Kejahatan HIPNOTIS

Blog

Sejak beberapa tahun terakhir mungkin kita sering mendengar “kejahatan Hipnotis” terjadi di jalanan. Berita tersebut tersebar melaui media cetak, elektronik maupun perbincangan sehari-hari. Saya sebagai Hypnotis Profesional tergerak untuk meluruskan berita yang beredar di kalangan masyarakat tersebut.

Kita harus menyadari bawa apapun yang ada didunia ini, bisa kita jadikan sebagai alat atau sarana untuk melaukunan kejahatan, begitu juga dengan ilmu pengetahuan.

Sebelumnya saya mohon maaf karena dalam penjelasanya saya akan menggunakan beberapa contoh ilmu pengetahuan lain sebagai pembandingnya. Bukan bermaksud untuk merendahkan ilmu atau profesinya, melainkan hanya sebagai ilustrasi saja.

Beberapa contoh ilustrasinya adalah : Ilmu matematika atau akuntansi. Apakah ilmu tersebut bisa dijadikan sebagai alat untuk melakukan kejahatan..?! Jawabanya tentu Bisa… beberapa koruptor sangat menguasai kedua ilmu tersebut bukan…?! contoh lain adalah ilmu Kimia dan Fisika… dengan menguasai salah satu atau kedua ilmu tersebut mungkin kita bisa membuat sebuah Bom yang sangat dahsyat… begitu juga dengan ilmu-ilmu yang lainnya, seperti ilmu kedokteran, Hukum, Biologi, dan lain lain.

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah siapa yang bersalah? Apakah ilmunya atau ….?!!

Yang pasti, semua kembali lagi kepada moral individu masing-masing bukan…?!

Penjelasan singkat tentang Hypnosis

Sama halnya dengan ilmu-ilmu lain, keilmuan Hypnosis juga bisa digunakan untuk melakukan kejahatan. namun bukan utuk melakukan “kejahatan” seperti yang sering kita dengar di media massa.

Hipnosis merupakan sebuah metode untuk mananamkan informasi atau memory kedalam pikiran bawaha sadar seseorang, untuk kemudian dijadikan sebuah pemahaman, nilai ataupun tindakan. (Hypnotis bukanlah ilmu untuk menghilangkan kesadaran seseorang. Hypnosis juga bukan ilmu untuk memepengaruhi orang lain).

Dalam setiap proses hipnosis diperlukan waktu yang cukup dan cara yang tepat untuk membawa seseorang memasuki hipnosis state. Jadi sangat tidak benar jika hipnosis dilakukan dengan menggunakan tepukan bahu atau bersalaman seperti yang sering kita dengar dan kita saksikan di televisi.

(lihat artikel : stage hypnotist show – Mitos – www.ferdians.com)

Hipnosis sesungguhnya bukanlah hal yang aneh, karena pada dasarnya setiap orang pasti pernah melakukanya. Dengan kata lain, disadari maupun tidak disadari setiap orang pasti pernah “menghipnotis” dan “terhipnotis”, meskipun sama sekali tidak menguasai ilmu hypnosis.

Keilmuan hypnosis jika di sangkut pautkan dengan aspek kehidupan dan prilaku manusia sengatlah erat kaitanya. Contoh dalam kehidupan atau prilaku sehari-hari adalah: tayangan iklan dimedia cetak atau elektronik, seseorang yang sedang membaca atau belajar, ibu-ibu yang terlarut ketika menyaksikan sinetron, orang tua yang menasihati anaknya, seseorang yang sedang mengendarai mobil dijalan tol, sepasang kekasih yang saling merayu dan masih banyak aspek atau prilaku lainya yang merupakan proses atau keadaan hipnosis.

Namun apakah kita akan menyebut iklan adalah hypnosis…?!,

ibu-ibu yang terlarut kedalam cerita sinetron dikatakan kena hipnotis…?!,

Seseoarang yang sedang belajar kita sebut orang yang sedang melakukan hipnosis diri…?!

Orang tua yang menasihati anaknya dikatakan sedang menghipnotis anaknya…?!

orang yang sedang mengendarai kendaraan dikatakan orang yang terhipnosis…?!.

Sepasang kekasih yang saling merayu kita katakan saling menghipnotis…?!Tentunya tidak…!!

Meskipun semua hal diatas sangat erat kaitanya dengan proses hypnosis, istilah atau sebuatan yang tepat untuk semua prilaku diatas disesuaikan dengan tujuan dan kegiatan yang dilakukan.

Kita tidak mengatakan semua hal diatas adalah hipnotis atau hypnosis, kita tetap mengatakan iklan adalah iklan, nonton adalah nonton, belajar adalah belajar, orang yang sedang menasihati anaknya disebut mendidik, mengendarai kendaraan adalah berkendara atau mengemudi, saling merayu biasa disebut pacaran.

Kejahatan Hypnotis lebih tepat dikatakan sebagai Kejahatan penipuan

meskipun keilmuan hipnosis juga dapat menjelaskan secara rinci proses terjadinya kejahatan tersebut, namun tidak semua orang yang menguasai ilmu hypnosis mampu melakukan Penipuan tersebut (Kejahatan Hypnotis seperti yang sering diberitakan) termasuk seorang pakar hipnosis yang paling hebat sekali pun belum tentu dapat melakukannya. Bahkan sebaliknya banyak pelaku kejahatan tersebut justru mengaku mereka sama sekali tidak menguasai ilmu Hypnosis. Beberapa dari mereka mengatakan pada saat beraksi mereka hanya berusaha untuk menipu, membodohi dan merayu korbanya agar si korban mau menyerahkan barang-barang yang dimintanya, dengan memanfaatka kepolosan, ketidaktahuan, kebodohan, keserakahan dan empati korban. baik secara langsung maupun melaui SMS atau telephone. Tujuanya adalah membuat korbanya bingung, panik, senang, bahkan membuat si korban merasa sangat mengenali pelaku. Sehingga dalam keadaan demikian korban tanpa berpikir panjang mau menyerahkan apapun yang diminta pelaku.

Beberapa contoh kasus Penipuan yang sering di sebut sebagai ”kejahatan Hypnotis” :

  • Pelaku menepuk bahu korban kemudian menawarkan Jam tangan yang berharga mahal (Rolex) dengan harga yang sangat murah. Padahal jam tersebut palsu.
  • Sambil bersalaman, pelaku mengaku kerabat dekat korban, padahal korban sama sekali tidak mengenalnya. Dengan tipu muslihatnya korban dibuat bingung, dan akhirnya korban mau menyerahkan semua barang yang dibawa korban.
  • Pelaku bertamu kesebuah rumah yang ditinggal majikanya, dengan memanfaatkan kepolosan dan ketidak tahuan pembatu rumah tangga, pelaku mengaku disuruh majikanya untuk mengambil beberapa barang.
  • Pelaku menghubungi korban dan mengatakan bahwa seorang kerabat korban mengalami kecelakaan dan membutuhkan biaya segera. Dalam keadaan panik bercampur sedih korban akan menyarahkan sejumlah uang yang diminta pelaku.
  • Pelaku bersama komplotanya menysusn sebuah strategi dimana pada awalnya seorang pelaku menghampiri korban dengan menawarkan sesuatu yang jika dilihat sepintas sangat menguntungkan korban, pada saat korban dalam keadaan bimbang, seorang komplotan lain menghampiri seolah olah tidak mengenal pelaku dan meyakinkan korban untuk mau menerima tawaran pelaku, hingga akhirnya korban terjerat oleh tipu muslihat komplotan pelaku.
  • Dan masih banyak kasus lain yang serupa

Dari sekian banyak kasus penipuan yang terjadi biasanya korban “mengaku” tidak mengingat apapun yang terjadi selama proses penipuan berlansung. Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan korban melupakan seluruh proses penipuan tersebut:

Kemungkinan pertama, Korban mengalami shock yang sangat hebat ketika menyadari barang barangnya raib ditipu pelaku. Sehingga perhatian korban hanya tertuju pada penyesalanya dan secara tidak sengaja korban melupakan proses kejadianya.

Kemungkinan yang kedua adalah, korban “pura-pura” lupa atau “mengaku” tidak mengingat apapun, karena korban merasa malu jika mengakui dirinya kena tipu.

Dari contoh kasus diatas terlihat jelas bahwa semua yang dilakukan pelaku adalah tindakan tipu muslihat dengan memanfaatkan : kesempatan, ketidaktahuan, kepolosan, kesedihan, kebingungan, keserakahan, kebodohan, empati korban.

tepukan bahu dan salaman sebenarnya hanya sapaan pembuka. Yang berbahaya dari pelaku adalah tipu muslihatnya.

Jadi secara pribadi saya tidak setuju bila kejahatan demikian dikatakan kejahatn hipnotis. Meskipun hanya masalah istilah, namun saya lebih setuju bila kejahatan demikian dikatakan sebagai Kejahatan Penipuan…!!!. karena untuk melakukan kejahatn tersebut tidak perlu menguasai ilmu Hipnosis… yang diperlukan hanyalah ilmu TIPU….!!!

Bagaimana dengan anda…?!!

Pesan saya berhati-hatilah terhadap orang yang tidak anda kenal…

Efek Bullying pada kesehatan mental anak

Blog

Bullying dapat memiliki efek yang berkelanjutan pada kesehatan mental seseorang. Sebuah studi baru menemukan bahwa anak-anak yang sering diganggu ketika mereka berusia 8 tahun lebih memungkinkan mendapat gangguan kejiwaan yang membutuhkan perawatan sebagai orang dewasa, dibandingkan dengan anak-anak .

yang tidak diganggu. Para ilmuwan juga menemukan bukti kuat bahwa anak anak yang sering diganggu akan menempatkan anak-anak pada resiko tinggi untuk depresi sebagai dewasa muda, menurut penelitian psikater menemukan bahwa menjadi korban intimidasi pada anak usia dini meningkatkan resiko gangguan depresi yang perlu perawatan psikiatris di kemudian hari. Studi sebelumnya telah menemukan hubungan antara bullying dan resiko yang lebih tinggi bagi masalah kesehatan mental selama masa kanak-kanak, seperti rendah diri, prestasi sekolah yang buruk, depresi dan peningkatan resiko untuk bunuh diri. Tetapi sedikit yang mengetahui tentang kesehatan psikologis jangka panjang orang dewasa yang memiliki pengalaman sebagai anak-anak pelaku bullying dan korban bullying. Sebuah studi memaparkan bahwa ketika masa kanak-kanak yang terintimidasi dalam jangka panjang  dari tahun awal sekolah sampai dewasa muda akan mengalami efek berkelanjutan pada kesehatan mentalnya pada usia dewasa yaitu pada renatng usia 8 sampai usia 29.

Dalam studi tersebut menganalisis data dimana anak ketika mencapai usia 8 terbagi menjadi 4 kelompok

  1. Anak-anak yang tidak terlibat dlam bullying (mereka bukan pengganggu atau diganggu)
  2. Anak-anak korban bullying namun tidak menggertak orang lain
  3. Anak-anak pelaku bullying tetapi bukan juga sebagai korban bullying
  4. Anak-anak pelaku bullying dan juga korban bullying

Konsekuensi kesehatan mental

Kemudian, para peneliti melihat hasil kesehatan mental anak-anak usia 16 – 29 dengan memeriksa data dari rumah sakit yang mencakup semua kunjungan kesehatan mental rawat inap dan rawat jalan, menemukan bahwa sebagian besar dari anak-anak atau 90% dari mereka yang terlibat bullying, dan diantara kelompok ini sekitar 12% telah didiagnosis dengan gangguan jiwa sebelum usia 30.

Tapi sekitar 20% dari mereka pelaku bullying sebagai anak-anak memiliki masalah kesehatan mental yang membutuhkan perawatan medis sebagai remaja atau dewasa muda dan 23% dari anak-anak yang menjadi korban bullying telah meminta bantuan untuk masalah kejiwaan sebelum usia 30.

Kelompok yanag bernasib terburuk dalam hal kesehatan mental dewasa adalah usia 8 tahun yang sering menjadi pelaku dan korban bullying dan disinilah efek yang paling buruk karena akan berkelanjutan sampai anak mencapai usia dewasa muda atau bisa lebih buruk lagi sampai usia dewasa. Maka dari itu anak-anak ini memerlukan pengobatan sejak dini karena anak-anaka ini beresiko tinggi untuk menderita depresi, gangguan kecemasan, skizoprenia, dan penyalahgunaan zat terlarang.

Ketika seorang anak merupakan pelaku dan korban bullying oleh teman-temannya sendiri, ini adalah peringatan keras. Hal ini dapat menunjukan bahwa anak itu dalam masalah kejiwaan serius dan anak-anak ini akan berada pada resiko tinggi menderita gangguan berbagai kesehatan mental nanti dimasa dewasa.

Sering ditindas oleh anak-anak lain adalah pengalaman traumatis, dan kita perlu mendapatkan pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana pentingnya menjalin pertemanan yang sehat dan pendidikan prasekolah yang baik sebagai bekal pengalaman bagi perkembangan mereka. Ketika anak-anak sering menjadi sasaran bullying hal itu mempengaruhi perkembangan sosial, emosional, dan psikologis mereka.

Pelaku dan korban bullying harus ditanggapi dengan serius oleh guru, orang tua dan teman-teman mereka karena intervensi awal dalam bullying masa kecil dapat membantu mencegah kesehatan mental jangka panjang.

Cara Mengajar yang baik dengan Teknik Multi Sensory

Cara Mengajar yang baik dengan Teknik Multi Sensory

Blog

Apa itu teknik mengajar multisensory? “kalau anak tidak berhasil memhaami semua pelajaran yang anda ajarkan, maka anda harus segera mengubah strategi mengajar anda sesuai dengan cara belajarnya”.

Teknik mengajar multisensory sering digunakan untuk anak anak yang mempunyai cara belajar yang berbeda beda. Seperti telah dilakukan sebuah penelitian bahwa anak yang mempunyai kesulitan belajar membaca, sebuah teknik mengajar multisensory akan sangat efektif di gunakan pada anak ini.

Teknik dan strategi  mengajar multisensory merangsang pembelajaran dengan menggabungkan para siswa kedalam beberapa cara belajar dengan tingkatan yang berbeda pula. Teknik ini mendorong siswa untuk menggunakan beberapa atau seluruh indranya untuk mengumpulkan sebuah matarantai informasi yang nantinya akan memberinya ide ide untuk memahami dan merasakan secara logika dan kemudian memberikan problem solving.

Mempelajari problem solving atau cara mengatasi masalah sampai mencapai pemahaman hubungan antar konsep satu dengan yang lain dengan cara pengungkapan alasan yang nonverbal. Menyimpan informasi dan menyimpannya untuk kemudian digali lagi.

Menggunakan sebuah teknik mengajar multisensory adalah membantu para siswa untuk belajar melalui beberapa indra atau sensor yang dimilliki. Kebanyan teknik mengajar yang telah biasa digunakan adalah antara pendengaran atau penglihatan (visual atau auditory). Penglihatan anak adalah untuk membaca informasi, melihat teks, gambar  bacaan informasi dari papan tulis. Pendengaran di gunakan untuk mendengarkan apa yang diterangkan oleh guru. Pengllihatan anak dapat terpengaruh dengan kesulitan mengkuti proses visual, begitu pula dengan pendengaran terkadang proses auditory anak sangat lemah.

Solusinya dari kesulitan kesulitan ini adalah dengan melibatkan lebih banyak lagi indra indra yang dimiliki anak, terutama indra peraba (tactile) dan gerakan (kinesthetic), ini akan menolong otak anak anak untuk berkembang menyimpan memori  secara tactile dan kinestetik sebaik dengan mereka yang visual atau auditory.

Anak anak yang mengalami kesulitan belajar tertentu mempunyai kesulitan pada satu atau lebih area seperti membaca, mengeja, menulis, mendengar perbandingan, bahasa yang ekspresif.  Teknik mengajar multisensorymembantu anak untuk menggunakan kelebihan indra atau sensornya  untuk belajar dan lebih memahami pelajaranya dengan cepat. Mereka dapar mengatur dari yang sederhana sampai ke yang kompleks tergantung kebutuhan dan tugas yang diberikan.

Learning Style

Beberapa teori dari para peneliti menyebutkan bahwa banyak dari anak anak yang mempunyai cara belajar pada area tertentu atau mempunyai kemampuan belajar dengan indra atau sensor tertentu,yang disebut dengan “learning style”, dan disarankan untuk menggunakan teknik ini dalam mengajar ,jika ini diterapkan secara simultan dan konsisten maka anak anak akan pelajaran dan informasi akan mudah tersampaikan,mereka mudah memahami.

Ini adalah beberapa teknik multisensory yang bisa di gunakan sebagai panduan untuk membimbing anak anak dalam belajar :

  1. Untuk merangsang para visual learner
  • Bacaan atau gambar diatas kertas, poster, model, graf
  • Pengajaran dengan infokus
  1. Auditory learner
  • Rekaman kaset, memasang alat pembaca.
  • Film, musik, lagu, bicara yang berirama.
  1. Tactle learner
  • Menggunakan bak pasir,kertas timbul, objek objek yang bertekstur
  • Mengunakan model utuh atau nyata yang bisa diraba atau dipegang
  • Menggunakan bahan yang bisa dibentuk seperti playdough untuk belajar matematika atau angka
  1. Kinestetik learner
  • Menggunakan gerakan motorik kasar seperti lompat, tepuk, menari,
  • Bernyanyi sambil berhitung atau menghapal benda benda atau hal hal yang lainya
  • Perbanyak game atau permainan yang mengajak untuk bergerak dengan kecepatan.

Bagaimana teknik mengajar multisensory ini bekerja ?

Proses pembelajaran sering terhambat pada penglihatan atau visual anak pada proses membaca buku teks, memahami informasi ini juga terjadi pada pendengaran, banyak anak mempunyai kelemahan dalam proses penerimaan pelajaran atau memahaminya karena kesulitan dalam pendengaranya.

Teknik mengajar dengan multisensory  tidak dibatasi dengan penggunaan pada mendengar (listening) atau membaca (reading) semata, teknik ini mencoba untuk menggunakan seluruh indra atau sensor pada anak. Setiap pelajaran tidak akan menggunakan setiap sensor pada anak (rasa, penciuman, sentuhan, penglihatan, pendengaran, atau pergerakan). Tapi dengan multisensory anak akan di hubungkan dengan pelajarannya menggunakan lebih dari satu cara untuk mempelajari dan memahami setiap pelajaran

Digunakan untuk subjek subjek apa saja teknik mengajar multisensory?

  1. Banyak digunakan pada program pembelajaran pada anak anak yang mengalami kesulitan dalam membaca, mengeja, memahami.
  2. Digunakan juga untuk anak anak yang kesulitan dibidang matematika, berhitung, menghitung, geometri.
  3. Digunakan dalam pelajaran science, dimana anak di ajak untuk menampilkan eksperimen dari mulai proses sampai menemukan hasil.
  4. Digunakan bagi anak yang kinestetik learner, dimana anak diajak tidak hanya mendengar, melihat tapi juga bergerak dalam mengikuti pelajaran, seperti mengingat angka, selain melihat dan mendengar angka, maka dapat di iringi dengan tepukan atau tarian agar anak dapat mengintanya.

Teknik mengajar multisensory sangat bermanfaat bagi semua anak peserta didik dalam kelas terutama bagi anak yang mempunyai kesulitan dalam visual dan auditory atau anak yang mempunya kesulitan dalam focus atau konsentrasi.

Menggunakan multisensory memberikan anak anak banyak cara dalam pembelajaran dan memahaminya, teknik ini juga memudahkan anak untuk :

  1. Mengumpulkan informasi
  2. Menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah di dapat sebelumnya
  3. Memahami dan membuat jalan keluar untuk setiap masalah
  4. Menggunakan alasan alasan secara nonverbal
  5. Membantu anak untuk bisa mencapai potensi belajar yang ada dalam dirinya dalam mengingat dan memahami pelajaran.

Teknik mengajar multisensory akan menunjukan bahwa beda anak beda cara belajar dan memahami pelajaran yang disampaikan, ini juga membantu menemukan anak anak selain dari anak yang kesulitan fokus atau konsentrasi. Dan dengan multisensory akan membantu peluang anak anak dalam mencapai kesuksesan.

Cara Merawat Anak Down Syndrome

Cara Merawat Anak Down Syndrome

Blog

Merawat anak dengan down syndrome memang tidaklah mudah. Namun sebagai orang tua, merawat anak adalah suatu kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan termasuk merawat anak dengan down syndrome. Memiliki banyak pengetahuan tentang down syndrome akan sangat membantu Anda tentang bagaimana cara merawat anak dengan down syndrome secara benar sehingga anak bisa tumbuh dengan sehat dan produktif.

Anak merupakan Anugerah dari Tuhan. Bagiamana pun kondisi anak sudah seharusnya orang tua mampu menerimanya dengan ikhlas, termasuk menerima anak dengan down syndrome. Meskipun memang bukan hal mudah, namun orang tua tetap harus berusaha ikhlas menerima kondisi yang dialami anak serta berusaha merawat anak dengan down syndrome sebaik-baiknya.

Meskipun memiliki kekurangan dengan keterbelakangan mental dan fisik, bukan berarti anak dengan down syndrome tidak bisa berprestasi. Telah banyak yang membuktikan bahwa dengan merawat serta membesarkan anak dengan down syndrome dengan penuh kasih sayang, anak bisa berprestasi bahkan sampai tingkat internasional.

Merawat anak dengan down syndrome memang bukan perkara mudah. Untuk itu beberapa cara merawat anak dengan down syndrome di bawah ini dapat Anda gunakan untuk membantu Anda merawat anak dengan down syndrome. Beberapa cara merawat anak dengan down syndrome yang bisa Anda lakukan antara lain.

Cara merawat anak dengan down syndrome:

  1. Mencari tahu tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan down syndrome

Cara merawat anak dengan down syndrome yang pertama adalah dengan mencari tahu segala sesuatu yang berhubungan dengan down syndrome. Mencari tahu tentang segala sesuatu atau infomasi yang berhubungan dengan down syndrome akan membuat Anda mendapatkan lebih banyak pengetahuan tentang down syndrome sehingga lebih mudah pula bagi Anda untuk mengetahui kebutuhan anak.

  1. Selalu memberikan kasih sayang pada anak

Cara merawat anak dengan down syndrome yang kedua adalah dengan selalu memberikan kasih sayang pada anak. Kasih sayang keluarga terutama orang tua sangat diperlukan untuk perkembangan anak. Down syndrome merupakan kondisi yang akan dialami seumur hidup, namun dengan adanya kasih sayang dari keluarga terutama orang tua dapat membuat anak dengan down syndrome hidup lebih lama, sehat dan bahagia.

  1. Mengenali bakat anak dan fokuskan anak untuk mengembangkan bakat yang dimiliki

Cara merawat anak dengan down syndrome selanjutnya adalah dengan mengenali bakat anak dan memfokuskan anak untuk mengembangkan bakat yang dimiliki. Walaupun memiliki keterbelakangan mental dan fisik, namun jika dirawat dengan benar serta dengan penuh kasih sayang, anak dengan down syndrome juga bisa berprestasi. Hal ini dibuktikan banyaknya anak dengan down syndrome yang mampu berprestasi hingga kancah internasional.

  1. Mengunjungi dokter secara rutin

Cara merawat anak dengan down syndrome berikutnya adalah dengan mengunjungi dokter secara rutin. Sebagian besar anak dengan down syndrome juga memiliki masalah dengan kesehatan. Beberapa anak memiliki penyakit jantung bawaan, kelainan otot, memiliki masalah dengan pendengaran, pengihatan maupuan menderita kanker sel darah putih (leukimia). Mengunjungi dokter secara rutin dapat membantu mengatasi penyakit yang diderita anak.

  1. Mencarikan sekolah yang cocok bagi anak

Cara merawat anak dengan down syndrome selanjutnya adalah dengan mencarikan sekolah yang cocok bagi anak. Walaupun memiliki keterbelakangan mental dan fisik, bukan berarti anak dengan down syndrome tidak boleh berpendidikan. Anak dengan down syndrome juga memiliki hak yang sama dengan anak-anak normal untuk bisa mengenyam pendidikan. Sekolah luar biasa menjadi salah satu sekolah yang cocok bagi anak dengan down syndrome yang bisa memberikan pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi anak.

  1. Bergabung dengan komunitas orang tua penyandang down syndrome

Cara merawat anak dengan down syndrome yang terakhir adalah dengan bergabung dengan komunitas orang tua penyandang down syndrome. Bergabung dengan komunitas orang tua penyandang down syndrom memiliki banyak manfaat bagi Anda, selain bisa saling berbagi serta bertukar informasi tentang bagaimana cara merawat anak dengan down syndrome, bergabung dengan komunitas juga bisa sangat membantu menghilangkan stres, melepaskan kepenatan yang ada dll.

Merawat anak dengan down syndrome memang tidaklah mudah, namun sebagai orang tua sudah menjadi kewajiban Anda untuk merawat anak Anda dengan sebaik-baiknya serta penuh kasih sayang agar anak bisa tumbuh sehat dan berprestasi.

Siapakah yang Beresiko memiliki anak dengan down syndrome?

Siapakah yang Beresiko memiliki anak dengan down syndrome?

Blog

Setiap pasangan yang telah menikah pasti menginginkan hadirnya seorang anak dalam rumah tangga mereka. Namun banyaknya angka kelahiran dengan down syndrome menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para orang tua hingga mereka bertanya-tanya, sebenarnya siapakah yang beresiko memiliki anak dengan down syndrome? Jika Anda juga memiliki pertanyaan yang sama mungkin artikel tentang “siapakah yang beresiko memiliki anak dengan down syndrome?” ini akan sangat bermanfaat bagi Anda.

Down syndrome merupakan kelainan genetik yang paling umum terjadi. Sekitar 1 dari 1000 kelahiran di dunia diperkirakan menderita down syndrome dengan angka kematian mencapai 17.000 jiwa. Down syndrome sendiri merupakan suatu kelainan yang disebabkan adanya tambahan kromosom 21. Tambahan kromosom 21 ini menyebabkan keterbelakangan fisik dan mental.

Sampai saat ini belum ditemukan apa yang menjadi penyebab down syndrome. Namun kegagalan yang terjadi pada saat proses pembelahan kromosom diyakini menjadi penyebab munculnya down syndrome ini. Selain itu, kehamilan diatas usia 35 tahun juga diyakini memperbesar resiko melahirkan anak dengan down syndrome. Lalu siapa sajakah yang beresiko memiliki anak dengan down syndrome selain kehamilan yang terjadi pada usia di atas 35 tahun?

Sebenarnya ada beberapa faktor yang memperbesar resiko memiliki anak dengan down syndrome. Beberapa faktor yang bisa memperbesar resiko memiliki anak dengan down syndrome antara lain:

  1. Usia ibu

Berdasarkan penelitian para ahli, ditemukan bahwa usia ibu yang terlalu tua saat hamil lebih beresiko melahirkan anak dengan down syndrome. Ini terkait dengan adanya perubahan hormonal yang bisa menyebabkan non-disjunction atau kegagalan pembelahan pada kromosom 21. Semakin tinggi usia ibu saat hamil semakin beresiko memiliki anak dengan down syndrome. Seorang ibu dengan usia 35 tahun memiliki resiko melahirkan anak dengan down syndrome antara 1 dari 350 kehamilan. Resiko ini akan meningkat menjadi 1 dari 100 kehamilan pada ibu yang hamil pada usia 40 tahun. Sedangkan pada ibu yang hamil saat usia 45 tahun resikonya bertambah menjadi 1 dari 30 kehamilan.

Namun pada beberapa kasus, down syndrome juga terjadi pada wanita yang hamil pada usia lebih muda, di bawah 35 tahun. Ini berarti bahwa wanita dengan usia kehamilan lebih muda juga tidak menutup kemungkinan melahirkan anak dengan down syndrome. Walaupun demikian, kehamilan pada usia di atas 35 tahun tetap harus diwaspadai karena lebih beresiko memiliki anak dengan down syndrome.

  1. Memiliki anak dengan down syndrome pada kehamilan sebelumnya.

Orang yang beresiko memiliki anak dengan down syndrome selanjutnya adalah orang yang pernah memiliki anak dengan down syndrome pada kehamilan sebelumnya. Jika Anda telah memiliki anak dengan down syndrome pada kehamilan sebelumnya, Anda juga lebih beresiko memiliki anak dengan down syndrome pada kehamilan berikutnya.

  1. Riwayat medis

Orang yang beresiko memiliki anak dengan down syndrome selanjutnya adalah orang yang memiliki riwayat medis dengan kelainan kromosom. Jika Anda maupun pasangan Anda memiliki riwayat medis dengan kelainan kromosom, maka Anda juga lebih beresiko memiliki anak dengan down syndrome. Selain itu, berdasarkan penelitian medis, jika salah satu orang tua maupun kedua orang tua memiliki down syndrome, resiko memiliki anak dengan down syndrome sebesar 35% sampai 50%.

Selain beberapa faktor yang memperbesar resiko memiliki anak dengan down syndrome di atas, pada banyak kasus down syndrome terjadi secara acak, tanpa memandang usia, gen, status sosial, bangsa maupun agama. Hingga boleh dikatakan bahwa semua orang beresiko memiliki anak dengan down syndrome.

Terapi Keledai Bantu Gadis Bisu Bisa Bicara Lagi

Terapi Keledai Bantu Gadis Bisu Bisa Bicara Lagi

Blog

Melalui masa sulit dalam hidup terkadang berat jika dilakukan sendiri. Ada kalanya yang dibutuhkan hanyalah satu pendamping untuk membuatnya menjadi lebih baik.

Amber Austwick yang lahir sebelum waktunya, membuat ia mesti menjalani hidup dengan cara tak biasa. Karena tak bisa bernapas saat berada di rahim, dokter harus melakukan trakeostomi darurat saat ia lahir.

Untuk membiarkan udara masuk ke tenggorokannya, mereka memasang pipa yang pada akhirnya memotong aliran udara pada pita suara. Hal ini membuat gadis tersebut tak bisa bicara.

Untunglah, di saat-saat sulit dalam hidupnya yang demikian, Amber bertemu dengan keledai yang mendampinginya. Seorang teman ibu Amber menceritakan bahwa keledai bisa digunakan sebagai terapi untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Seekor keledai bernama Shock dibawa oleh ibu Amber ke rumah. Seperti Amber, Shock juga memiliki kisah hidup yang pahit. Ia diselamatkan dari sebuah peternakan di Irlandia saat dibiarkan menunggu mati.

Shock ditemukan dilecehkan dan diikat dengan pemutih yang dituang di seluruh lukanya. Ia ditemukan penyelamat dari The Donkey Sanctuary di Birmingham, Inggris, dan dipertemukan dengan Amber.

“Aku sudah bisa melihat ikatan batin di antara mereka berdua. Mereka berdua sangat lembut pada satu sama lain,” kata ayah Amber, Julian Austwick.

Selain tak bisa berbicara, Amber didiagnosis menderita cerebral palsy, kondisi yang memengaruhi otot, gerakan, dan keterampilan motorik. Keledai tersebut, memotivasi Amber untuk menjadi lebih aktif, untuk menjadi lebih kuat.

Melansir dari Lifebuzz, keledai yang sejatinya masih merasa takut pada manusia itu bahkan membiarkan Amber menunggangi dirinya. Amber dan Shock menjadi duo yang tak terpisahkan.

Suatu kali, saat mengunjungi Shock seperti biasa, Amber mengeluarkan kalimat pertamanya. Gadis kecil itu berbisik pada sahabatnya tersebut. “Aku cinta kamu, Shock.”

Orangtua Amber yang tak sengaja mendengar kalimat lirik itu merasa kaget sekaligus gembira. Mereka merasa bangga dengan perkembangan Amber yang begitu pesat.

Makin hari, Amber makin berani mengeksplor kata-kata. Meski kemudian Amber dimasukkan ke sekolah berkebutuhan khusus agar dirinya semakin berkembang, ikatan antara gadis kecil itu tetap dengan si keledai tetap terjalin erat. Setiap Amber datang, ia akan mengunjungi sahabatnya tersebut lalu berkeliling bersama.

Ikatan antara Amber dan Shock yang saling menguatkan satu sama lain, menginspirasi orang tua Amber untuk menuliskan kisah tersebut. Buku berjudul Amber’s Donkey langsung ludes terjual 45 menit setelah dirilis di Amazon dan permintaan masih terus berdatangan.

Mengenal Bahasa Isyarat di Indonesia

Mengenal Bahasa Isyarat di Indonesia

Blog

Bahasa Isyarat Indonesia – Manusia berkomunikasi melalui media bernama bahasa, oleh karena itu bahasa merupakan sesuatu yang penting bagi kehidupan kita. Melalui bahasa, manusia satu bisa paham maksud yang diutarakan manusia lainnya.

Bahasa juga merupakan kunci ilmu pengetahuan, karena dengannya kita bisa mengetahui dan menguasai banyak hal lewat  proses pertukaran informasi.

Seperti fungsi bahasa pada umumnya, bahasa isyarat untuk para penyandang tuna rungu juga tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-harinya. Mengapa? Karena mereka juga butuh berkomunikasi, selain itu juga dapat membantu perkembangan interaksi, kematangan sosial, dan kognitif penyandang tuna rungu.

Kognitif secara garis besar adalah sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan pemerolehan pengetahuan.

SIBI dan BISINDO

 

Di Indonesia terdapat dua bahasa isyarat yang digunakan, yakni Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI) yang diciptakan oleh Alm. Anton WIdyatmoko seorang mantan kepala sekolah SLB/B (sekolah luar biasa khusus penyandang tuna rungu) di Jakarta dan Surabaya dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO).

Tetapi amat disayangkan, SIBI yang kini resmi diakui pemerintah mempunyai sejarah yang kurang baik. Kemunculan SIBI ini ternyata tidak melewati persetujuan Gerakan Kesejahteraan Tuna rungu Indonesia (GERKATIN) bahkan dilibatkan untuk musyawarah pun tidak.

Ini artinya, SIBI tidak sesuai dengan aspirasi dan nurani para penyandang tuna rungu. Apalagi SIBI dibuat untuk

SIBI

Kamus Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (kamus SIBI) diterbitkan oleh pemerintah dan disebarluaskan melalui sekolah-sekolah. Khususnya ke SLB/B sejak tahun 2001.

SIBI hanya bisa digunakan sebagai bahasa isyarat di sekolah saja, tidak digunakan sebagai media komunikasi sehari-hari. Ini karena kosakata dalam SIBI dibuat hanya dengan mengubah Bahasa Indonesia lisan menjadi bahasa isyarat.

 

Artinya terlalu baku dengan tata bahasa kalimat Bahasa Indonesia yang membuat penyandang tuna rungu kesulitan untuk berkomunikasi. Tidak hanya itu, kosakata bahasa isyarat yang dipakai banyak mengambil dari Bahasa Isyarat Amerika.

Kata-kata berhomonim (kata yang memiliki makna berbeda tetapi lafal atau ejaannya sama – Wikipedia) dalam SIBI, diisyaratkan dalam satu gerakan yang sama. Kata-kata berimbuhan pun diterjemahkan lengkap dengan imbuhan-imbuhannya. Tentu ini menyulitkan para penyandang tuna rungu.

Misalnya saja kata pengangguran diisyaratkan dengan tiga gerakan.

Gerakan ke-1: pe

Gerakan ke-2: anggur

Gerakan ke-3: an

Padahal buah anggur tidak ada kaitannya sama sekali dengan pengangguran. Anggur itu buah, sementara pengangguran berarti orang yang tidak punya pekerjaan.

Atau perasaan, menggunakan isyarat untuk imbuhan ‘pe’, kemudian isyarat untuk ‘rasa’, dan terakhir isyarat untuk imbuhan ‘an’.

Isyarat yang terlalu ribet itu membuat penyandang tuna rungu tidak pernah istiqomah memakainya dalam percakapan sehari-hari. Seperti halnya dalam kata perjalanan. Iya, bila satu kata ‘perjalanan’ saja diubah ke dalam bahasa isyarat menghasilkan 3 gerakan seperti yang dicontohkan di atas …

… tetapi ketika dihubungkan dalam satu kalimat, misalnya, “Mobil itu sedang dalam perjalanan ke sini.” Kata perjalanan tidak diisyaratkan dengan tiga gerakan per-jalan-nan, tetapi memakai dua jari yang mengisyaratkan manusia sedang berjalan.

Ini tentu menjadi kebingungan tersendiri bagi beberapa penyandang tuna rungu. Banyak dari mereka yang kemudian mengartikan bahasa isyarat tersebut dengan tafsiran yang salah; yang mereka tangkap adalah mobil berjalan seperti orang berjalan, bukan dengan menggunakan roda.

Guru SLB/B di Indonesia sampai saat ini masih banyak yang mengajar dengan menggunakan SIBI dan bahasa bibir atau oral kepada siswanya. Dampak penggunaan SIBI bagi siswa penyandang tuna rungu adalah tidak maksimalnya mereka menangkap informasi, bahkan tidak jarang menjadi salah paham dengan informasi yang disampaikan.

Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan, bagaimana dengan anak tuna rungu yang belum pernah mengenal Bahasa Indonesia?

Proses menghubungkan SIBI dengan Bahasa Indonesia tidak berjalan lancar karena anak-anak belum mengetahui tata Bahasa Indonesia. Di sinilah SIBI gagal sebagai media komunikasi untuk penyandang tuna rungu.

Tetapi sebagai bangsa yang beradab, kita tetap patut untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Alm. Bapak Anton WIdyatmoko yang telah berusaha memfasilitasi kebutuhan penyandang tuna rungu.

Hal ini tentu sesuai dengan Pasal 24 ayat 3 Konvensi Hak Penyandang Disabilitas Perserikatan Bangsa Bangsa bahwa Negara-negara harus mengambil langkah-langkah yang layak, termasuk memfasilitasi pembelajaran bahasa isyarat dan pemajuan identitas linguistik masyarakat tuli.

Gerakan Kesejahteraan Tuna rungu Indonesia (GERKATIN) kemudian memperjuangkan bahasa isyarat yang alami serta sesuai dengan nurani para penyandang tuna rungu di Indonesia. Yang terpenting adalah BISINDO dapat digunakan dalam pergaulan sehari-hari tanpa ribet.

Penyandang tuna rungu lebih nyaman menggunakan BISINDO karena tadi, kepraktisan dan kecepatannya membuat mereka lebih cepat memahami maksud dari isyarat yang dilontarkan orang lain meskipun dalam hal tata bahasa, tidak mengikuti aturan Bahasa Indonesia seperti SIBI.

BISINDO

 

Tetapi kehadiran BISINDO mendatangkan problem baru. Dualisme bahasa isyarat yang dianut penyandang tuna rungu di Indonesia menyulitkan mereka untuk berkomunikasi secara ‘pas’. Maksudnya, mereka bingung menggunakan bahasa isyarat yang akan dipakai untuk berkomunikasi.

Melihat tidak sedikit penyandang tuna rungu yang kesulitan menggunakan SIBI, secara alami mereka akan menggunakan BISINDO sebagai alat komunikasi sehari-hari.

Namun harus kita ketahui, keberadaan BISINDO, dinukil dari selasar, belum diakui pemerintah sebagai bahasa isyarat yang ‘memasyarakat’ di kalangan penyandang tuna rungu. Kurang lebih selama 33 tahun sejak BISINDO diperkenalkan.

Entah apa yang menjadi pertimbangan pemerintah dalam hal ini. Padahal sudah jelas, dalam beberapa faktor, SIBI tidak didukung oleh kaum yang memakainya. Seperti tadi disebutkan di atas, lahirnya SIBI tidak melibatkan penyandang tuna rungu sama sekali.

Selain itu, faktor kepraktisan menjadi alasan kedua.

Sekarang, tidak perlu menggugat sejarah yang terjadi. Secara sadar, mari kita kembali bela hak-hak penyandang tuna rungu di negeri ini. Sebab mereka sama-sama Warga Negara Indonesia yang harus mendapatkan perhatian dari pemerintah.

SIBI tidak perlu disalah-salahkan, sebab di sekolah-sekolah …, khususnya SLB/B, masih digunakan sebagai bahasa komunikasi dalam pendidikan.

Fokus kita adalah bagaimana Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dapat digunakan oleh penyandang tuna rungu dengan tanpa paksaan untuk melakukan komunikasi sehari-hari di lingkungan sosialnya masing-masing.

Meskipun, mungkin, di antara pembaca sekalian bukan tuna rungu, kita bisa mempelajari BISINDO karena lebih praktis dipelajari daripada SIBI.

Kita juga patut untuk terus mendukung GERKATIN dalam menyosialisasikan BISINDO di Indonesia, agar masyarakat umum tahu bahasa isyarat yang cocok digunakan untuk berkomunikasi dengan kaum tuna rungu.

Harapannya memang, semakin banyak orang yang tahu dan bisa menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia, sehingga BISINDO, yang kemudian menjadi bahasa isyarat alami Indonesia tidak menghilang eksistensinya.

Mari untuk terus berdo’a agar pemerintah mengakui keberadaan BISINDO.