
  4. Page dan Brass dalam Yale Medical Military Medicine (2001) mengungkapkan bahwa stres berat diperkirakan merupakan faktor resiko terjadinya stroke pada orang yang berumur 50-an. Hasil studi terhadap 556 veteran Perang Dunia II menyimpulkan bahwa stroke lebih banyak menimpa mereka yang pernah dipenjara delapan kali daripada mereka yang tidak pernah tertangkap.
  5. Emosi yang tidak normal, seperti ketegangan, frustasi, dan kesedihan menjadi pemicu ketidaknormalan jantung dan penyebab kerusakan jantung yang permanen. Hasil riset menunjukkan bahwa ada hubungan langsung antara emosi yang negatif dengan aliran darah yang tidak mencukupi ke jantung sehingga meningkatkan serangan jantung (Journal of the American Medical Association, 1997).

Kondisi sehat dapat dipertahankan karena setiap individu memiliki ketahanan tubuh yang baik. Stres terjadi karena tidak memadainya kebutuhan dasar manusia yang akan bermanifestasi pada perubahan kondisi fisik, kognitif, emosi dan prilaku.

GEJALA GEJALA STRESS

Jika stress ini dibiarkan akan sangat berpangaruh dalam diri kita. Berikut adalah gejala dari stress Dari sisi cognitive:

  • Masalah di daya ingat.
  • Tidak mampu konsentrasi.
  • Cemas atau Pikirannya kemana mana.
  • Selalu khawatir.
  • Yang dilihat dan dipikirkan banyak negatifnya.

Dari sisi Emosi:

  • Moody.
  • Gampang marah.
  • Tidak bisa relax.
  • Merasa terkekang.
  • Merasa sendiri, kesepian dan terisolasi.
  • Depresi atau tidak bahagia.

Dari Sisi Fisik:

  • Sakit dan Nyeri.
  • Diare atau justru susah BAB.
  • Sakit di dada, detak jantung cepat.
  • Kehilangan nafsu sexual.
  • Sering demam.

Dari segi Tingkah Laku:

  • Makan banyak atau justru makannya berkurang.
  • Terlalu banyak tidur atau justru Susah Tidur.
  • Sering menunda nunda atau menolak suatu tanggung jawab.
  • Mengisolasi diri dari orang lain.
  • Menggunakan rokok, alkohol agar bisa relaks.
  • Kebiasaan yang mencerminkan kegelisahan(gigit kuku,mondar mandiri dll).

Banyak orang yang stress namun mereka tidak menyadarinya karena dianggap sudah biasa dianggap normal. Anda sama sekali tidak menyadarinya dan merasa seolah seolah olah anda berada di jalan tol bebas hambatan. Ini yang disebut hidden stress.  Mereka mengalami hal diatas tapi mereka merasa itu biasa saja.

PENYEBAB STRESS

Apa sih penyebab stress? Penyebab stress bisa karena faktor internal atau karena faktor eksternal Sebab umun dari fakor internal adalah:

  • Ketidakmampuan untuk menerimak ketidakpastian.
  • Sikap Pesimis.
  • Self Talk (cara kita berbicara pada diri kita) yang negative.
  • Ekspektasi(pengharapan) yang tidak realistis.
  • Perfeksionis , terlalu menuntut semuanya serba sempurna.
  • Tidak adanya ketegasan.

Sebab dari faktor eksternal adalah:

  • Perubahan hidup yang besar.
  • Pekerjaan.
  • Relasi yang tidak bagus.
  • Masalah finansial.
  • Terlalu Sibuk.
  • Masalah Anak dan Keluarga.

Stress bagi tiap orang tidak sama. Suatu masalah bagi si A bisa menyebabkan stress tapi bagi B hal itu tidak menimbulkan stress. Ada banyak masalah kesehatan yang ditimbulkan oleh stress diantaranya adalah:

  • Masalah di hati.
  • Masalah di perncernaan.
  • Susah tidur atau imsomnia.
  • Depresi.
  • Obesitas.
  • Penyakit auto imun.

Apa yang bisa kita lakukan ketika merasa depresi dan mulai berpikir untuk mengakhiri hidup? Ini ada beberapa hal yang bisa kita lakukan:

  1. Cari Orang yang Bisa Kita Percaya

Saya percaya bahwa kita memiliki orang-orang dekat dan bisa dipercaya. Mereka adalah orang-orang yang bersedia mendengarkan curahan hati dan juga masalah yang sedang kita alami. Jangan sungkan untuk menghubungi mereka, jelaskan bahwa kita membutuhkan bantuan mereka. Jangan memendam permasalahan sendiri, ceritakan hal-hal tersebut ke orang-orang terdekat.

Berdasarkan penelitian, berbagi cerita ke orang-orang yang dekat dengan kita dapat menurunkan tingkat stres. Mereka dapat menjadi pendengar dan juga memberikan masukan yang membantu kita agar merasa lebih baik.

  1. Jauhi Media Sosial

Media sosial terbukti dapat meningkatkan tingkat stres dan mendorong depresi. Berdasarkan penelitian dari Univesitas Brown, resiko depresi orang yang secara aktif menggunakan media sosial adalah 3.2 kali lebih besar dibandingkan dengan yang tidak menggunakan media sosial.

Kita bisa mulai melakukan “diet” media sosial. Batasi waktu penggunaan media sosial. Jika sebelumnya hampir setiap saat kita menggunakan media sosial, mungkin bisa mulai berhenti pada saat kita bangun tidur, makan siang bersama teman dan juga pada saat malam hari.

Simpan telefon genggam kita, dan nikmati kebersamaan dengan orang-orang yang ada di dekat kita.

  1. Lakukan Aktifitas yang Bisa Mengalihkan Perhatian

Depresi dan pemikiran bunuh diri sering kali muncul karena seseorang merasa kesepian. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk keluar dari perasaan kesepian ini adalah melakukan berbagai aktifitas.

Kita bisa melamar untuk magang, ikut kompetisi, menjadi volunteer, ikut kelas-kelas pelatihan singkat, atau olah raga. Aktifitas fisik yang reguler dapat memperlancar aliran darah yang bermanfaat untuk berbagai hormon yang ada di otak.

Buat diri sibuk dengan berbagai kegiatan untuk menghilangkan pikiran dan juga perasaan negatif dan merubahnya menjadi positif. Ini memang tidak mudah, namun saat kita mencoba dan berusaha keras dan melakukan repetisi maka akan membentuk kebiasaan pada diri kita.

  1. Cari Bantuan Dari Tenaga Profesional

Jika kita sudah melakukan hal-hal di atas namun masih tidak menolong, maka ini saat nya kita mencari bantuan dari tenaga profesional. Hal ini sangat penting untuk kita lakukan jika terus ada di dalam kondisi depresi dan berpikir untuk membunuh diri.

Salah satu yang bisa membatu dengan melakukan terapi hipnoterapi.  Hipnoterapi ini bukan sesuatu yang sering kita lihat di layar kaca, ini sangat berbeda jauh dengan yang ada di televisi. Disini anda tetap sadar dan tetap punya kontrol atas diri anda sendiri. Anda masih dapat berbicara, mendengar dan bergerak selama proses terapi, jadi bukan anda yang dikontrol. Anda berkuasa penuh atas diri anda.

Dengan hipnoterapi ini semua sumber stress dibuang, semua hal yang tidak nyaman dibuang dan kita diberikan sugesti positif untuk lebih semangat dan merasa mampu. Tidak hanya sugesti positif namun juga mencari akar masalah dari stress yang terjadi pada diri anda. Bisa juga dengan menyelesaikan konflik yang terjadi dalam diri kita.

Walau bagaimanapun setiap orang tidak bisa hidup jauh dari stres karena pada dasarnya hidup ini merupakan sebuah proses dimana ada kala senang ataupun sulit.

#dikutipdariberbagaisumber

Blog

Leave a Reply

Leave a Reply