Cara Mengatasi Temper Tantrum pada Anak

Cara Mengatasi Temper Tantrum pada Anak

Blog

Bagi anda yang mempunyai anak prasekolah tiba-tiba anak anda marah dengan ekspresi yang tidak lazim seperti berbaring di lantai, berteriak teriak, menendang benda benda yang ada disekitar anda. Hal itu disebut dengan temper tantrum, kejadian alami pada anak anak usia 15 bulan hingga 4 tahun. Sikap yang ditunjukan berupa rasa tidak senang pada suatu objek atau lingkungannya. Pada umumnya temper tantrum dapat dikategorikan menjadi tiga jenis yaitu usia dibawah 3 tahun yang sering diekspresikan dengan menangis, memukul, menjerit, menendang bahkan dalam kasus yang parah adalah membentur bentur kepalanya ke tembok. kedua pada usia tiga sampai empat tahun dengan ekspresi kemarahan yang diungkapkan dengan membanting, merengek, mengkritik bahkan sampai menghentak-hentakan kaki. Terakhir adalah pada usia 5 tahun ke atas dengan mengkritik diri sendiri, memukul bahkan yang lebih parah merusak benda benda yang ada disekitarnya.

Penyebab terjadinya temper tantrum diantaranya adalah terhalangnya keinginan anak anda dalam mendapatkan sesuatu, ketika tidak berhasil dalam memenuhi keinginannya maka kemungkinan anak anda melakukan beberapa ekspresi-ekspresi kemarahan, selain itu temper tantrum dapat disebabkan oleh ketidakmampuan dalam mengungkapkan keinginan diri anak anda sehingga anak anda menuntut anda untuk memahaminya, sedangkan selanjutnya adalah perasaan tertekan yang dialami oleh anak anda sehingga melepaskan stress yang dialaminya. Salah satu contohnya adalah ketika anak anda diajak dalam suatu perjalanan yang jauh dan melelahkan, tiba tiba menginginkan sesuatu yang tidak dimengerti oleh anda. Terakhir penyebab temper tantrum adalah pola asuh orang tua yang  yang menyebabkan tantrum yaitu anak anda terlalu dimanjakan dan mendapatkan penolakan atas keinginannya. Salah satu yang harus diperhatikan adalah pola asuh orang tua. Pola asuh dapat diartikan perlakuan orang tua yang sangat mendasar. Hal yang harus diperhatikan adalah perilaku yang patut dicontoh yang ditimbulkan oleh orang tua pada anak, sehingga anak anda akan mengikuti kebiasaan anda. Selanjutnya kesadaran diri, berhubungan dengan mendorong perilaku anak dalam kesehariannya pada nilai-nilai moral. Terakhir yang tidak kalah penting adalah komunikasi antara anda dan anak. Orang tua akan menerapkan pola komunikasi yang baik dalam membentuk hubungan bersama anaknya untuk menghindari ekspresi seperti temper tantrum pada anak.

Adapun untuk anda yang kesulitan dalam menghilangkan ekspresi kemarahan anak anda (temper tantrum) maka anda dapat melakukan beberapa cara dibawah ini :

1.    Bagi anda sebagai orang tua sebaiknya bersikap tenang dalam menghadapi anak anda yang mengalami temper tantrum.
2.    Anda dapat menghiraukan anak anda sampai kemarahannya reda, berikan peringatan dengan tegas (tanpa marah) mengenai aturan yang telah disepakati bersama.
3.    Hindari memukul anak anda, lebih baik anda mendekap dengan pelukan sampai anak anda tenang.
4.    Temukan alasan kemarahan anak anda sehingga anda dapat memberikan penjelasan yang sebenarnya.
5.    Sebaiknya anda tidak menyerah ketika anak anda marah, karena anak akan melakukan tindakan yang sama ketika menginginkan sesuatu lagi.
6.    Hentikan memberikan anak anda imbalan ketika akan menghentikan kemarahannya.
7.    Anda dapat mengarahkan kemarahan anak anda pada hal hal yang positif.
8.    Anda dapat menyingkirkan benda benda yang berbahaya dari sekitar anak anda yang sedang marah.
9.    Anda harus membiasakan komunikasi yang terbuka dengan anak dan juga berikanlah pujian apabila kemarahannya telah selesai.

Ciri Menonjol Anak Autis

Ciri Menonjol Anak Autis

Blog

Dalam mendeteksi anak yang menderita autis memang tidak mudah dikarenakan butuh waktu hingga usia dua tahun untuk dapat memastikan anak benar benar mengidap autis. Bahkan beberapa penelitian, salah satunya oleh University of Missouri yang dikutip dari daily mail menunjukkan pendektesian gejala autis terkadang ditemukan pada usia tiga tahun sehingga pada usia ini dianggap terlambat dalam memberikan penanganan untuk penderita autis. Untuk itu sangat penting sekali dalam memberikan pendeteksian awal bagi anak yang mengalami autis yang terlihat pada muka terutama pada bagian mata dan juga bibir. Kasus pada anak autis biasanya berawal dari ketidakmampuan anak anda untuk belajar berjalan dan juga berbicara antara usia dua-tiga tahun, padahal jelas ini sangat terlambat dalam memberikan penanganan. Sehingga penelitian terbaru menemukan ada beberapa ciri fisik yang dapat dilihat dari anak autisme yaitu menemukannya perbedaan wajah yang menyandang autisme memiliki perbedaan terutama pada bagian bibir dan jarak antara kedua matanya.

Masih dalam penelitian yang sama menyimpulkan perkembangan wajah dan otak akan tampak berbeda bagi anak yang menyandang autis, sehingga mempengaruhi keduanya dan tidak diketahui bagaimana mekanisme yang sebenarnya. Sehingga ditemukannya penelitian yang memetakan bentuk wajah ini diharapkan orang tua dapat mendeteksi kelainan dini jika anak anak mengalami gejala autisme. Melalui deteksi dini maka akan mempermudah pendampingan sehingga pertummbuhan mental dan juga kecerdasaannya dapat disesuaikan.

Berikut adalah cara mendeteksi anak yang beresiko mengidap autisme apabila dilihat dari mata dan bibir :

  1. Pada bagian mata anak yang beresiko mengidap autisme terlihat tampak jarak yang lebih besar dari keadaan normal.
  2. Daerah pipi dan hidung seringkali memiliki jarak yang lebih dekat apalagi pada bagian tengah wajah. Ciri ini umum dialami oleh anak yang mengalami autisme yaitu bagian tengah wajah yang sempit.
  3. Selanjutnya pada bibir, pada anak yang mengidap autisme memiliki bagian lebar pada bibir dan philtrum yaitu daerah antara hidung dengan bibir sedikit lebar

Ciri tersebut berdasarkan pengamatan yang dilakukan ilmuan pada anak-anak yang mengidap autisme. Penelitian tersebut melibatkan 62 anak yang berusia 12 tahun yang dibandingkan dengan 41 anak yang tidak memiliki riwayat autisme. Penelitian ini menggunakan kamera yang dapat menghasilkan gambar 3 dimensi. Sehingga dapat disimpulkan adanya 17 titik antara lain yaitu ujung mata, bibir dan philtrum.Dengan demikian penelitian ini sekaligus menguatkan bahwa gangguan kordinasi otak pada penderita autisme memiliki peranan yang sangat besar dan terjadi bermulai pada saat di dalam kandungan bahan penelitian ini membantu untuk mengetahui faktor genetik atau lingkungan yang berpengaruh pada anak yang menderita autisme. Meskipun demikian penelitian ini masih belum dapat menemukan faktor utama yang sangat berpengaruh memicu penyakit autisme pada anak-anak apakah dipengaruhi oleh lingkungan atau genetik.

Cara Mengendalikan Emosi

Cara Mengendalikan Emosi

Blog

Pada artikel sebelumnya sudah dibahas mengenai baik buruknya emosional. Pada artikel ini saya akan membahas mengenai cara mengendalikan emosi yang berlebihan.

Sebelumnya perlu diketahui, bahwa seorang manusia tidak akan pernah terlepas dari yang namanya emosi. Emosi sudah dimiliki saat seorang manusia dilahirkan. Contohnya seorang bayi yang berusia 6 bulan sudah mulai dapat merasakan ketakutan apabila ditinggal oleh orang tua. Atau dia uga dapat merasa takut saat digendong oleh orang lain, dan dia menangis. Emosi-emosi tersebut terbentuk intuisi dan  juga respon terhadap kejadian yang terjadi di di dalam hidup setiap orang. Emosi-emosi yang dirasakan tersebut kemudian disimpan dalam pikiran bawah sadar, dan secara dominan berpengaruh terhadap tindakan seseorang.

Apabila ada pemicu yang dikenal oleh pikiran bawah sadar, maka pikiran bawah sadar mengeluarkan respon emosi yang sama seperti yang dahulu pernah dialami. Contohnya apabila waktu masih kecil seorang anak pernah dimarahi oleh gurunya dan merasa sangat takut, dan begitu dia dewasa dapat terjadi hal yang sama, dia dapat menjadi sangat takut begitu dimarahi oleh atasannya. Atau mungkin dia menjadi trauma untuk bertemu dengan gurunya tersebut.  Atau dalam contoh kasus lainnya, misalnya fobia (ketakutan yang luar biasa), keadan ini dapat terbentuk karena adanya trauma pikiran di masa lampau. Contoh,  seseorang yang mengalami ketakutan terhadap kecoa, kemungkinan besar di masa lampau dia mengalami ketakutan yang sangat kuat yang berhubungan dengan kecoa.

Beberapa contoh di atas menjelaskan bahwa emosi yang tidak dapat dipisahkan dengan manusia. Ini yang perlu dipahami lebih mendalam apabila seseorang ingin tetap bahagia dan damai di dalam hidupnya. Perlu dipahami bahwa emosi itu wajar dialami oleh setiap orang, wajar apabila seseorang bisa mengalami kesedihan, wajar apabila seseorang bisa mengalami rasa gembira, dan wajar pula apabila seseorang mengalami berbagai emosi lainnya. Namun perlu diketahui juga bahwa emosi bisa menjadi  tidak wajar apabila emosi itu sudah dirasakan secara berlebihan. Seorang yang mengalami emosi sangat sedih bisa menjadi tertekan dan depresi, seorang yang mengalami emosi sangat gembira bisa menjadi euforia dan lupa daratan. Emosi berlebihan inilah yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan dan ketidakseimbangan emosi yang berakibat terjadinya ketidakbahagiaan.

Jadi sebenarnya yang penting untuk dipelajari setiap orang adalah cara mengendalikan emosi supaya tetap stabil. Bagaimana caranya ? Ini beberapa tips yang dapat Anda lakukan di rumah untuk mengendalikan emosi Anda :

1.Sadar

Kesadaran merupakan tahap awal yang paling penting yang dibutuhkan orang untuk mengendalikan emosinya. Semua dimulai dari kesadaran. Seseorang yang mengalami emosi yang berlebihan perlu tahu emosi yang sedang dirasakannya. Cotoh, misalkan Anda entah kenapa merasa tidak semangat, lesu, dan selalu ingin menangis. Mungkin Anda perlu menyadari bahwa ada sebuah emosi sedih di dalam diri Anda. Saat Anda  merasakan sebuah emosi yang berlebihan, Anda perlu secara jujur menyadarinya dan mengakuinya. Memang tidak mudah untuk mengakui secara jujur emosi yang kita rasakan. Namun ini tahap yang paling awal yang harus Anda lalui. Dengan berlatih, maka akan menjadi terbiasa.

2.Kalibrasi

Setelah Anda menyadari emosi berlebihan yang Anda rasakan, tahap kedua yang perlu Anda lakukan adalah Kalibrasi. Kalibrasi secara sederhana berarti memberikan nilai pada emosi Anda. Misalkan, apabila Anda merasa biasa saja, netral tanpa emosi bernilai 0, dan perasaaan yang sangat sedih, sampai benar-benar tidak mampu menahan air mata memiliki nilai 10, Anda dapat mengkalibrasi berapa nilai emosi Anda saat ini. Semakin dekat dengan nilai 10 berarti intensitas emosi Anda semakin tinggi / berat, namun semakin dekat dengan 0, maka intensitas emosi Anda rendah / ringan. Kalibrasi penting untuk menentukan seberapa jauh pemulihan emosi Anda. Apabila tingkat emosi Anda awalnya tinggi (mendekati 10) dan seiring dengan perjalanan waktu, tingkat emosi Anda menjadi 2 berarti Anda mengalami kemajuan dalam mengendalikan diri.

3.Melepas emosi

Setelah Anda mengetahui nila emosi Anda dengan kalibrasi, sekaranglah baru masuk pada tahapan mengendalikan emosi, caranya adalah melepas emosi yang berlebihan. Cara untuk melepas emosi yang berlebihan banyak sekali, namun say a berikan dua cara yang menurut saya dapat membantu melepas berbagai emosi.

Cara yang pertama, yaitu melepas emosi dengan menangis. Menangis adalah suatu tindakan pelepasan emosi yang sederhana namun besar efeknya. Mengapa demikian ? Karena menangis adalah suatu tindakan di mana kita belajar jujur terhadap diri sendiri. Menangis punya arti besar, berani mengakui kelemahan, berani mengakui kekurangan, berani mengakui ketidakbisaan. Memang pada dasarnya orang susah untuk mengakui kekurangannya, orang gengsi dan malu, namun justru itulah yang menjadi beban emosinya. Itulah yang membuat emosi tidak dapat dikendalikan, emosi negatif tetap bertahan di dalam diri seseorang. Padahal, sewaktu Anda menangis, Anda menunjukkan bahwa Anda mengakui beban Anda, dan Anda mau melepasnya dengan pasrah dan ikhlas.  Apabila anda memiliki beban, silakan Anda coba, silakan menangis selama yang Anda butuhkan, dan rasakan setelah menangis Anda menjadi lega, dan emosi berlebihan Anda terlepas.

Cara yang kedua, yaitu memaafkan (forgiveness). Mungkin terlihat sederhana, namun memaafkan belum tentu semudah itu dan efeknya pun ternyata sangat besar. Memaafkan sebenarnya memiliki arti melepaskan emosi berlebihan atau emosi buruk yang terjadi di masa lalu. Dengan memaafkan berarti kita berani untuk meninggalkan emosi masa lalu yang buruk dan fokus pada masa depan kita yang penting. Memaafkan membuat seseorang bisa move on dan bergerak maju karena emosi masa lalu yang negatif sudah dilepaskan. Silakan coba untuk memaafkan secara tulus dan ikhlas dan rasakan kelegaan di dala, perasaan Anda.

4.Sugesti positif

Sebagai penutup dari pelepasan emosi, Anda berikan sugesti positif pada diri Anda. sugesti positif ini mempunyai fungsi penting sebagai program baru yang positif di dalam pikiran bawah sadar Anda menggantikan program negatif di masa lalu. Contoh dari sugesti positif seperti : “ Mulai sekarang saya mampu bangkit, saya pantas bahagia, dan saya bisa semakin maju dan sukses”. Sugesti positif ini dapat Anda pakai sehari-hari di dalam hidup Anda, Anda tinggal mengatakannya secara berulang-ulang, dan rasakan perubahannya.

Silakan  coba untuk melakukan cara-cara mengendalikan emosi di atas, dan rasakan perubahannya dalam hidup Anda.Jika Anda ingin berkonsultasi mengenai gangguan emosi yang Anda rasakan, silakan Konsultasikan pada kami

Apakah Ponsel Ditaruh di Celana Berbahaya bagi Pria?

Tanya Terapis

Menyimpan ponsel di saku celana memang sangat praktis. Namun, bagi pria, disarankan menghindari kebiasaan menyimpan ponsel di saku depan celana. Dalam sejumlah studi, paparan radiasi jangka panjang dari ponsel yang diletakkan dekat alat kelamin pria dapat merusak sperma. Salah satunya adalah menurunkan jumlah sperma. Ini tentu perlu dihindari pria yang masih ingin menjadi ayah. Dalam penelitian lainnya, ahkan disebut radiasi ponsel bisa merusak DNA sperma. Setidaknya ada 10 studi yang dikaji dan diteliti 1.492 sperma manusa. Akan tetapi, penelitian itu masih menjadi perdebatan. Sebab, hingga saat ini elum ada yang bisa memuktikan bagaimana paparan radiasi akhirnya dapat merusak kualitas sperma. Bahaya radiasi ponsel bagi kesehatan sudah sejak lama menjadi perdebatan para ahli. Ada sejumlah bukti yang mengungkap bahayanya,walau resikonya sangat kecil.

TUNALARAS : KARAKTERISTIK DAN MASALAH PERKEMBANGAN ANAK

TUNALARAS : KARAKTERISTIK DAN MASALAH PERKEMBANGAN ANAK

Blog

Pengertian Anak Tunalaras

Anak tunalaras adalah anak yang memiliki gangguan atau hambatan emosi, sehingga kurang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sering juga disebut anak tunasosial karena perilakunya cendrung menyusahkan dan menunjukan penentangan terhadap norma-norma sosial masyarakat. Didefinisikan juga oleh Kauffman (1977), anak tunalaras adalah anak yang secara kronis dan mencolok berinteraksi dengan lingkungannya dengan cara yang tidak bisa diterima oleh lingkungan sosial. Tetapi masih bisa diajarkan untuk bersikap social dan untuk dapat memiliki pribadi yang menyenangkan. Batasan usia anak tunalaras ini menurut DepDikNas (1997:13) dari usia 6-17 tahun.Perkembangan yang terjadi pada diri anak tunalaras, tidak jauh berbeda dengan anak-anak yang tidak memiliki ketunalarasan. Hanya saja akibat dari gangguan emosi yang ia miliki, berpengaruh terhadap segi kognitif, kepribadian, dan sosial anak. Dimana pada segi kognitif anak kehilangan minat dan konsentrasi belajar, dan beberapa anak mempunyai ketidakmampuan bersaing dengan teman-temannya. Kepibadian anak tunalaras tidaklah dinamis, secara psikofisis (fisik dan kejiwaan) memiliki cara yang berbeda dengan anak lain dalam menyesuaikan diri. Baik dengan lingkungan maupun dengan dirinya sendiri. Sehingga secara sosial perilakunya kurang bisa diterima karena cendrung menyimpang dari norma-norma yang ada, serta tak jarang merugikan,menyakiti dirinya sendiri atau pun orang lain.

Klasifikasi Anak Tunalaras

Secara garis besar anak tunalaras dapat diklasifikasikan menjadi anak yang mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan anak yang mengalami gangguan emosi. Sehubungan dengan itu, William M.C (1975:567) mengemukakan kedua klasifikasi tersebut antara lain sebagai berikut:

1.Anak yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial:

  • The Semi-socialize child

Anak yang termasuk dalam kelompok ini dapat mengadakan hubungan sosial tetapi terbatas pada lingkungan tertentu. Misalnya: keluarga dan kelompoknya. Keadaan seperti ini datang dari lingkungan yang menganut norma-norma tersendiri, yang mana norma tersebut bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat. Dengan demikian anak selalu merasakan ada suatu masalah dengan lingkungan di luar kelompoknya.

  • Children arrested at a primitive level of socialization

anak pada kelompok ini dalam perkembangan sosialnya, berhenti pada level atau tingkatan yang rendah. Mereka adalah anak yang tidak pernah mendapat bimbingan kearah sikap sosial yang benar dan terlantar dari pendidikan, sehingga ia melakukan apa saja yang dikehendakinya. Hal ini disebabkan karena tidak adanya perhatian dari orang tua yang mengakibatkan perilaku anak di kelompok ini cenderung dikuasai oleh dorongan nafsu saja. Meskipun demikian mereka masih dapat memberikan respon pada perlakuan yang ramah.

  • Children with minimum socialization capacity,

anak kelompok ini tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk belajar sikap-sikap sosial. Ini disebabkan oleh pembawaan/kelainan atau anak tidak pernah mengenal hubungan kasih sayang sehingga anak pada golongan ini banyak bersikap apatis dan egois.

2.Anak yang mengalami gangguan emosi, terdiri dari:

  • Neurotic behavior ( perilaku neurotik )

Anak pada kelompok ini masih bisa bergaul dengan orang lain akan tetapi mereka mempunyai masalah pribadi yang tidak mampu diselesaikannya. Mereka sering dan mudah dihinggapi perasaan sakit hati, perasaan cemasmarah,agresif dan perasaan bersalah. Di samping itu kadang mereka melakukan tindakan lain seperti mencuri dan bermusuhan. Anak seperti ini biasanya dapat dibantu dengan terapi seorang konselor. Keadaan neurotik ini biasanya disebabkan oleh sikap keluarga yang menolak atau sebaliknya, terlalu memanjakan anak serta pengaruh pendidikan yaitu karena kesalahan pengajaran atau juga adanya kesulitan belajar yang berat.

  • Children with psychotic processes

Anak pada kelompok ini mengalami gangguan yang paling berat sehingga memerlukan penanganan yang lebih khusus. Mereka sudah menyimpang dari kehidupan yang nyata, sudah tidak memiliki kesadaran diri serta tidak memiliki identitas diri. Adanya ketidaksadaran ini disebabkan oleh gangguan pada sistem syaraf sebagai akibat dari keracunan, misalnya minuman keras dan obat-obatan.

3.Faktor – faktor Penyebab Ketunalarasan

  • Kondisi / Keadaan Fisik

Hasil penelitian , Gunzburg ( dalam Simanjuntak,1947 ) menyimpulkan bahwa disfungsi kelenjar endokrin merupakan salah satu penyebab timbulnya kejahatan. Kelenjar endokrin ini mengeluarkan hormone yang mempengaruhi tenaga seseorang. Bila secara terus menerus fungsinya mengalami gangguan, maka dapat berakibat terganggunya fisik dan mental seseorang sehingga akan berpengaruh terhadap perkembangan wataknya

  • Masalah Perkembangan

Di dalam menjalani setiap fase perkembangan individu, sulit untuk terhindar dari berbagai konflik. Mengenai hal ini , Erikson ( Dalam Singgih D. Gunarsa, 1985 : 107 ) menjelaskan bahwa setiap memasuki fase perkembangan baru, individu dihadapkan pada berbagai tantangan atau krisis emosi. Anak biasanya dapat mengatasi krisis emosi ini jika pada dirinya tumbuh kemempuan baru yang berasal dari adanya proses kematangan yang menyertai perkembangan. Apabila ego dapat mengatasi krisis ini, maka perkembangan ego yang matang akan terjadi sehingga individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan social atau masyarakatnya, sebaliknya apabila individu tidak berhasil menyelesaikan masalah tersebut maka akan menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku. Konflik emosi ini terutama terjadi pada masa kanak – kanak dan masa pubertas. Jiwa anak yang masih labil pada masa ini banyak mengandung resiko berbahaya, jika kurang mendapat bimbingan dan pengarahan dari orang dewasa maka akan mudah terjerumus pada tingkah laku menyimpang.

  • Lingkungan Kerja

Keluargalah peletak dasar perasaan aman ( emotional security ) pada anak, dalam keluarga pula anak memperoleh pengalaman pertama mengenai perasaan dan sikap sosial.

Berikut ini beberapa aspek yang terdapat dalam lingkungan keluarga yang berkaitan dengan masalah gangguan emosi dan tingkah laku :

  1. Kasih sayang dan perhatian
  2. Keharmonisan keluarga
  3. Kondisi ekonomi

  • Lingkungan Sekolah

Sekolah merupakan tempat pendidikan yang kedua bagi anak setelah keluarga. Tanggungjawab sekolah tidak hanya sekadar membekali anak didik dengan sejumlah ilmu pengetahuan, akan tetapi sekolah juga bertanggungjawab membina kepribadian anak didik sehingga menjadi seorang dewasa yang bertanggungjawab baik terhadap dirinya maupun terhadap lingkungan masyarakat yang luas.

Timbulnya gangguan tingkah laku antara lain berasal dari guru dan fasilitas pendidikan.

  • Lingkungan Masyarakat

Menurut Bandura ( dalam Kirk & Gallagher,1986) salah satu hal yang nampak mempengaruhi pola perilaku anak dalam lingkungan sosial adalah keteladanan, yaitu meniru perilaku orang lain.Di samping pengaruh – pengaruh yang bersifat positif, di dalam lingkungan masyarakat juga terdapat banyak sumber yang merupakan pengaruh negatif yang dapat memicu munculnya perilaku menyimpang.

4.Perkembangan Kognitif Anak Tunalaras

Anak tunalaras memiliki kecerdasan yang tidak berbeda dengan anak – anak pada umumnya. Kegagalan dalam belajar di sekolah seringkali menimbulkan anggapan bahwa mereka memiliki inteligensi yang rendah.

Mengenai hal ini Ny. Singgih Gunarsa ( 1982 ) mengemukan bahwa kecemasan dirinya berbeda dengan kelompoknya menimbulkan kesulitan pada anak dengan  cara penyelesaian yang seringkali tidak sesuai dengan cara penyelesaian yang wajar.

Ketidakmampuan anak untuk bersaing dengan teman – temannya dalam belajar dapat menjadikan anak frustasi dan kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri sehingga anak mencari kompensasi yang sifatnya negatif, misalnya membolos, lari dari rumah, berkelahi dan mengacau dalam kelas.

5.Perkembangan Kepribadian Anak Tunalaras

Kepribadian merupakan suatu struktur yang unik, tidak ada individu yang memiliki kepribadian yang sama. Para ahli mendefinisikan kepribadian sebagai suatu organisasi yang dinamis pada sistem psikofisis individu yang tutut menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Kepribadian akan mewarnai peranan dan kedudukan seseorang dalam berbagai kelompok dan akan mempengaruhi kesadaran sebagai bagian dari kepribadian akan dirinya. Dengan demikian kepribadian dapat menjadi penyebab seseorang berperilaku menyimpang.Tingkah laku yang ditampilkan seseorang ini erat sekali kaitannya dengan upaya memenuhi kebutuhan hidupnya.

Konflik psikis dapat terjadi apabila terjadi benturan antara usaha pemenuhan kebutuhan dengan norma sosial. Kegagalan dalam memenuhi kebutuhan menyelesaikan konflik, dapat menjadikan stabilitas emosi terganggu, selanjutnya mendorong terjadinya perilaku menyimpang dan dapat menimbulkan frustasi pada diri individu.

6.Perkembangan Emosi Anak Tunalaras

Terganggunya perkembangan emosi merupakan penyebab dari kelainan tingkah laku anak tunalaras. Ciri yang menonjol pada mereka adalah kehidupan emosi yang tidak stabil , ketidakmampuan mengekspresikan emosinya secara tepat dan pengendalian diri yang kurang sehingga mereka seringkali menjadi sangat emosional.

Pentingnya peranan emosi ini nampak melalui akibat yang muncul apabila individu kurang mendapatkan kesempatan untuk memperolah pengalaman emosional yang menyenangkan, yang biasa disebut deprivasi emosi.

Kematangan emosional seorang anak ditentukan dari hasil interaksi dengan lingkungannya, dimana anak belajar bagaimana emosi itu hadir dan bagaimana cara untuk mengekspresikan emosi – emosi tersebut. Perkembangan emosi ini berlangsung terus menerus sesuai dengan perkembangan usia, akan banyak pula pengalaman emosional yang diperoleh anak. Ia semakin banyak merasakan berbagai berbagai macam perasaan. Akan tetapi tidak demikian halnya dengan anak tunalaras. Ia tidak mampu belajar dengan baik dalam merasakan dan menghayati berbagai macam emosi yang mungkin dapat dirasakan, kehidupan emosinya kurang bervariasi dan iapun kurang dapat mengerti dan menghayati berbagai macam emosi yang mungkin dapat mengerti dan menghayati bagaiman perasaan orang lain. Ketidakstabilan emosi ini menimbulkan penyimpangan tingkah laku, misal : Mudah marah dan mudah tersinggung, kurang mampu memahami perasaan orang lain, berperilaku agresif, menarik diri, dan sebagainya.

Dalam pengelolaan pendidikan ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk memunculkan motivasi belajar bagi anak tunalaras, yaitu :

  • Pengaturan lingkungan belajar.
  • Mengadakan kerjasama dengan lembaga lain / lembaga pendidikan umumnya.
  • Tempat layanan pendidikan.

7.Perkembangan Sosial Anak Tunalaras

Sebagaimana kita pahami bahwa anak tunalaras mengalami hambatan dalam melakukan interaksi sosial dengan orang lain atau lingkungannya.

Ketidakmampuan anak tunalaras dalam melalui interaksi sosial yang baik dengan lingkungannya disebabkan oleh pengalaman – pengalaman yang tidak / kurang menyenangkan.

Dengan demikian, setiap mencapai tahapan baru, anak menghadapi krisis emosi. Apabila egonya mampu menghadapi krisis ini maka perkembangan egonya akan mengalami kematangan dan anak akan mampu menyesuaikan diri secara baik dengan lingkungan sosial dan masyarakatnya.

Gangguan emosi akan diperlihatkan dalam hubungannya  dengan orang lain dalam bentuk seperti kecemasan, agresif, dan impulsif.Anak tunalaras memiliki penghayatan yang keliru, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungan sosialnya. Mereka menganggap dirinya tidak berguna bagi orang lain dan merasa tidak berperasaan. Oleh karena itu timbullah kesulitan apabila akan menjalin hubungan dengan mereka, ingin mencoba mendekati dan menyayangi mereka, dan apabila berhasil sekalipun  mereka akan menjadi sangat tergantung kepada seseorang yang pada akhirnya dapat menjalin hubungan sosial dengannya.

8. Dampak Ketunalarasan Bagi Individu dan Lingkungan

Kelainan tingkah laku yang dialami anak tunalaras mempunyai dampak negatif baik bagi dirinya sendiri maupun lingkungan sosialnya. Salah satu dampak serius yang mereka alami adalah tekanan batin berkepanjangan sehingga menimbulkan perasaan merusak diri mereka sendiri.

Mengenai tekanan batin yang berkepanjangan ini menurut Schloss ( Kirk & Gallagher, 1986 ) disebabkan oleh hal – hal berikut :

Ketidakberdayaan yang dipelajari ( learned helplessness )

Keterampilan sosial yang minim ( Sosial skill deficiency )

Konsekuensi paksaan ( Coercive consequences )

Menghadapi keadaan di atas, kita hendaknya dapat mempengaruhi lingkungan mereka, mengajar dan menguatkan keterampilan sosial antar pribadi yang lebih efektif , serta menghindarkan mereka dari ketergantungan dan penguatan ketakberdayaan.

Bahwa perilaku menyimpang pada anak tunalaras merugikan lingkungannya kiranya sudah jelas dan seringkali orang tua maupun guru merasa kehabisan akal menghadapi anak dengan gangguan perilaku seperti ini.

Saat Libur Tiba, Lebih Baik Tidur atau Olahraga?

Tanya Terapis

Menurut para pakar, tidur seharian saat libur tidak terlalu bermanfaat untuk menebus kekurangan tidur sehari – hari. Tidur terlalu lama dalam satu waktu hanya akan membuat tubuh terasa lemas, denyut jantung menurun, dan seperti kehilangan semangat hidup. Terlalu sibuk tidak isa dijadikan alasan karena hal itu memang tidak terhindarkan. Yang bisa dilakukan adalah mengatur siasat, antara lain dengan curi – curi waktu untuk tidur siang. Di sela – sela bekerja, atau selama dalam perjalanan. Itu pula sebabnya, naik kendaraan umum lebih dianjurkan karena tidak mungkin tidur saat sedang berkendara. Fakta berikutnya adalah, menghabiskan waktu seharian untuk olahraga juga akan berdampak pada kelelahan otot yang berlebihan. Organisasi kesehatan dunia (WHO) manganjurkan aktivitas fisik dengan intensitas sedang selama 150 menit dalam sepekan, yang artinya hanya sekitar 30 menit dalam sehari. Kesimpulannya, waktu sehari sudah lebih dari cukup untuk bisa mengerjakan keduanya sekaligus; tidur dan olahraga.

Apakah Olahraga Pengaruhi Kebiasaan Makan?

Tanya Terapis

“Masyarakat dewasa ini, dengan lingkungan kerja seperti saat ini, lebih banyak dan membutuhkan kinerja otak yang tinggi,” kata peneliti William Neumeier,”akibatnya, begitu jam istirahat tiba, si pekerja kantoran, misalnya, akan mengkonsumsi makanan lebih banyak dari porsi biasanya, dan mereka cenderung makan di tempat atau enggan meninggalkan mejanya. Jika kebiasaan ini diiarkan dan berlarut – larut maka bisa memicu obesitas.” Menurut Neumeier dari University of Alabama, hasrat makan besar ini dapat disiasati dengan berolahraga. Kesimpulan ini didapat setelah peneliti melakukan percobaan dengan melibatkan sejumlah mahasiswa. Masing – masing dari mereka diminta menyelesaikan tes yang menguras otak. Setelah itu mereka diberi kesempatan untuk erolahraga atau beristirahat selama 15 menit. Seluruh responden kemudian ditraktir makan siang dengan menu all you can eat. Didapati bahwa mahasiswa yang berolahraga makan leih sedikit daripada yang beristirahat. Hal ini terjadi karena salah satu sumber energi otak yang bernama laktat dan dihasilkan saat melakukan aktivitas fisik yang intens mampu ‘mengisi ulang’ energi di otak yang habis setelah mengerjakan tes. Dengan begitu, yang bersangkutan  juga tak punya keinginan untuk makan berlebihan.