Cara Mendidik Anak Untuk Percaya Diri

Cara Mendidik Anak Untuk Percaya Diri

Ada seorang anak yang begitu berani tampil depan umum, menari, bernyanyi dan bahkan melakukan aksinya di depan kamera. Anak tersebut terlihat percaya diri dan antusias. Tidak ada ketakutan sedikitpun di dalam raut wajah.

Namun di lain tempat, ada juga seorang anak yang penuh rasa malu. Begitu disuruh maju oleh orang tuanya, anak tersebut menolak, tidak mau maju, dan justru memegang celana orang tuanya dengan lebih kencang. Anak tersebut penuh dengan ketidakpercayaan diri, penuh dengan ketakutan.

Apakah Anda sebagai orang tua mempunyai anak seperti dua contoh di atas ? Manakah yang Anda inginkan terjadi pada anak Anda ? Sudah sangat pasti Anda menginginkan anak Anda menjadi anak seperti pada contoh pertama.

Setiap orang tua pasti  menginginkan anaknya percaya diri. Namun satu hal penting yang perlu diingat, kepercayaan diri anak berasal dari benar atau tidaknya didikan dari orang tua. Tindakan dan karakter anak benar-benar ditentukan dari proses belajar di rumah oleh orang tuanya. Jadi tentu saja, Anda sebagai orang tua perlu mengetahui cara-cara yang efektif mendidik anak untuk percaya diri :

Berikut ini cara mendidik anak untuk percaya diri :

  1. Mengajarkan Perilaku Untuk Mandiri

Mandiri bagi seorang anak mempunyai arti mampu melakukan sendiri tugas atau tanggung jawab yang dimiliki. Namun perlu diperhatikan juga tugas dan  tanggung jawab anak harus sesuai dengan usianya, bukan sesuai dengan keinginan orang tua.

Pribadi yang mandiri perlu diajarkan sejak dini pada seorang anak. Anak mulai dapat diberitahukan tugas dan tanggung jawab secara ringan dan sederhana. Misalkan, seorang anak usia empat tahun sudah mampu diajarkan cara memakai sepatunya sendiri. Pada awalnya orang tua dapat membantu, dan menunjukan cara memakai sepatu, namun setelah dicontohkan beberapa kali, anak perlu mencobanya sendiri.

Pada awalnya, biasanya seorang anak akan melakukan kesalahan, seperti tertukar memakai sepatu, ataupun tidak mampu mengikat sepatu, namun kesalahan ini membuat mereka belajar bagaimana dampak dari tindakan yang mereka lakukan. Anda sebagai orang tua dapat memberikan hukuman sesuai dengan kesalahan anak. Namun hukuman yang dilakukan harus relevan dengan usia dan pemahaman anak, juga harus dengan cara yang bijak dan tepat.

Jika anda sebagai orang tua mengajarkan hal ini dengan baik, ketika anak dewasa, anak akan menjadi mandiri dan lebih percaya diri.

 

  1. Memperbolehkan Anak untuk Mengembangkan Kreativitas

Anak sebenarnya sangat kreatif karena saat masih kecil seorang anak lebih banyak menggunakan otak kanannya dibandingkan otak kirinya. Otak kanan dominan emosi dan kreativitas pada diri seseorang. Jadi setiap anak biasanya kreatif.

Untuk membuat anak percaya diri, orang tua perlu memahami bahwa kreativitas anak perlu dikembangkan. Jangan menghalangi anak untuk mengeksplorasi hal yang ia sukai. Misalkan, seorang anak yang mempunyai kreativitas menggambar biasanya suka mencoret-coret di dinding rumah. Seringkali respon dari orang tua begitu ada kejadian ini, orang tua langsung melarang dan memarahi anak.

Jika Anda menginginkan anak Anda percaya diri, STOP marah Anda, dan bebaskan anak Anda untuk berkreativitas. Yang perlu Anda lakukan cuma mengarahkannya supaya kreativitas tetap tersalurkan namun tidak membahayakan diri dan orang lain. Berhentilah untuk mencekik dan membuang bakat anak.

 

  1. Ajari Rasa Tanggung Jawab

Tanggung jawab merupakan karakter yang sangat penting bagi perkembangan mental seorang anak. Dengan tanggung jawab, anak mampu menyelesaikan kewajibannya dan berani mengakui kesalahan apabila melakukan salah.  Dengan mengajarkan tanggung jawab, seorang anak akan menjadi seorang anak yang kuat, pemberani dan inisiatif.

Banyak contoh yang bdapat dilakukan orang tua untuk mengajari anaknya rasa tanggung jawab. Salah satu contoh yang bisa dilakukan orang tua, misalnya,  ketika anak tidak sengaja memecahkan salah satu barang pecah belah, orang tua tidak langsung spontan memarahi anak. Namun ajarkanlah anak untuk mengakui bahwa perbuatannya salah. Dan setelah anak berani mengaku salah, berikan toleransi dan pengertian bahwa lebih penting adalah kejujuran dan mau bertanggung jawab dibanding hukuman. Dengan melatih seperti ini, pastinya anak Anda akan bertanggung jawab di kemudian harinya.

 

  1. Membangun Kepercayaan dengan Orang

Anak tidak selamanya perlu perlindungan dari Anda karena suatu saat akan ada waktu-waktu dia akan harus menghadapi hidupnya sendiri. Salah satu contoh momen terdekat yang perlu dihadapinya sendiri adalah saat dia sedang berada di sekolah dan belajar di kelas. Anak Anda perlu berani untuk ditinggal bersama guru dan teman-temannya di kelas.

Oleh karena itu yang diperlukan oleh anak bukanlah perlindungan dari orang tua setiap saat. Namun yang diperlukan anak adalah rasa percaya bahwa dia mampu melakukan tugas yang sesuai dengan usianya. Rasa percaya ini akan muncul saat orang tua berani membiarkan anak untuk mencoba sebuah tugas atau tindakan yang anak sebenarnya mampu melakukannya.

Misalkan, pada saat anak berusia 5-6 tahun ( saat tingkat TK besar  atau SD) anak sudah diperbolehkan untuk mencoba menggunakan alat-alat tajam, seperti pisau kecil, atau gunting. Anak sudah mulai diperbolehkan latihan memotong kertas atau sayur-sayuran sederhana namun tetap dalam pengawasan orang tua. Tindakan ini dapat melatih hubungan kepercayaan antara anak dan orang tua sekaligus meningkatkan kepercayaan diri anak. Sikap terlalu protektof pada anak bukanlah solusi terbaik untuk menghindari bahaya, namun sebenarnya cara yang terbaik adalah mengajarkan anak untuk mencari cara mengatasi masalha dengan benar dan percaya anak mampu melakukannya.

 

  1. Berani menantang kesulitan

Anak pun perlu tantangan didalam kehidupan kecilnya. Tantangan dan hambatan yang ada justru akan melatih mereka untuk mencari solusi mengatasi tantangan dan hambatan tersebut. Saat tantangan dan hambatan anak Anda sudah terlewati, yakinlah bahwa anak Anda semakin hebat.

Mungkin saat menghadapi tantangan, anak Anda akan mengalami kesulitan. Respon yang biasa dirasakan adalah takut dan bersembunyi. Namun di saat inilah orang tua mempunyai peran yang sangat penting, yaitu doronglah anak Anda untuk berani menyelesaikan masalahnya.

Misalkan saat Anda sedang memakai sepatu, namun kesulitan memasukan kakinya, Anda dapat menyorakinya dengan semangat “ Ayo Dek, sedikit lagi kakinya masuk” bukan membantunya langsung memasukan kaki ke dalam sepatu. Tindakan mendukung anak untuk menyelesaikan kesulitannya sangat membantu pembentukan kepercayaan diri anak. Anak yang selalu menghindari proses kesulitan, ke depannya akan sulit menghindari kesulitan hidupnya.

 

  1. Ajarkan Proses Lebih Penting daripada Hasil

Proses lebih penting daripada hasil. Mau mengerjakan proses dengan baik dan tuntas merupakan karakter positif bagi anak yang mendukung kepercayaan dirinya. Dengan mementingkan proses dibanding hasil, anak  belajar untuk fokus dan berusaha semaksimal mungkin. Dan anak belajar bahwa hasil adalah bonus dari usaha yang dilakukan.

Untuk lebih mengutamakan proses, anak perlu mendapatkan dorongan positif dengan cara motivasi dan kasih sayang.  Motivasi dari orang tua sangat berperan penting dalam pelaksaanaan proses yang dilakukan anak. Bahkan jikapun anak gagal, ia memerlukan kasih sayang dan dorongan dari orang tuanya. Contoh sederha yang bisa dilakukan orang tua seperti saat anak memperlihatkan hasil ujiannya, Anda perlu mengatakan , “ Kamu hebat Nak, tingkatkan usaha kamu dan tetap semangat!!” dibandingkan  kalimat “Kapan kamu juara satu di kelas ?”

 

  1. Biarkan Anak Memiliki Kebebasan yang Cukup

Kebebasan membuat seseorang mampu berekspresi. Dengan adanya kebebasan seseorang belajar untuk bisa mengatur tindakan, tempat, dan suasana yang diinginkannya. Begitu juga yang dapat dirasakan oleh anak Anda.

Anak Anda memerlukan juga sebuah kebebasannya sebagai anak. Karena dengan adanya kebebasan, anak mampu berekspresi dan melatih kepercayaan dirinya. Cara yang paling mudah untuk memberikan kebebasan pada anak, yaitu memberikan anak Anda satu tempat dimana ia memiliki kebebasan sepenuhnya. Berikan juga padanya kesempatan untuk bermain dan mengenal diri sendiri. Biarkan mereka mengatur dunia kecil mereka sesuka hati, entah anak Anda ingin mengatur dekorasi, penyusunan mainan, ataupun foto yang ingin ditaruh ditempat bermain mereka.

 

  1. Ajari untuk optimis

Sikap optimis adalah kepercayaan diri yang tinggi dan tidak ternilai. Anak Anda membutuhkan hal ini dalam kehidupannya. Dengan adanya sikap optimis, seorang anak berani mencoba, berani maju, dan berani bangkit lagi.

Sebagai orang tua perlu mengajari anak untuk optimis, misal saat anak Anda akan mengikuti lomba lari, dan dia melihat saingannya berbadan lebih tinggi atau besar, tetap ajarkan anak Anda untuk berusaha semaksimal mungkin, yakin bahwa dia bisa. Sering gunakan kata-kata “ Kamu Bisa !!” dibandingkan “yah coba aja”   

 

  1. Berikan Dukungan Dibanding Hukuman

Hukuman dan dukungan seringkali menjadi kebingungan dari orang tua. Namun kedua hal ini tetap perlu dilakukan olah orang tua dengan porsi yang seimbang dan relevan sesuai umur anak. Namun dalam hal mendidik anak untuk percaya diri, dukungan lebih berguna daripada hukuman.

Anda sebagai orang tua akan lebih bisa memperbaiki  kesalahan anak dengan mendukung mereka. Saat Anda menapresiasi  anak dan memberi pahala kecil atas perilaku baik anak, hal tersebut akan memberikan dampak yang besar terhadap kepercayaan diri anak.

Sebaliknya, ketika orangtua selalu mengoceh pada anak untuk menyuruh membereskan mainannya, justru yang terjadi anak akan merasa lelah dan malas mengerjakan yang diperintahkan, dan bahkan lebih parah lagi anak bisa memberontak. Jika orangtua memberi pujian, mereka malah ingin melakukan dan merasa membereskan mainan adalah sesuatu yang mereka suka. Oleh karena itu, sebagai orang tua lebih seringlah memuji anak apabila anak menunjukan perilaku yang baik.

 

Jika anak Anda mengalami gangguan dalam kepercayaan diri, silakan konsultasikan pada kami

Blog

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.